At 09:14 PM 1/22/1999 +0700, you wrote: Anda itu pura-pura nggak ngerti atau sok kuper sih? Punya sodara di Ambon nggak? Udah inlok ke sana? Sekarang korban tewas sudah 250 lebih, matinya penggal-penggalan, persis seperti ribut Dayak-Madura tempo hari. Tentu saja ada provokatornya, as usual. Ada avonturir ngasih kabar: "Ada gereja dibakar!" sementara di desa muslim: "Ada mesjid dibakar, sekian orang dipenggal!" Para ulama dan pendeta mati-matian menahan warganya agar tidak keluar rumah, tapi hanya sebagian yg mempan. Ini saya DENGAR dg kuping saya sendiri. Saya seorang muslim, punya abang di Ambon yg menikah dg orang Kristen, adiknya pendeta. Dari pendeta itu saya dapat kabar. Sekarang tiap keluarga menyimpan pedang. Suasana mengerikan. Gubernur Maluku yg Islam sipil dg wakilnya militer (perempuan!) Kristen bingung mengendalikan keadaan. Tentara terpaksa menembak karena penduduk kedua kubu merangsek masuk ke daerah "lawan". Saat ini penduduk apalagi yg cewek diungsikan ke barak tentara (sejauh ini tentara netral), biasalah, menghindari kasus perkosaan ala Mei. Bahan makanan habis, di rumah abang saya hanya tersisa sekardus indo mie. Sementara di rumah sakit tentara, hanya bubur tanpa lauk yg bisa diberi pada pasien. Itu di rumah sakit tentara, entah bagaimana di RS biasa. Jangan pula dibayangkan kondisi ibu bersalin, pasien jantung atau bayi-bayi yg lahir prematur. Nah, ketimbang Anda bolak-balik heran (kerusuhan gini kan tradisi Orba!), bagaimana jika Anda berusaha agar kerusuhan tidak terjadi di daerah Anda? Salam, >Baru saja sebagian besar penduduk bangsa kita baru menunaikan lebaran. >Eh malah ada keributan lagi di Indonesia ini. Seperti di >ambon,cirebon,dll. Malah itu diselesaikan dengan adu otot pakai senjata >tajam lagi. Apa tidak adakah perasaan mereka sedikit pun bila senjata >atau batu yang mereka lemparkan itu melukai orang lain. --------------------------------------------------- Get free personalized email at http://www.iname.com ______________________________________________________________________ To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED] To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!
