>
>Date: Sun, 14 Feb 1999 23:13:06 -0500 (EST)
>From: Juliana Atmadja <[EMAIL PROTECTED]>
>
>Date: Fri, 12 Feb 1999 15:16:05 -0500
>To: [EMAIL PROTECTED]
>From: Ben Abel <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject: IND: Wawancara GM ttg sikon terkini (1/3)
>
>MEMAHAMI KEBUNTUAN sekalian MEMAMAH KEBUTUHAN
>
>Wawancara dengan Goenawan Mohamad 1/3
>
>Legitimasi Habibie dan Peradilan Soeharto
>
>T: Bagaimana Anda memahami pemerintahan Habibie?
>GM: Saya bukan ahli hukum konstitusi. Akan tetapi kalau kita mendekati 
>masalah ini dengan cara konstitutional, saya kira perdebatan tidak akan 
>selesai dalam satu bulan. Sebab kalau dilihat dari konstitusi itu sendiri 
>barangkali kenyataan bahwa Soeharto harus bertanggung jawab kepada MPR itu
>sendiri secara konstitusional problematis. Belum lagi, apakah Habibie itu
>memang harus menggantikan Soeharto ketika ia turun? Lalu, apakah kedudukan
>Presiden dan Wakil Presiden bukan suatu paket saja? Perdebatan seperti ini
>tidak akan pernah selesai. Jadi, menurut saya tidak ada gunanya. Belum
>lagi
>yang memutuskan benar atau tidak itu adalah MPR yang dipilih oleh
>Pemilihan
>Umum yang diragukan legitimasinya. Mereka legal tapi tidak legitimate atau
>... meragukanlah. Hasil pemilihan umum itu sendiri meragukan
>keterbukaannya, transparansinya, dan apakah murni merupakan suara rakyat?
>
>T: Menarik bahwa Anda bilang bahwa mundurnya Soeharto tanpa
>pertanggungjawaban patut dipertanyakan. Lalu apakah upaya menyeret
>Soeharto
>ke pengadilan sekarang adalah salah satu jalan keluar dari 
>kebuntuan itu?
>GM: Yang pertama adalah untuk apa dia diseret ke pengadilan? Kalau 
>tujuannya adalah untuk mengembalikan harta yang menurut dugaan 
>dimilikinya secara tidak sah maka menurut saya tidak ada hubungan dengan
>konstitusi. Itu hanya masalah kriminalitas biasa saja. Akan tetapi kalau
>masalahnya adalah apakah keputusan-keputusan yang dikeluarkan, misalnya
>Keppres, dipakai untuk memperkaya keluarganya, nah hal itu harus bisa
>dipertanggungjawabkan kepada MPR. Itu memang merupakan problem
>pertanggungjawaban kepada MPR. Disini memang masih ada kekaburan dalam
>tuntutan kita semua. Ma'rie Muhamad, lewat Masyarakat Transparansi
>Internasional (MTI) yang dia pimpin, mengatakan bahwa yang sangat
>merugikan
>adalah adanya 70 sampai 80 Keppres yang menyimpang dari kepentingan
>publik.
>Keppres ini dikeluarkan semata-mata untuk kepentingan keluarga. Kita tahu
>bahwa Keppres memang suatu previllege dari presiden. Akan tetapi hal itu
>kan harus dipertanggungjawabkan benar atau tidaknya. Ini belum pernah
>dibuka. Selain itu, ada juga pendapat bahwa bukan Keppres-nya melainkan
>harta yang terkumpul dari Keppres itulah yang harus dipersoalkan. Maka
>dari
>itu prosedur yang ditempuh bukan lewat jalan MPR atau konstitusi tetapi
>lewat penyidikan kriminil biasa.
>
>Kebuntuan Para Pemimpin Oposisi
>
>T: Sekarang beralih ke kualitas elit atau pemimpin-pemimpin oposisi. 
>Topik yang yang sering dikemukakan oleh para aktivis dan para pemimpin 
>LSM adalah ketidakmampuan para pemimpin oposisi seperti Gus Dur, 
>Megawati, Amien Rais, Sultan HB X dan lain-lainnya. Khususnya kemampuan
>mereka dalam memimpin reformasi atau perubahan politik. Bagaimana Anda
>memahami tokoh-tokoh ini?
>GM: Dibawah rejim Orde Baru mekanisme untuk seleksi kepemimpinan dari 
>bawah telah mati. Ini terjadi di segala lapisan. Apalagi di kalangan 
>pemerintah khususnya di Golkar. Di kalangan oposisi juga mati. Organisasi 
>sosial politik tidak berkembang. Ini berbeda dengan, misalnya, yang kita 
>lihat di Afrika Selatan waktu jaman rejim kulit putih atau di Burma yang 
>dipimpin oleh Aung San Syu Kii, disana masih ada partai dan tentu saja 
>masih ada pemilihan umum. Kalau itu masih ada di Indonesia pasti akan 
>lain hasilnya. Kita tidak punya itu. Maka dari itu, pertama-tama, para 
>pemimpin oposisi yang lahir adalah pemimpin yang lebih banyak diciptakan 
>oleh media. Kedua, kalaupun tidak oleh media, dia diciptakan oleh suatu 
>proses yang belum teruji kecanggihannya. Seharusnya, partai atau 
>organisasi oposisi bawah tanah cukup kuat untuk melakukan seleksi 
>kepemimpinan. Begitu pimpinannya muncul pasti telah melalui proses 
>seleksi yang cukup teruji. Jadi yang lahir sekarang lebih banyak merupakan
>ciptaan media atau karena insiden. Pemimpin yang accidental-lah. Apalagi
>kemudian mereka kita bebani untuk membangun suatu kekuatan politik. Masa
>mereka muncul itu pun sangat pendek. Bahkan seperti Amien Rais, Emil
>Salim,
>maupun Sri Sultan, itu kan tidak punya partai. Baru kemudian mereka punya
>partai. Megawati dan Gus Dur memang punya organisasi. Akan tetapi
>munculnya
>Megawati misalnya, lebih banyak juga karena tekanan kepada PDI bukan
>kepada
>dia atau faksinya. Seandainya pada waktu itu Megawati tidak ditekan belum
>tentu dia akan menjadi tokoh yang seperti sekarang ini. Bukan berati pasti
>tidak, tapi belum tentu. Gus Dur memang seorang pemimpin yang sudah ada
>dari sononya. Dia punya legitimasi. Namun problemnya adalah bahwa dia
>tidak
>terbiasa untuk membangun organisasi politik. Misalnya dengan menjadikan NU
>sebagai kekuatan politik. Jadi terlalu banyak kita mengharapkan dari
>mereka
>untuk menjadi pemimpin yang sudah punya kekuatan politik. Apalagi menjadi
>pemimpin yang sudah teruji oleh berbagai krisis. Masalahnya kemudian
>adalah
>bukan pada ada atau tidak adanya pemimpin tetapi tidak ada institusi untuk
>melahirkan pemimpin.
>T: Apakah ini merupakan kesuksesan Orde Baru?
>GM: Tidak merupakan sukses, karena dalam hal ini pergantian kepemimpinan
>yang terjadi menjadi chaotic. Dalam arti, hal ini tidak bisa dipandang
>sebagai sukses karena Orde Baru sendiri tidak bisa memperpanjang dirinya
>sendiri juga. Pemilihan pemimpin yang dilakukan oleh Orde Baru terhadap
>dirinya sendiri juga merupakan proses yang artificial, yang dari atas.
>T: Apakah hal ini disebabkan juga oleh pemimpin oposisi yang bertindak 
>terlalu hati-hati dan tidak tanggap? Sesaat sebelum SI-MPR para pemimpin 
>ini, dengan dorongan dari mahasiswa, membuat "Deklarasi Ciganjur". Dua 
>atau tiga hari sesudahnya ada penembakan terhadap mahasiswa oleh militer.
>Namun, para pemimpin oposisi ini tidak bereaksi sama sekali. Seolah-olah
>mahasiswa itu didiamkan dan jalan sendiri. Tidak ada kerjasama antara para
>pemimpin ini dengan mahasiswa. Bagaimana Anda melihat masalah ini?
>GM: Ini kembali kepada masalah tidak adanya organisasi. Tidak ada suatu 
>gerakan reformasi yang paling tidak memiliki pola yang biasa dipakai 
>oleh, misalnya, Partai Komunis dengan teori-teori revolusinya. Kalau ada 
>platform yang demikian maka pengaruhnya akan terletak pada strategi. Ada 
>platform maka akan ada pimpinan dan juga organisasi. Dalam situasi 
>Indonesia, itu yang memang tidak ada. Tidak heran kalau mereka tidak ada 
>kontak dengan mahasiswa karena memang tidak ada wadahnya. Mahasiswa
>sendiri
>pada sisi yang lain menolak untuk kerjasama dengan orang lain. Ini karena
>mahasiswa menganggap bahwa kalau bekerjasama dengan orang luar akan
>mengurangi kemurnian. Problem mahasiswa adalah etos kemurnian ini. Etos
>kemurnian ini sesungguhnya baik dalam situasi revolusioner dan kritis.
>Akan
>tetapi tidak untuk jangka waktu yang panjang. Untuk jangka waktu yang
>panjang, tidak ada suatu gerakan politik pun yang semata-mata berdasarkan
>etos kemurnian.Karena harus ada kompromi dan negosiasi yang mengharuskan
>untuk membuka diri untuk tidak murni. Didalam masalah ini, mereka dianggap
>tidak cukup cepat. Saya kira problemnya hanya masalah ukuran saja. Masalah
>kompromi diantara mereka. Saya tahu bahwa menjelang pertemuan di Ciganjur
>itu Gus 
>Dur memberikan syarat. Pertama tidak boleh membicarakan Dwifungsi ABRI.
>Walaupun akhirnya dia toh mengatakan bahwa Dwifungsi harus 6 tahun. Itu
>syarat Gus Dur. Sehingga pada saat itu masalah Habibie juga tidak dibahas
>karena Gus Dur lagi yang mengatakan di depan pertemuan itu bahwa "Saya
>memang bermusuhan dengan dia tetapi saya tidak akan menjatuhkan dia". Dan
>Amien Rais juga mengatakan,"Kita juga tidak suka (pada Habibie, red.)
>tetapi ini juga tidak bisa dikatakan salah. Ini merupakan suatu
>constitutional fact, faktor konstitusional". Apalagi kemudian Sultan dan
>Megawati tidak jelas sikapnya. Jadi memang pandangan mereka demikian. Dan
>kalau itu dianggap tidak cukup maju ke depan ya memang demikianlah adanya.
>Meskipun juga bukan berarti tanpa virtue, tanpa suatu kebajikan. Waktu 
>itu, termasuk juga bagi saya, menjatuhkan Habibie hanyalah suatu masalah 
>strategi belaka. Bukan sebagai suatu tujuan. Kalau dia jatuh, ya bagus. 
>Kalau tidak jatuh, ya yang dibutuhkan adalah suatu proses persiapan untuk 
>mengadakan Pemilu yang lebih terbuka. Jadi, masalah Habibie disana adalah
>apakah dia menghambat atau tidak untuk tujuan pelaksanaan Pemilu yang
>terbuka ini. Kalau dia tidak menghambat, menurut saya, ya terus saja. 
>Akan tetapi, pandangan ini kan tidak begitu populer dan kelihatannya 
>tidak militan. Dan belum lagi misalnya, Barisan Nasional yang umumnya 
>berasal dari kalangan purnawirawan ABRI yang tidak suka pada Habibie. 
>Yang alasannya, saya tidak tahu.
>
>Kelas Menengah dan Demokratisasi
>
>T: Sekarang berkaitan dengan Kelas Menengah. Apakah kita bisa melihat 
>mereka sebagai kelompok yang diam saja, terutama dalam situasi sekarang 
>ini? Walaupun kita tahu bahwa mereka pun berusaha untuk mengorganisasikan
>diri. Sebagian kecil kaum profesional berkumpul di Semanggi dan membentuk
>suatu kelompok diskusi. Ini fenomena baru. Apakah kita bisa mengharapkan
>bahwa suatu saat mereka akan berbuat sesuatu ?
>GM: Pertama-tama adalah bagaimana kita mendefinisikan kelas menengah itu?
>Kelas menengah dalam sejarah Eropa menjadi militan karena ada kelas atas
>yang terorganisir yaitu kaum feodal. Artinya, feodalisme merupakan bentuk
>yang jelas kelasnya dan berperan dalam memarjinalkan kaum borjuis atau
>kaum
>profesional. Seperti misalnya dalam revolusi Perancis. Walaupun bisa
>dikatakan bahwa Revolusi Perancis tidak murni merupakan pertarungan antara
>kelas profesional melawan feodal. Akan tetapi, ada suatu kekuatan kelas
>diatas kelas menengah ini yang bersosok dan terdefinisikan dengan jelas.
>Ini tampak jelas dalam kaum aristokrat yang berdasarkan keturunan darah.
>Nah, di Indonesia bagaimana kelas menengah akan mendapatkan bentuk kalau
>yang dilawan tidak jelas? Saya pernah tanya kepada mahasiswa di ITB
>tentang
>kelas menengah juga. Lalu kelas atasnya mana? Ya, hanya ada satu! Ya, satu
>orang saja kelas atasnya. Jadi itu satu masalah definisi.
>Dulu di tahun 1950an, Prof. Wertheim almarhum menyebut kelas menengah di
>Indonesia ini sebagai dependent middle-class. Saat itu yang disebut kelas
>menengah ini adalah pedagang kecil dan kaum profesional yang sangat
>tergantung pada pemerintah. Didalam Orde Baru sebetulnya kelas menengah
>baru muncul. Namun belum sepenuhnya membentuk independensi. Masih banyak
>yang tergantung pada pemerintah. Kedua, kelas menengah Indonesia lebih
>banyak berasal dari keturunan Cina yang minoritas dan vulnerable (rentan).
>Bagaimana mereka akan menjadi militan kalau mereka gampang sekali akan
>menjadi korban dari setiap kekerasan baik dari rejim maupun dari
>masyarakat? Kalau itu boleh disebut kelas menengah, independensinya juga
>masih ada masalah.
>Sekalipun demikian, sebetulnya mahasiswa itu juga kan bagian dari kelas 
>menengah. Mahasiswa yang berkumpul di UI, Trisakti, dan dimana-mana itu 
>kan anak-anak kelas menengah juga. Dan jangan lupa bahwa ketika 
>demonstrasi di Senayan, makanan yang mengalir itu juga berasal dari 
>kalangan kelas menengah. Mahasiswa di Senayan mula-mula pada hari pertama
>makan asal saja. Apa saja yang ada dimakan. Pada hari kedua mereka mulai
>memilih: makan pakai ayam, apa pakai telor? Saat itu ada seorang
>demonstran
>dari daerah yang masuk ke situ dan berkomentar, "Belum pernah saya
>sekenyang ini!". Ya, ini terjadi karena ada support dari kelas menengah.
>Mereka ini tidak tampak karena memang tidak terorganisir. Organisasi 
>politik itu sendiri baru muncul setelah Soeharto jatuh. Ini sudah 
>menyia-nyiakan waktu beberapa bulan. Munculnya pun belum dalam bentuk 
>terorganisir. Jadi, saya kira, ada suatu gambaran yang jelas yang bisa 
>kita petani atau kita simak lebih jauh bahwa memang tidak ada kelas 
>menengah yang militan. Sementara itu, demokratisasi seperti dalam sejarah 
>Eropa, memang lahir dari kelas menengah. Pandangan ini juga tidak relevan 
>kalau kita lihat di dalam sistem politik Singapore misalnya. Kelas
>menengah
>di singpore itu kan sangat makmur. Namun mereka hidup dalam sistem politik
>yang sangat represif sekalipun makmur dan bersih. Tidak ada militansi
>kelas
>menengah mereka yang mau mengubah sistem politiknya 
>yang represif. Kalangan kelas menengah Singapore itu apolitis sekali.
>Jadi,
>belum tentu kelas menengah itu bisa menggerakkan demokratisasi.
>
>(bersambung)
>


FATAL ERROR! SYSTEM HALTED! - Press any key to do nothing... 
[kj] ICQ - 23276722 
http://hey.to/kj/





______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!


Kirim email ke