>Bung Harun,
>kenapa mesti japri? :-)
>Bagi aja di sini, biar dibaca rame2. Ada apa emangnya?
>
Wah... terima kasih sekali kalau kuli-tinta mau memuat naskah pidato Theo...
mulanya saya khawatir posting tersebut dikembalikan lagi... Maaf untuk
keterlambatannya, di kampung saya nggak ada modem & komputer nih...
Selamat membaca !
===================================================
Assalammualaikum ww.
Kalau ada diantara rekan-rekan yang pingin tahu isi pidato Theo Syafei
(bekas Pangdam Udayana) silahkan dibaca naskah berikut ini.Wassalam,GUN
------ Forwarded Message Follows -------
Date: Wed, 06 Jan 1999 22:50:58 +0000
From: Nizma Agustjik <[EMAIL PROTECTED]>
Reply-to: [EMAIL PROTECTED]: [EMAIL PROTECTED]
Cc: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: Ceramah Mantan PangdamTENTANG HABIBIE,REPUBLIK AGAMA,
DAN ISLAM DI BALIK KERUSUHANPengantar Redaksi
Berikut ini adalah transkip lengkap pidato Mayjen (Pur) Theo Sjafei di
hadapan aktivis gereja, yang kasetnya beredar luas di Kupang menjelang
Tragedi 30 November 1998. Redaksi memperoleh kaset pidato ini dari
seorang aktivis gereja Kupang. Redaksi sengaja menurunkan lengkap
transkrip pidato tersebut untuk memberi gambaran utuh tentang apa saja
yang telah disampaikan Theo Sjafei. Karena itu tidak ada editing
redaksional yang cukup berarti dalam tulisan ini. Redasi menambahkan
anak judul untuk setiap persoalan guna memudahkan pembaca mengikuti
pidato yang cukup panjang ini.Tentang Penyebaran Agama Kristen di
Indonesia
Saudara-saudara yang saya kasihi dalam Kristus. Saya akan coba
menyampaikan peta politik Indonesia sekarang ini dan menuju ke tahun
depan, tahun pemilu, apabila pemerintah itu siap untuk melaksanakan
pemilu. Tetapi sebelum saya sampai pada peta politik hari ini, kita
kembali dulu di tahun 1511.
Tahun 1511 Portugis mendarat di Ambon. Portugis yang mendarat di Ambon
itu mendapat dua mandat, satu mandat dari Raja di Portugis, dan satu
mandat dari Paus di Roma. Mandat dari Raja Portugis untuk mengambil dan
memonopoli rempah-rempah. Mandat dari Paus di Roma, untuk membawaterang
ke bumi wilayah yang masih gelap ini. Dan dalam membawa terang itu,
manusia-manusia yang ada di Nusantara ini, apabila tidak takluk, dia
dapat dibunuh. Itu adalah teologia di abad ke-15 dan ke-16.
Karena itu, ketika Portugis datang ke sini, dia lalu melihat, bahwa di
pesisir-pesisir Nusantara sudah banyak sekali terbentuk
kerajaan-kerajaan kecil Islam. Kristen sampai ke Indonesia secara fisik
itu di tahun 1511, ketika Portugis datang. Kita tidak tahu, mengapa
Rasul Tomas itu bisa berhenti sampai 14 abad lamanya. Rasul Tomas itu
sudah bergerak sampai di India. Tetapi kemudian, kekristenan itu
berhenti di sana, tidak dapat menembusnya. Sedangkan Islam yang baru
muncul beberapa abad kemudian, mendahului masuk ke Nusantara melalui
pedagang-pedagang dari Gujarat. Malah, kekristenan itu tidak datangnya
dari India, tetapi malah datangnya dari Eropa, melalui Portugis,
Inggris, dan Belanda.
Jadi, ketika Portugis tiba di sini atau kekristenan itu tiba di
Indonesia, mereka menemukan raja-raja kerajaan Islam, dan
kerajaan-kerajaan Islam itu yang menguasai Nusantara, lalu terjadilah
pertempuran-pertempuran. Perang ini oleh Portugis dianggap sebagai
pertempuran suci, perang Suci, kecuali untuk merebut rempah-rempah,juga
untuk menyebarkan agama Kristen. Dulu agama Kristen disebarkan dengan
perang.
Tahun 1512 Malaka ditaklukkan oleh Portugis. Ahir tahun 1590-an Belanda
datang. Belanda yang datang adalah yang sudah Protestan. Kekuatan
Protestan waktu itu sedang dikejar-kejar di Eropa. Karena itu mereka
lari ke Amerika. Kekuatan Protestan itu, Jerman menjadi Protestan,
Belanda menjadi Protestan, negara-negara Eropa bagian Utara menjadi
Protestan. Ketika mereka bertemu dengan Katolik Portugis di sini, lalu
yang Protestan itu menganggap Portugis yang Katolik itu adalahmusuhnya,
kemudian mereka bantai Portugis itu. 15.000 orang Katolik, orang asli
pribumi Katolik di Ambon, mereka habiskan dalam 1 malam. Jadisebetulnya
sejarah kekristenan itu juga bukan sejarah yang bersih dari darah.
Amerika itu terjadi seperti sekarang ini, karena juga orang-orang
Katolik. Kerajaan Katolik mengejar pengikut-pengikut Protestan Martin
Luther dan Calvin. Mereka lalu lari ke Amerika. Karena itu ketikasampai
di sana, ketika mereka mendirikan negara Amerika, ingatan orang-orang
Amerika yang pertama, bahwa kita sampai di sini karena masalah agama.
Karena itu negara yang kita dirikan, adalah negara yang tidak boleh
mencampuri masalah-masalah agama. Negara yang tidak boleh mencampuri
masalah agama ini kita kenal dengan sekuler. Amerika adalah negara yang
sekular. Dia tidak mau mencampuri masalah agama. Tapi bukan anti agama.
Jadi ada negara yang non-sekuler, dan ada negara yang sekuler.
Saya kembali ke Belanda yang masuk ke sini. Belanda yang masuk ke sini
kemudian mengalahkan Portugis, dan untuk mengalahkan Portugis, ia
bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan kecil Islam. Lalu setelahPortugis
bisa dia hancurkan, kemudian kerajaan-kerajaan kecil ini diadu sesama
mereka, lalu kemudian jadilah mereka kekuatan yang menguasai seluruh
Nusantara, karena berhasil melakukan divide et impera.
Tentang Islam yang Galau dan Selalu Berontak
Ini artinya, bahwa ketika abad ke-7, Sriwijaya menguasai Nusantara
sampai ke daerah Muangthai, maka Sriwijaya menguasai Nusantara dengan
filosofi dasarnya itu adalah Budha. Ketika Sriwijaya turun, naik
kerajaan Majapahit yang berpusat di Singosari Jatim. Filosofi dasarnya,
mereka menguasai Nusantara itu, dengan filosofi Hindu. SetelahMajapahit
turun, maka yang menggantikan kekuatan Majapahit di Nusantara, filosofi
berikutnya itu bukan filosofi Islam, tetapi filosofi Kristen yangdibawa
oleh kolonial Belanda.
Jadi, kaum mayoritas Islam, atau Islam itu tidak pernah memegang peran
sentral di Nusantara, di Indonesia ini. Tidak pernah UU diberlakukan
menurut pikiran-pikiran Islam, tetapi menurut pikiran-pikiran Kristen.
KUHAP yang kita punyai, KUHP yang kita punyai, dimasa lalu, itu
landasannya adalah landasan kekristenan. HAM yang kita punya, ituadalah
filosofi Kristen.
Jadi yang menggantikan Budha, Hindu, itu bukan Islam tetapi Kristen.Dan
ini membuat orang Islam galau. Mengapa kami yang bagian terbesar yang
hidup di Nusantara ini tidak bisa mengatur Indonesia ini denganfilosofi
Islam. Kenapa Kristen yang harus menjadi.
Ketika Belanda dan Jepang turun, maka yang mengganti kemudian di
Indonesia itu bukan Islam, tetapi Pancasila. Sekarang ini filosofi yang
kita pakai adalah filosofi Pancasila, dan ini menambah galaunya orang
Islam. Kenapa bukan Islam yang dipakai. Ketika BPUPKI dibentuk oleh
Jepang, ketuanya adalah RM Widijodiningrat. BPUPKI anggotanya 60 orang.
Wakil ketuanya orang Jepang 2 orang. Di dalam 60 orang itu ada 5 orang
Cina dan 2 keturunan Arab. Di dalamnya ada 14 atau 15 orang yang
beragama Kristen Katolik dan Protestan.
Ketua BPUPKI bersidang tanggal 29, 30, 31 Mei dan 1 Juni 1945 ada 46
anggota yang bicara. Prof. Dr. Soepono, pembicara yang ke-41mengatakan:
Saudara-saudara, negara Indonesia yang akan kita bangun itu haruslah
negara yang mengatasi semua perorangan dan semua golongan. Negara yang
akan kita bangun ini tidak boleh berdasarkan pada kekuatan golonganatau
pada kekuatan kita yang terbesar. Negara ini haruslah negara yang
mengatasi semua golongan dan semua perorangan. Negara ini disebutnegara
persatuan, negara integralistik, negara kekeluargaan. Itu salah satu
bagian pidatonya Soepomo.
Kemudian Soepomo melanjutkan, kepada yang terhormat Saudara-saudarayang
menginginkan negara ini dibangun di atas dasar Islam, walaupn Islam itu
bisa mengatur sebaik-baiknya kehidupan warga negaranya, tetapitentulah,
kata Soepomo, mereka agama yang kecil-kecil itu tidak pernah merasakan
bahwa negara ini adalah negaranya, karena negara ini dibuat dan
didasarkan atas dasar Islam. Artinya itu saudara-saudara, walaupunIslam
merupakan bagian yang terbesar daripada negara kita ini, kita tidak
boleh mendirikan negara ini berdasarkan Islam, tetapi kita harusmembuat
satu negara yang mengatasi semua goongan dan mengatasi semuaperorangan,
negara itu adalah negara persatuan, negara integralistik, negara
kekeluargaan.
Ini pidato yang ke-41 Prof Dr Soepomo. Bayangkan di tahun 1945 sudahada
profesor doktor dalam bidang hukum. Kemudian, pidato yang ke-46 tanggal
1 Juni adalah pidatonya Bung Karno. Karena itu, kata Bung Karno, dasar
negara yang akan kita buat itu saya sebut Pancasila. Yang pertama,
silanya adalah sila kebangsaan. Yang keduanya, sila mufakat. Yang
ketiga, silanya adalah sila internasionalisme, kemanusiaan. Yangkeempat
silanya adalah keadilan sosial. Dan yang kelima silanya adalahKetuhanan
Yang Maha Esa. Kebangsaan oleh Bung Karno ditempatkkan yang pertama,
karena melihat bahwa bangsa ini perlu bersatu.
Kemudian dibentuklah Panitia 5, yang dipimpin Bung Hatta. Untuk
merumuskan kembali Pancasila. Di dalamnya ada dua yang Kristen, satu
Maramis, satunya tokoh dari Jawa. Kemudian oleh Bung Hatta, disusunlah
itu (menjadi) Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan
Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmatdalam
Permusyawaratan Perwakilan, dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat
Indonesia.
Jadi dimulai Tuhan Yang Besar sekali. Kemudian, sesudah ketuhanan yang
begitu besar dan tidak dapat dijangkau oleh pikiran oleh perasaan, oleh
panca indera kita, diturunkan itu menjadi kemanusiaan, kemanusiaan di
seluruh muka bumi, manusia sebagi satu spesies makhluk tertinggi
martabatnya. Baru setelah manusia seluruh dunia itu, baru turun menjadi
persatuan Indonesia. Baru kemudian dalam persatuan itu harus kita
lakukan dalam kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan. Dan
kemudian ada keadilan sosial.
Inilah yang membuat kenapa umat Islam itu begitu galau. Mereka yang
bagian terbesar dari republik ini tetapi tidak pernah meletakkan
dasarnya untuk republik ini. Tidak pernah berhasil. Ketidakberhasilan
mereka di 17 Agustus 1945, yang kemudian tanggal 18 UUD-nya disahkan
digabungkan dengan Pancasila, lalu membuat mereka memberontak.
Pemberontakannya itu adalah pemberontakan DI/TII, Darul Islam/Tentara
Islam Indonesia. Mereka berkehendak mendirikan negara Islam Indonesia
dengan imam besarnya adalah Kartosoewirjo, pimpinan DI/TII di sini. PM
dan Menhannya adalah Kahar Muzakar, pimpinan DI/TII di Sulsel. Ibnu
Hajar adalah Mendagrinya pimpinan DI/TII di Kalimantan Selatan, dan
Daoed Beureueh pimpinan DI/TII di Aceh. Ini adalah pemberontakan Islam.
(bersambung)
Tentang Islam yang Membuat Berbagai Kerusuhan
Kemudian di tahun 1955 diadakan pemilu di Indonesia. Pemilu ini kecuali
memilih DPR juga memilih Konstituante. Tapi Dewan Konstituante yang
diwajibkan untuk membentuk konstitusi negara, menggantikan UUD 1945.
Konstituante ini kemudian bersidang selama 4 tahun dari tahun 1955
sampai tahun 1959, dan tidak pernah bisa bersepakat membentuk dasar
negara, apakah dasar negara itu nasional, Pancasila, ataukah Islam.
Selalu kalau dalam pemilihan suara, tidak pernah dicapai kata sepakat
untuk mendapatkan dasar negara. Kemudian Abdul Haris Nasution, Pangab
waktu itu, mengusulkan, supaya kita tidak usah lagi bicarakan tentang
ini, kita kembali saja ke UUD 1945, tanggal 5 Juli 1959.
Kalah lagi Islam. Tiga kali Islam kalah berturut-turut. Dan
kekalahannya
ini, baik secara pemberontakan bersenjata maupun secara konstitusional
dalam dewan-dewan yang sah, itu tidak membuat Islam itu selesai. Mereka
masih ada Warsidi, mereka masih ada Tanjung Priok, mereka masih ada
pemboman BCA, mereka masih melaksanakan pemboman Borobudur, masih
membunuh pendetanya gereja Anglikan; Situbondo, Tasikmalaya segala
macam
itu masih dibuat oleh Islam, untuk memperlihatkan
kekecewaan-kekecewaannya.
Tetang Strategi HMI: Pembusukan dari Dalam
Makin-makin Islam itu kecewa, ketika di tahun 1978 di dalam GBHN
dikatakan, bahwa seluruh Ormas dan Orsospol dalam negara RI, harus
asasnya tunggal, Pancasila. HMI ketika itu menolak asas tunggal, lama
sekali. Himpunan Mahasiswa Islam, HMI itu tidak pernah berkehendak ia
dinamakan Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia. HMI selalu mengatakan,
kami adalah HMI, tidak pakai Indonesia di belakangnya. Karena dia
adalah
bagian Pan-Islamic, satu perjuangan Islam di seluruh dunia. Ini adalah
penolakan HMI.
Lalu HMI yang menolak ini, melaksanakan tiga kali muktamarnya. Dan pada
muktamar yang ketiga, kemudian Akbar Tanjung , yang mantan ketua HMI,
tapi waktu itu adalah ketua KAHMI - KAHMI itu adalah kesatuan alumnus
HMI - berpidato di Medan. Dia mengatakan begini, kalau HMI tidak
menerima asas tunggal, maka kalian sebagai ormas itu menjadi tidak sah.
Kalau kamu tidak sah sebagai Ormas, maka perjuangan Islam itu harus
dilaksanakan di luar sana, di perimeter-perimeter yang paling tepi,
yang
paling pinggir. Kapan kalian bisa di sentral power, di sentral
kekuasaan. Mari kita terima asas tunggal Pancasila ini sebagai taktik,
agar kita bisa masuk ke dalam Golkar, masuk ke dalam pemerintahan, dan
kemudian melakukan pembusukan-pembusukan dari dalam. Dan itulah yang
dilaksanakan oleh KAHMI, oleh unsur-unsur HMI.
Kemudian mereka membuat ICMI, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia,
dengan alasan bahwa Kristen membuat PIKI, Persekutuan Intelegensia
Kristen Indonesia. Dan Katolik membuat ISKI, Ikatan Sarjana Katolik
Indonesia. Kenapa kita tidak bisa membuat ICMI. Jadi kitalah sebetulnya
yang salah langkah membuat PIKI, membuat ISKI. Sehingga ketika mereka
membuat ICMI tidak ada yang bisa mencegah.
ICMI didapuri selama 2 tahun. Tokoh yang mendapurinya adalah Prof Dr
Imadudin. Imadudin ini ketikan tahun 1980 sekian, ketika ICMI itu
terbentuk, ditanya kenapa bukan kalian-kalian yang mendapuri ICMI yang
duduk sebagai ketua ICMI, kenapa kalian relakan kepada Habibie. Habibie
kan kita tidak kenal keislamannya dengan betul. Jawab mereka, karena
Habibie adalah orang atau figur yang paling bisa kita manfaatkan.
Karena
dia sudah dekat dengan sentral power. Dan dari Habibie ke-Islam di
bawah
itu harus melalui ICMI. Sebab ICMI itu punya mekanisme tersendiri.
Habibie itu cuma simbol, lambang di atas. Kemudian ICMI itu makin lama
makin banyak. Dalam Golkar, dalam pemerintahan, dalam kabinet yang lalu.
Lalu Soeharto merasa bahwa dia punya kepemimpinan sebagai presiden itu
harus diletakkan dalam tiga kaki. Satu kaki Golkar, karena ABRI sudah
ada dalam Golkar. Oleh Hartono dikatakan bahwa ABRI adalah kader-kader
Golkar, Hartono sudah memakai pakaian kuning sebagai KSAD, sebagai
kader
Golkar. Yang kedua Pak Harto merasa bahwa dia sudah bisa mengatur RI
dengan kaki yang kedua adalah konglomerat. Dan dia sendiri merasa
sebagai pribadi sudah punya yayasan-yayasan yang cukup besar, dan
yayasan-yayasan itulah yang membiayai Golkar. Jadi itu bukan uang yang
ada di dalam Golkar sendiri, tetapi uang dari luar Golkar. Yayasan
Dakab
itu, berapa keinginannya Golkar, Pak Harto membiayainya.
Dengan demikian, kalau Golkar itu programnya tidak sesuai dengan yang
diinginkan Pak Harto, uangnya tidak diberikan. Pak Harto merasa bahwa
ia
sudah memegang segala macam itu. Dia sudah memegang sembilan bahan
pokok, ia sudah memegang industri-industri strategis, pesawat terbang,
kapal, kereta api dan besi. Tinggal satu lagi kekuatan, dan kekuatan
yang ketiga itu adalah kekuatan Islam.
Di awal Orba, Pak Harto dengan tiga kakinya adalah teknokrat, ABRI dan
pemerintahan sipil. Teknokratnya, Ali Wardana cs, Radius Prawiro cs,
Frans Seda cs, Itu adalah teknokrat yang dipakai oleh Pak Harto. Hampir
semua rektor dan dekan ditarik ke dalamnya. Itu pada awal Orba. Tetapi
di akhir Orba, teknokrat-teknokrat itu, rektor-rektor itu sudah tidak
lagi dianggap, karena seluruh profesor sudah ada dalam kabinet.
Nah Islam yang dipakai oleh Pak Harto ini adalah Islam yang tadi
dikatakan oleh Akbar Tanjug, adalah Islam yang melaksanakan pembusukan
dari dalam. Islam ini kemudian mengatakan begini: mari kita dorong
Soeharto itu, presiden ini, sebagai Bapak Pembangunan, satu-satunya
yang
paling mampu membangun di Indonesia adalah Soeharto. Mari kita dorong
dia supaya dia menjadi bapak yang paling benar di seluruh Indonesia.
Supaya nanti kalau ada kesalahan di republik ini, maka satu-satunya
yang
paling salah adalah Soeharto. Dan itu terjadi hari ini.
Tentang "Brutus" Habibie
Sekarang ini, itu sudah terjadi. Dan kita melihat, ketika Pak Harto
akan
mundur tanggal 20 Mei malam. Ini ceritanya Sudharmono kepada saya.
Malam
itu sehabis maghrib, saya dari Imam Bonjol dari rumah, saya dipaggil ke
Cendana. Lalu Pak Harto mengatakan, tanggal 20 Mei itu, nanti hari
Sabtu
akan saya umumkan Komite Reformasi Nasional. Di dalam Komite itu duduk
antara lain Megawati, Gus Dur, Amien Rais, ketua KWI, ketua PGI, empat
puluhlima orang banyaknya. Lalu Pak Dharmono mengatakan, Pak, nanti
kalau itu akan diumumkan, harus dicek betul-betul bahwa dari 45 orang
ini tidak ada yang menolak untuk duduk.
(Kata Pak Harto) Ya, ya, sudah saya katakan itu pada Saadilah Mursyid,
supaya dicek di telepon satu-satu. Kemudian, hari Sabtu itu juga akan
saya umumkan reshufle kabinet, kata Pak Hato kepada Sudharmono. Dalam
reshuffle kabinet ini, semua orang yang disorot dengan keras oleh
masyarakat akan saya keluarkan. Bob Hasan saya keluarkan. Hartono saya
keluarkan, Tutut saya keluarkan, Alawiyah saya keluarkan. Semua yang
disorot dengan keras akan saya keluarkan. Dan pembicaran itu selesai
sesudah maghrib sampai kira-kira jam 8 malam.
Ketika Pak Dharmono keluar, dia masih bertemu dengan wakil presiden
Habibie, di ruang tunggu. Mereka salaman, Habibie membawa map. Kemudian
map itu dibawa oleh Habibie ke dalam. Kemudian kira-kira jam 10 malam,
Pak Dharmono ditelepon oleh Saadilah Mursyid, "Pak! Pak Harto sudah
memutuskan, besok akan mengundurkan diri." Kata Pak Dharmono, "Kenapa?
Tadi itu masih bicara tentang Komite Reformasi Nasional, masih bicara
tentang reshuffle kabinet yang akan dilaksanakan hari Sabtu."
Habibie membawa map yang isinya 14 orang menteri menarik diri,
berkeberatan untuk duduk, baik di kabinet sekarang maupun di kabinet
yang akan datang, kalau dipimpin oleh Pak Harto. Lalu, Pak Harto yang
gundah ini, lalu mengatakan, "Baik kalau begitu. Kalau
Brutus-Brutus=85." =
Brutus adalah yang menusuk Julius Cesar. Padahal, Habibie itu seperti
Brutus, dia dibesarkan oleh Julius Cesar, dari anak pinggiran dijadikan
panglima, dialah yang menusuk Julius Cesar.
Saya jam 10 ditelepon Pak Dharmono. Jam 10 lewat 10 menit, Saadilah
Mursyid menelepon Pak Try Sutrisno. Saya waktu itu berada di rumahnya
Pak Try Sutrisno, karena saya adalah sekretaris politiknya. Malam itu,
kita baru mengirimkan surat kepada Presiden, memberitahukan bahwa
"Keadaan sudah begini - begini di luar. Kami sarankan Bapak mengambil
langkah ini - ini." Malam itu suratnya dibawa kurir. Sebelum jam 7
sudah
sampai di tempatnya Pak Saadilah Mursyid, untuk diteruskan kepada
Presiden. Kira-kira jam setengah delapan, Saadilah menelepon Pak Try
Sutrisno "Suratnya sudah sampai kepada Bapak dan sudah dibaca oleh
Presiden Soeharto." Tetapi ketika Brutus (Habibie) itu datang, besoknya
kemudian terjadilah penyerahan kekuasaan.
Tentang Muhammadiyah Fundamentalis
Jadi, kita lihat di sini, bahwa memang Islam itu sangat galau kenapa
negara ini tidak berdasarkan Islam. Islam yang sangat galau ini bukan
Islam keseluruhannya. Islam yang sangat galau ini adalah Islam yang
fundamental. Islam itu ada dua. Satu Islam yang fungsional, yang
memperjuangkan supaya fungsi-fungsi Islam itu dilaksanakan di dalam
keadilan sosial, di dalam kesejahteraan, di dalam kesehatan, di dalam
makanan. Islam yang fungsional itu tecermin dari mereka yang ada di NU.
Sedangkan Islam yang politik, yang ingin benderanya berkibar sebagai
kekuatan, itu Islam yang berada di ICMI, dan Islam yang berada di
setengah dari Islam Muhammadiyah.
Amien Rais adalah ketua Muhammadiyah, tetapi dia masuk sebagai ketua
Muhammadiyah dalam Muktamar di Aceh dengan pembiayaan yang sangat besar
dari ICMI untuk mengalahkan Lukman Harun cs. Kemudian ia menjadi ketua
Muhammadiyah, agar supaya kelihatan bahwa ICMI didukung oleh aliran
Muhammadiyah.
Bedanya dengan NU, apabila ada persoalan di luar, tentang haram atau
halal, tentang sah atau tidak sah, aliran Muhammadiyah mencari
pembenaran dalam Al Quran dan hadits. Al Quran itu adalah buku yang
begitu tipis, hanya 30 juz isinya. Hadits itu adalah
perbuatan-perbuatan
Nabi dan sahabat-sahabat Nabi ketika mereka masih hidup, yang kemudian
diingat-ingat, bahwa perbuatan itulah yang harus dicontoh apabila kita
tidak menemukan jawabannya di Quran. Tidak seperti Alkitab kita. Semua
kita bisa cari jawabannya di Alkitab. Di Quran tidak.
Jadi kalau Muhammadiyah mencari pembenarannya itu di Quran dan di
hadits. Kalau NU, Islam yang tradisional, mencari pembenarannya itu
dari
yai-kyai mereka yang tua, yang lama, yang mereka katakan, kita kembali
kepada khittah tahun 1926. Ada mereka buat buku tentang
perbuatan-perbuatan kyai-kyai di Indonesia dan sebelumnya. Jadi kalau
ada persoalan di masyarakat, mereka cari ke dalam buku kuning. Buku
Khittah tahun 1926.
Artinya NU mencari jawabannya itu di dalam tradisi Indonesia, di dalam
akar rakyat Indonesia. Muhammadiyah mencari pembenarannya itu di dalam
tradisi dan akar di negeri Arab.
Tentang Jilbab Kelakuan Orang Arab
Karena itu bagi Muhammadiyah, memakai pakaian yang menutup seluruh
tubuh, itu diperlukan, karena ini adalah kelakuan orang Arab di sana.
Kenapa kelakuan ini dilakukan di sana? Itu bukan dilaksanakan oleh
Islam
saja di sana, tetapi juga dilaksanakan oleh orang kafir di sana,
pakaian
yang seperti itu.
Mengapa pakaian itu harus dipakai? Satu karena sengatan matahari yang
terlalu besar. Dua, di malam hari, terjadi pemurunan temperatur yang
begitu dingin sehingga memang diperlukan pakaian yang sampai ke bawah.
Yang ketiga, debu yang terbang itu adalah butir-butir pasir, yang
sangat
membahayakan terhadap kulit dan terhadap mata seseorang, sehingga
pakaiannya memang harus demikian. Di Indonesia kan tidak perlu begitu.
Panasnya tidak menyengat, malamnya tidak terlalu dingin, dan tidak ada
debu pasir, tidak ada badai pasir yang sewaktu-waktu bisa terbang.
Ada lagi alasan yang lain dari kelompok Islam ini. Bahwa pakaian yang
seperti itu, untuk melindungi dari kaum kafirin Memang di zaman Islam
mulai bertumbuh, di sekitarnya itu adalah kaum kafirin. Yang kalau
melihat wanita, merebut dan memperkosanya. Lalu, kata mantan Menteri
Agama Munawir Sjadzali, istri saya ini tidak pakai jilbab, dia cuma
pakai rok yang panjang, dia tidak perlu disembunyikan wajahnya dan
kecantikannya dari masyarakat, karena masyarakat ini bukan masyarakat
kafir, masyarakat ini adalah masyarakat beradab, masyarakat Islam.
Tetangga saya itu Islam, karena itu saya tidak usah menutup kecantian
istri saya. Dulu itu dilaksanakan di Arab, karena masyarakat di
sekitarnya adalah masyarakat kafir, yang kecantikan itu bisa berbahaya
bagi keluarga itu. Karena saya tidak menganggap kalian ini kafir, maka
istri saya tidak perlu pakai jilbab. (Bersambung)
anjutanTentang Republik Agama (RepublikA)
Tetapi karena mereka hanya melihat pada hadits dan Quran maka itu harus
dilaksanakan. Di dalam hadits itu dikatakan, sebaik-baiknya kalian,
pilihlah pemimpin di antara kamu sendiri. Itu kata hadits. Jadi kalau
harus ada pemimpin di antara kamu, Islam, maka pemimpinnya mesti Islam.
Jadi kalau camatnya harus Islam, bupatinya harus Islam. Kalau bupatinya
harus Islam, maka gubernurnya harus Islam, presidennya Islam.
Siapa nanti di atasnya Presiden, ada MPR, ada GBHN, GBHN-nya harus
Islam. Dan GBHN Islam ini, itulah yang mereka akan buat, apabila mereka
menang dalam pemilu tahun 1999. Golkar, PBB, Partai Bulan Sabit kecil,
PUI, PNU, kalau itu semua menang, dan mereka akan menguasai MPR, maka
MPR yang di tahun 2000 nanti - kan 1999 menang dalam pemilu, tahun 2000
mereka bikin MPR, MPR membuat GBHN, GBHN kemudian akan memilih juga
presiden - maka presidennya pasti Islam, dan GBHN-nya adalah GBHN yang
menuju yang memberikan instruksi-instruksi tertentu, yang akan menuju
kepada Republika.
Republika, koran yang kita kenal itu, itu adalah "Republik Agama".
Seperti Kompas, adalah Komando Pastur. Republika adalah Republik Agama.
Jadi GBHN-nya itu akan menuju kepada Republika di tahun 2005. Jadi
sebagian perintah GBHN adalah membuat UU yang menetapkan
filosofi-filosofi Islam sebagai dasarnya. Di tahun 2005, merekaberharap
pemilu akan dimenangkan lagi, karena mereka sudah menang besok tahun
depan, 2005 akan terjadi lagi MPR yang akan makin mengentalkan
terjadinya republik Islam, republik yang berdasarkan Islam di tahun
2010.
Itu adalah skenarionya. Skenario yang mereka susun. Golkar pasti tidak
akan menang, sebab siapa saja yang nanti akan kampanye untuk Golkar,
nanti akan diteriakin dari bawah "Bohong lu!" Tidak ada satupunkekuatan
yang bisa mengelak. Karena itu Akbar Tanjung, karena itu ICMI,
mereka-mereka itu membentuk partai-partai Islam yang banyak, supaya
Golkar yang turun prosentasenya dari 74 %, yang mungkin menjadi 12 %,
itu bisa ditambah prosentasenya oleh PBB, Partai Bulan Bintang, olehPAN
Amien Rais, oleh PBSK, oleh PUI, oleh partai SUNI, oleh Masyumi Baru.
Karena kalau didapatkan 51 %, 52 %, 55 %, maka mereka akan menguasai
MPR, mereka bikin GBHN, mereka menunjuk presiden. Dan presiden yang
berikutnya itu bukan Habibie. Habibie mereka anggap terlalu pendek
menjadi presiden, terlalu banyak geraknya, terlalu bayak geraknya.
Seharusnya Habibie ini dikasih mikropon untuk mainan, untuk nyanyi.
Tentang Dwifungsi ABRI
Presiden akan datang itu terletak pada dua atau tiga: Akbar Tanjung,
Ahmad Tirtosudiro dan Sayidiman. Sayidiman dan Tirtosudiro inilah
sebenarnya desainer yang berada pada semua pemikiran-pemikiran itu.
Sekarang dengan sistematis mereka mengatakan bahwa ABRI itu busuk, ABRI
itu buruk, ABRI itu pembunuh, ABRI itu pelanggar HAM, semuadikembalikan
dengan secara demikian, mereka berharap nanti akan sampai kepada
pembentukan opini, di mana opini itu akan mengatakan bahwa ABRI itu
salah.
Kalau ABRI salah, maka Aceh Merdeka akan menjadi benar. Aceh Merdekaitu
adalah pemberontakan Islam. Kalau ABRI dituduh, diperlihatkan
kesalahan-kesalahannya kemudian, ABRI itu lalu kehilangan kemampuan
moral dan morilnya, yaitu mundur ke belakang. Kemudian ABRI itu
dihakimi, diadili oleh masyarakat, oleh opini masyarakat, maka nanti
yang benar, itu adalah pemberontakan-pemberontakan Islam. Warsidi di
Lampung, Amir Biki di Tanjung Priok, Aceh Merdeka di Aceh.
Kalau ABRI menyerah secara moril dan moral, maka ABRI ini lalu tidak
berani mempertahankan dwifungsinya. Dua fungsi ABRI, satu kekuatan
Hankam dan satu kekuatan sosial politik. Jadi ABRI punya sikap politik.
Sikap politik ABRI itu terletak pada sumpahnya, ABRI itu kan bersumpah,
sumpahnya ABRI itu namanya Sapta Marga. Tujuh Marga. Di Marga
kesatu, ABRI itu mengatakan: Kami warga negara kesatuan Republik
Indonesia, yang sendinya Pancasila. Di Marga kedua, ABRI mengatakan:
Kami patriot Indonesia yang mempertahankan ideologi negara dan UUD.
Jadi sikap politik ABRI itu, satu, negara ini harus negara kesatuan RI.
Kedua, negara ini harus negara Pancasila. Itu sikap politik ABRI,
sumpahnya ABRI. Jadi fungsi keduanya ABRI, fungsi sospolnya ABRI adalah
itu, negara keatuan RI. Pancasila, ideologi negara harus Pancasila.Jadi
kalau ABRI sekarang ini dengan sistematis sudah makin didorong untuk
kalah secara moril dan moral, kemudian ABRI melepaskan dwifungsinya,
maka artinya ABRI melepaskan dirinya untuk mempertahankan negara
kesatuan, mempertahankan Pancasila, mempertahankan ideologi negara
Pancasila.
Kalau negara ini tidak punya ideologi, tidak punya dasar, karena
Pancasila tidak ada yang mempertahankan - negara itu kan harus ada
dasarnya - lalu ditawarkan siapa yang bisa memberikan kepada kita dasar
negara yang baru, karena Pancasila sudah tidak dapat diterima sebagai
asas tunggal dan sebagai dasar negara? Ideologi mana yang ada sekarang
ini kecuali Pancasila, yang ada sekarang ini cuma ideologi Islam. Kita
tidak berani, dan tidak bisa, dan tidak mungkin, kita mengatakan kita
pakai ideologi Marx, mari kita pakai ideologi sosial komunis, tidak
mungkin. Sesuatu yang sudah kita kutuk.
Jadi kalau Pancasila itu berhasil dijatuhkan, dengan menjatuhkan ABRI
supaya tidak punya lagi dwifungsi, maka tidak ada lagi kekuatan yang
bisa mempertahankan negara kesatuan dan negara Pancasila ini. Dansecara
sistematis, ABRI disudutkan ke sana, karena ekses-ekses politiknya,
karena ekses-eksesnya di bidang pendekatan keamanan.
Padahal yang melaksanakan penculikan (adalah) Prabowo betul, Sjafrie
betul. Tetapi pelaksana di bawah, pem-"back up" di belakang =85
Karenaitu=
dalam dua terbitan Tabloid ADIL hari ini, bahwa di belakang Prabowoyang
masih muda itu, ada Benny Moerdani, supaya tuduhan itu tidak jatuh
kepada KISDI yang Islam, tetapi kepada Benny Moerdani yang Katolik.
Tentang Pertanggungjawaban Soeharto
Ini yang kita hadapi hari-hari ini. Ini yang kita hadapi bahwa SI MPR
nanti, itu SI yang mencabut Tap No. III yang mencabut Tap tentang
pengangkatan Presiden Soeharto, dan kemudian mengangkat Habibie,
kemudian mencabut Tap tentang Pemilu tahun 2002, dan menggantikannya
dengan Tap Pemilu 1999. Kenapa cuma dua ini. Kenapa kita tidak boleh
meminta Soeharto bertanggung jawab di depan MPR. Ketua jemaat sajakalau
meminta pengunduran diri, itu ditanya, kenapa you mengundurkan diri,apa
gajimu kurang.
Ini seorang Presiden Soeharto. Sekarang ini sedang diopinikan, agar dia
memberikan pertanggungjawaban di MPR. Kalau pak Harto memberikan
pertanggungjawaban, ada dua kemungkinan pertanggungjawabannya itu.Satu,
dia berbicara sejujur-jujurnya. Kalau dia bicara sejujur-jujurnya,
Habibie segala macam di dalam kabinetnya sekarang, itu juga adalah
rezimnya Soeharto. Ini juga bisa jatuh. Kalau dia bicara
sebohong-bohongnya, sekuat-kuatnya berbohong Soeharto untuk melindungi
Habibie, itu sekarang ini tidak lagi mungkin bisa. Karena sudah begitu
banyak file, sudah begitu banyak arsip yang terbuka, sudah begitubanyak
rekayasa yang kelihatan.
Karena itu, rezim Habibie ini sangat kuatir, kalau Soeharto oleh opini
rakyat, diminta untuk memberikan pertanggungjawaban. Pertanggungjawaban
macam apa yang bisa dia berikan. Barangkali pertanggungjawaban yangbisa
diberikan adalah seperti pertang-gungjawaban Bung Karno. Bung Karno
memberikan pertanggungjawaban itu cuma di dalam sembilan aksara
(Nawaksara).
Inilah yang harus kita buat. Supaya opini rakyat begitu kuat mendorong
dan mendesak, Soeharto harus memberikan pertanggungjawaban. Kalau
Soeharto tidak memberikan pertanggungjawaban, akan menjadi preseden.
Artinya di kemudian hari, seorang presiden yang sudah capek,
terusingin
pulang ke Jerman, dia lalu bisa mengatakan, "Capek, capek, saya mau
pulang ke Jerman, ambillah ini, saya mau pergi."
Kalau begitu negara ini kan jadi lebih kacau daripada PT, daripada
perusahaan. Perusahaan saja, Dirut mau mengundurkan diri harusdipanggil
dulu itu RUPS. RUPS kita itu adalah MPR. Kalau diiyakan pada presiden
kedua, presiden ketiga, keempat, kelima, bisa saja meletakkan jabatan
kepresidenan itu kapan saja dia kehendaki. Dan ini tidak boleh menjadi
preseden.
Tentang Negara Islam Tahun 2005
Jadi negara ini menjadi negara Islam atau tidak menjadi negara Islam,
itu SI MPR 10 November nanti, mulai digulirkan. Di Pemilu nanti, Golkar
akan berkoalisi dengan partai-partai ini. Kalau partai ini menang,
mereka akan memegang MPR. Dan MPR yang mereka buat, mereka pegang, akan
membuat GBHN yang menuju kepada "Republika".
Kenapa mereka berkeras tahun 2000 ini harus dibentuk, agar 20005 itu
"Republika" bisa dipegang. Karena ditahun 2003, begitu bunyikesepakatan
ASEAN, sudah terjadi semi globalisasi Indonesia. Di tahun 2010, sudah
terjadi globalisasi untuk Pasifik, kecuali untuk beberapa komoditi. Di
tahun 2020, itu seluruhnya sudah global, dalam bidang ekonomi. Tidakada
investasi yang akan masuk ke sini, kalau pemerintahan ini adalah
primordial.
Atau dibalik perkataan lain, apabila sudah tiba saatnya untuk
globalisasi, dan pemerintahan Islam, pemerintahan primordial ini belum
terbentuk, maka pemerintahan primordial ini tidak akan pernahterbentuk.
Jadi mereka dikejar oleh waktu. Bahwa di tahun 2005 itu, Republika,
Republik Agama itu sudah harus sangat kuat pancangan-pancangan kakinya.
Kalau tidak, di dalam globalisasi tidak ada investasi yang mengijinkan
berdirinya suatu pemerintahan primordial.Tentang Zaky (Anwar) Makarim
Jadi bulan-bulan depan ini, adalah bulan-bulan perebutan, apakah ini
akan menjadi negara Islam atau tidak, apakah dwifungsi ABRI akan jatuh
ataukah bisa bertahan. Kalau Wiranto terlampau keras mempertahankan
dwifungsinya, dia bisa diganti oleh perwira Islam yang lain. Fachrul
Razi misalnya. Zaki Anwar Makarim misalnya.
Zaky Anwar Makarim itu adalah Kepala BIA. Atase Pertahanan AS, Kolonel
William, pernah mengatakan sama saya, kalau saya ingin bertemu dengan
Prabowo, selalu ikut Zaky, Sjafrie, dan Kahirupan. Kalau saya ingin
ketemu dengan Zaky Anwar, selalu ikut Sjafrie, Prabowo, dan Kahirupan.
Jadi empat ini selalu ada. Mereka bersahabat, mereka sekawan, empat
sekawan.
Lalu pertanyaannya, pada hari-hari terakhir kepada saya adalah begini:
Kahirupan sudah di-out oleh Hartono karena dia Kristen. Prabowo sudahdi
DKP-kan. Sjafrie sudah mulai ditanya-tanya. Kenapa tinggal Zaky Anwar,
kenapa dia tidak bisa dikutak-kutik, padahal dia adalah Kepala BIA?
Karena Zaky Anwar ini adalah Zaky Anwar Makarim, kakaknya Anwar Makarim
itu adalah salah satu ketua ICMI.
Jadi begitulah yang melingkupi ABRI hari-hari ini. Kalau ABRImelepaskan
atau terpaksa melepaskan dwifungsinya, maka ABRI tidak lagi harus
bertekad untuk mempertahankan Pancasila, dan negara yang ideologinya
Pancasila. Dan kalau tidak ada lagi yang mempertahankan Pancasila itu,
apa bisa kita serahkan pada PDI? Tidak bisa. Apa bisa itu kita serahkan
kepada Gus Dur? Tidak bisa. Apa bisa kita serahkan pada partai-partai
yang baru tumbuh? Tidak bisa.
Dan inilah sistematika mereka (Islam-Red), memperburuk-buruk ABRI.
Padahal ABRI yang diperburuk ini adalah ABRI yang sudah mereka susupi.
Prabowo, Sjafrie, Hartono, Feisal Tanjung, Syarwan Hamid. Inilahsituasi
yang kita hadapi di hari-hari yang akan datang.Sebarluaskan Informasi
ini!
Saudara-saudara, memang informasi ini harus diopinikan menjadiinformasi
yang makin lama makin meluas. Supaya terbentuk opini yang mengetahui
skenario mereka. Tetapi tentunya, semua ini dengan resiko-resiko pada
diri kalian. Resiko yang kalian hadapi untuk membicarakan ini keluar,
itu tidak sama besarnya. Lebih berat kalian. Kamu tidak punya nama.
Kalian tidak punya prestise di tingkat tertentu. Kalian bisa diciduk
diambil sewaktu-waktu. Kalian bisa disenggol oleh orang Madura, terus
terjadi perkelahian, kemudian diclurit, mati. Alasannya bisa begitu.
Jadi resiko yang kalian hadapi untuk menyebarluaskan dan menjadikan ini
opini masyarakat, itu besar. Itu berbahaya. Tidak seberbahaya saya.Saya
bicara seperti ini di depan 1.000, 2.000, 3.000 orang, karena saya
dikenal mantan panglima yang menangkap Xanana, yang begini, yangbegitu,
mantan anggota DPR, kalau saya hilang tiba-tiba, itu gemanya lebihbesar
dari Pius hilang. Tapi kalau kalian hilang sekarang ini, mungkin cuma
kerabat, teman-teman gereja saja yang mempersoalkannya.
Jadi walaupun ini harus diopinikan, tetapi ketahuilah bahwa ini ada
resikonya. Demikian saudara-saudara, terima kasih atas perhatian kalian.
Moderator: Tentunya ada banyak hal yang sudah kita terima, fokusnya
adalah apa yang akan kita bisa siapkan terhadap pemilu yang akan
sama-sama kita hadapi tahun depan. Saudaraku, saya kira semua
gambarannya secara sistematik sudah jelas, dan kita bersyukur, bahwa
Tuhan memberikan kepada kita orang semacam Pak Theo untuk menjadi Bapak
buat kita, dan kita juga bisa nanti saya kasih kesempatan untuk
memberikan beberapa pertanyaan.
Tetapi supaya lebih hangat lagi pembicaraan kita, boleh nggak saya
minta, para gembala untuk berdiri sebentar, barangkali Pak Theo bisa
melihat, termasuk gembala area, silakan berdiri sebentar, supayadikenal
Pak Theo.Kira-kira kita ini dari berapa gereja? Mungkin yang datang
tidak
dicatat nama gerejanya. Tapi lebih dari 10 gereja saya kira. Langsung
sajakalau
yang akan mengajukan pertanyaan, tiga pertanyaan. Lalu nanti disambung
termin berikutnya. (Bersambung....to be continued).WassalamNizma
Agustjik
____________________________________________________
"Spread the word - Free Email and Homepages!"
http://www.Pconnections.net
Email - [EMAIL PROTECTED]
Homepage - http://ppage.net/?wach
PCard - http://pcard.net/?wach
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!