From: Admin GSJ[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Tuesday, 23 February 1999 16:26
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Agen KGB: Kenaikan Fiskal utk Kurung Rakyat RI
Browse http://www.egroups.com/list/reformasitotal
"The World on Indonesia every day"
-------------------------------------------------
Dengan hormat,
Berikut kami sampaikan satu artikel setipe "Juan Paul Valdez", dengan
gaya
yang lain. Kalau "Jual Paul" pendekatannya ramalan, maka artikel
bersumber
dari "Jurnal Indonesia Baru" ini lebih bagaikan kisah nyata dari
seorang eks
agen KGB yg pernah dinas di Indonesia.
Tak sedikit mantan2 agen rahasia asing di Indonesia yang kemudian
jatuh hati
dan simpati pada bangsa dan negara ini. Misalnya Volodislavlich yang
mantan
KGB dalam artikel ini, atau seorang mantan agen rahasia Australia yg
malah
banyak menulis buku berdasarkan perjalanan sejarah Indonesia.
Artikel berikut mengisahkan penguraian kode rahasia yang intinya rencana
balas dendam Soeharto terhadap rakyatnya sendiri jika ia dan Orde Baru
terguling. Intinya, politik pecah belah SARA sudah dirancang dan
dilaksanakan sejak lama. Dan salah satu hal baru yang menarik dari
artikel
ini adalah diuangkapkannya rencana menaikkan fiskal setinggi mungkin
untuk
mencegah eksodus rakyat Indonesia ke luar negeri. Padahal, menurut Gatra
terbaru, tiket Mei-Juni sudah laris manis karena masyarakat keturunan
Tionghoa berencana mengamankan diri ke luar negeri. Apakah ada
hubungannya?
Kami mendistribusikan artikel ini, dengan harapan masyarakat dapat
menerimanya dengan panjang akal. Tujuan kami semata-mata adalah untuk
memberikan "pressure" jika rencana2 kenaikan fiskal yg memberatkan
rakyat
itu benar terjadi. Bukan untuk membuat heboh. Meskipun protes masyarakat
atas kenaikan tarif Telkom tak digubris, masyarakat tak bisa membiarkan
penguasa menindas terus menerus di tengah tekanan ekonomi yang masih
tetap
buruk.
Kami mohon maaf, jika artikel "Juan Paul Valdez" yang kami distribusikan
mendapat tanggapan yang tidak kami duga sebelumnya, karena kami sendiri
menganggapnya sebagai cerita sebelum tidur. Kami harap masyarakat tidak
perlu cepat panik. Sebagai usaha klarifikasi artikel di bawah ini,
kami akan
coba cross check dgn bantuan mantan2 agen rahasia asing lainnya. Kami
juga
mohon bantuan rekan-rekan pers untuk mengeceknya ke jaringan di ABRI dan
mantan Bakin.
Sekali lagi, kami himbau masyarakat tenang. Di bulan2 mendatang, mungkin
masyarakat akan menemui lagi ramalan-ramalan, artikel-artikel,
kisah-kisah
serupa, mungkin juga publikasi transkrip-transkrip kaset akan jadi
tren yang
menghebohkan. Kehebohan ini hanya sebaiknya disikapi dengan tenang dan
takwa.
Maklumlah bahwa:
# Selama ORBA & DWIFUNGSI ABRI belum dihapuskan, politik SARA akan terus
berjalan.#
# Selama ORBA & DWIFUNGSI ABRI belum dihapuskan, teror akan terus
mengancam.#
# Selama ORBA & DWIFUNGSI ABRI belum dihapuskan, rakyat akan terus
ditekan.#
Tetaplah tenang, teruslah berjuang.
Administrator GERAKAN SARJANA JAKARTA
<mailto:[EMAIL PROTECTED]>
-----Original Message-----
From: PI [[EMAIL PROTECTED]] <id diedit oleh GSJ>
Sent: Wednesday, February 17, 1999 10:25 AM
To: Pinkerton News List
Subject: Di Balik Kenaikan Tarif Fiskal (JIB/17-FEB-99)
Di Balik Kenaikan Tarif Fiskal: Rencana Mengurung Rakyat Indonesia
di Negaranya Sendiri
Jurnal Indonesia Baru (16/02/1999)
Kerusuhan, teror bom, dan teror lainnya di Indonesia disinyalir saling
berkaitan satu sama lain juga berhubungan dengan rencana kenaikan tarif
fiskal menjadi 4 juta rupiah bulan Maret 1999 ini, demikian seorang
bekas anggota KGB (Komitet Gosudarstvennuy Bezopasnosti) Yuri
Volodislavlich berbicara pagi ini di sudut kota Kiev, Ukraina.
Volodislavlich yang pernah bertugas di Indonesia dari tahun 1971 - 1982
mengatakan bahwa ia harus berbuat sesuatu kepada rakyat Indonesia yang
semakin memprihatinkan nasibnya. Sebenarnya sejak ia mengundurkan diri
dari
dunia intelijen pada saat Uni Soviet pecah menjadi CIS (KGB dibubarkan,
digantikan oleh SVR-red.), ia tidak ingin lagi berhubungan dengan dunia
politik, ia hanya ingin menghabiskan masa tuanya di Kiev sebagai warga
negara biasa. Tapi sejak ia membaca berita-berita politik mengenai
Indonesia, semakin lama ia semakin terkejut melihat perkembangan politik
dan sosial di Indonesia. Menurutnya, fenomena yang sekarang terjadi
sebenarnya pernah ia baca sejak tahun 1982 lalu.
Bermula pada saat Yuri Andropov (bertugas pada tahun 1967-1982 di KGB)
menjadi atasannya, ia ditempatkan di Indonesia untuk memberi bantuan
pada kelompok dan gerakan di Indonesia yang anti blok Barat. Selama 11
tahun ia bertugas di Indonesia membuatnya lancar berbahasa Indonesia dan
beberapa dialek daerah, dan ia pun mengaku senang dengan keramahan
rakyat
Indonesia.
Beberapa teman bekas informannya dulu sampai kini masih menghubunginya
lewat surat. Pada tahun 1979 di mana pemerintahan Soeharto mulai
menunjukkan titik terang kerjasama dengan blok Barat, KGB mengirimkan
dua
agennya Viktor Ogibalov yang keturunan Ukrania dan Igor ziashlavich
seorang
agen rahasia dari Angkatan Udara yang pernah menangani kasus Letnan
Viktor
Belenko yang membelot dengan MIG-25, untuk menemani Volodislavlich
mencuri
dokumen rahasia pemerintah RI. Saat itu, bulan Juni 1979, mereka bertiga
berhasil mendapatkan beberapa dokumen rahasia negara, dan merekannya di
gulungan mikrofilm dari kamera Minox. Volodislavlich tidak bersedia
menceritakan di mana dan bagaimana mereka mendapatkan dokumen-dokumen
tersebut. Ia ingat betul di salah satu dokumen tersebut ada dokumen yang
ditulis dengan kode rahasia. Menurut Ogibalov kode rahasia itu
menggunakan
metode Beale (kode yang
menunjukkan kata dengan cara menggunakan nomor halaman, nomor
paragraf, dan
nomor urutan kata, misalnya 129:12:4 25:5:10, dst.). Selama setahun
mereka
mencari buku yang digunakan untuk acuan kode rahasia itu, tapi hasilnya
nihil, dan akhirnya Andropov menginstruksikan mereka untuk menghentikan
pemecahan kode tersebut atas desakan Politbiro.
Kasus itu sempat lama dilupakan, sampai akhirnya pada pertengahan bulan
November 1981, Volodislavlich menerima kiriman misterius berisi kamus
Indonesia - Inggris.Menurut informan Volodislavlich pada saat itu,
pengirimnya dikenal sebagai triple agent KGB, CIA (Central Intelligence
Agency - Agen Rahasia Amerika Serikat), dan agen rahasia nasional RI
yang saat itu belum bernama Bakin. Volodislavlich juga menolak
menyebutkan
identitas triple agent ini. Beberapa hari Volodislavlich sempat
dibingungkan oleh kamus tersebut yang tidak memberi petunjuk apa-apa.
Sampai pada awal bulan Desember 1981, Volodislavlich mendengar bahwa ada
agen CIA ditangkap di Minsk pada saat memecahkan kode rahasia dokumen
KGB.
Ia segera teringat kembali dengan dokumen tersebut dan segera mengontak
Iziashlavich yang saat itu sedang ada di Surabaya. Dengan resiko
membuang
waktu, ia bersama Iziashlavich dan Ogibalov mencoba memecahkan kode
rahasia
dari dokumen yang mereka curi tahun 1979 di kediaman Ogibalov di Kemang,
Jakarta Selatan.Ternyata memang benar, kamus tersebut adalah buku
acuannya.
Ogibalov saat itu merasa mereka sudah terlambat, karena ia yakin pihak
CIA
juga sudah mendapatkan informasi itu. Tapi Volodislavlich bersikeras
mengirimkan
hasilnya kepada Andropov di Moskwa pada akhir Januari 1982.
Menurut Volodislavlich, kalaupun CIA tahu akan hal ini, CIA baru akan
membeberkannya 25 tahun kemudian dalam Fact File mereka. Itu berarti
tahun 2007, dan itu menurut Volodislavlich artinya terlambat bagi rakyat
dan bangsa Indonesia. Dokumen tersebut yang dienkripsi dengan
komputer di Jerman Barat menceritakan apa-apa saja yang harus dilakukan
jika pemerintahan orde baru runtuh sebagai balas dendam. Ternyata
Soeharto
sudah memperkirakan kemungkinan terburuk yang akan ia terima pada saat
digulingkan dari tampuk kepemimpinan. Jika benar pada suatu saat ia
dikudeta oleh rakyatnya, ia tak akan segan-segan membalas dendam kepada
rakyatnya sendiri. Setelah membaca terjemahan dokumen ini, Politbiro
(semacam dewan pemerintahan di Uni Soviet dulu) menggambarkan Soeharto
bisa
bertindak sebagai Hitler Asia, jika apa yang tertulis dalam dokumen itu
benar-benar terjadi.
Berikut beberapa poin yang dirangkum dari dokumen yang masih disimpan
Volodislavlich sampai sekarang.
"Saudara seangkatan orde baru, saya sebagai pemimpin orde baru saat ini
menyatakan bahwa tindakan-tindakan yang harus dilakukan pada saatnya
nanti orde baru runtuh, adalah sebagai berikut:
1. Adu domba antara orang Pribumi dan China dirangkumkan Volodislavlich:
Asimilasi antara pribumi dan WNI keturunan Cina ternyata sangat
dihindari
oleh orde baru, karena dengan bersatunya kedua kubu ini, akan semakin
sulit
untuk diadudomba. Dari dulu sampai sekarang intel (orde baru) Indonesia
yang bertindak sebagai provokator selalu berusaha menciptakan jurang
pemisah antara pribumi dan WNI Cina. Intel berusaha menciptakan image
kepada pribumi bahwa Cina adalah penyedot kekayaan bangsa dan menjajah
pribumi. Tak jarang juga ditemukan intel yang keturunan Cina juga
menjadi
provokator dengan sengaja menindas warga pribumi terang-terangan supaya
mereka membenci Cina. Demikian pula disebutkan di dokumen ini bahwa jika
orde baru runtuh, maka akan dilakukan tindakan pemerkosaan, perusakan,
dan
antipati terhadap Cina yang disuburkan intel supaya warga keturunan Cina
membenci pribumi, dan tidak betah tinggal di Indonesia. Era orde baru
juga
akan dengan sengaja memberi kemudahan kepada para pengusaha Cina untuk
lebih banyak berkembang supaya kelihatannya memang Cina adalah penindas
pribumi. Tidak ada tanggal jelas dalam dokumen ini kapan gerakan ini
akan
dilaksanakan. Volodislavlich beranggapan bahwa kerusuhan Mei 1998
kemarin
adalah tanggalnya.
2. Adu domba antar agama dirangkumkan Volodislavlich: Agama adalah hal
yang
sensitif di Indonesia, sehingga pemerintah orde baru menempatkan adu
domba
antar agama sebagai counter jika orde baru runtuh. Agama yang paling
mudah
diadudomba adalah mayoritas Islam dan Kristen. Sedangkan agama Katolik
kelak akan menjadi agama yang paling dibenci pemerintah karena selain
para
pastornya dianggap terlalu mencampuri urusan pemerintah, juga karena
hasil
Konsili Vatican II di mana agama Katolik menyatakan bahwa Yesus hanya
menjadi juru selamat umat Kristiani, dan mengakui Nabi Muhammad sebagai
juru selamat umat Islam, Budha sebagai penyelamat umat Budha, dan
lain-lainnya. Pemerintah orde baru mengusahakan agar hasil konsili itu
tidak
tersebar luas di masyarakat Indonesia. Intel-intel yang menyamar menjadi
pendeta Kristen juga
mengajak umatnya untuk "bertobat" agar tidak seperti umat Katolik yang
mereka sebut sebagai penyembah berhala, juga provokator yang menodai
mesjid
pun berbuat yang sama untuk mengajak umatnya membenci agama lain.
Provokator yang menodai gereja Kristen akan membuat aliran-aliran
Kristen
baru garis keras yang hanya mengakui Yesus sebagai juru selamat semua
umat
manusia, dan tidak mengakui nabi yang lain supaya terjadi konflik antara
Kristen dan Islam. Hal ini digalang selama bertahun-tahun sehingga para
umat beragama di Indonesia berpikir bahwa agamanyalah yang paling
benar dan
melupakan fungsi utama agama sebenarnya untuk berkomunikasi dengan Sang
Pencipta, bukan untuk berselisih mempertahankan agamanya. Sedangkan
agama
Buda dan Hindu
menurut pemerintah orde baru bukan merupakan ancaman serius, karena
mereka
lebih banyak mengurusi kehidupan agama mereka sendiri, tidak terlibat
dalam
politik. Jika sampai terjadi perang antar agama, pemerintah orde baru
yang
sudah runtuh bisa lebih mudah melumatkan rakyat Indonesia, dan akan
mempunyai kesempatan membangun kembali pemerintahannya.
3. Penghancuran ekonomi secara total rangkuman Volodislavlich: Tidak
disebutkan di dokumen ini mana yang akan menjadi sasaran penghancuran
ekonomi, ia menganggap merosotnya nilai tukar mata uang rupiah dan
penghancuran Glodok adalah yang dimaksud pemerintah orde baru
4. Mendirikan pemerintahan boneka setelah era orde baru runtuh dst"
Poin-poin yang ada di dokumen itu menurut Volodislavlich seluruhnya
berjumlah 58 poin, dan tidak akan cukup dijabarkan di sini. Ia
berencana menulis buku tentang hal ini apa pun resikonya, karena ia
mengaku
selama 11 tahun di Indonesia sudah sering sekali dibantu rakyat
Indonesia.Tak sedikit pula para sahabatnya yang dulu menjadi informan
yang
sekarang tinggal di Indonesia. Buku rencananya akan diterbitkan dengan
judul "Pro Maya Drug: Dasvidaniya!" yang mungkin akan diterjemahkan ke
bahasa Inggris menjadi "For My Friends: Goodbye!".
Yang paling menakutkan menurut Volodislavlich adalah poin ke 47 ke atas
mengenai rencana balas dendam terhadap rakyat sendiri. Semula ia
tak percaya bahwa pemerintah orde baru akan tega melakukannya, karena
sekejam-kejamnya Hitler pun saat itu membantai Yahudi, bukan bangsanya
sendiri. Tapi Volodislavlich menjadi ragu ketika ia mendapat kabar dari
salah seorang bekas informannya yang sekarang bekerja di kantor dirjen
imigrasi di Indonesia yang menyatakan bahwa fiskal di Indonesia akan
dinaikkan dari Rp 1.000.000,- menjadi Rp. 4.000.000,- bulan Maret 1999
ini,
dan informannya itu pun mengatakan bahwa bulan November 1999 pemerintah
akan menaikkan lagi menjadi 8 juta rupiah. Volodislavlich menambahkan
bahwa
dendam pemerintah orde baru yang runtuh adalah dengan mengurung
bangsanya
sendiri untuk kemudian dibantai sampai habis, kemudian digantikan oleh
orang-orang yang pro orde baru. Dokumen itu menyebutkan pembataian
besar-besaran itu akan menggunakan cara meracuni air PDAM (sekarang
PAM-Red.) dan senjata biologi, dengan syarat semua rakyat yang
menyebabkan
runtuhnya orde baru sudah terkurung.
Volodislavlich semakin yakin bahwa pemerintahan Habibie adalah bentuk
pemerintahan boneka Soeharto jika pemerintah Indonesia benar-benar
menaikkan tarif fiskal menjadi 4 juta. Karena disebutkan dalam dokumen
tersebut, salah satu cara untuk mengurung bangsa Indonesia adalah tidak
memperbolehkan mereka ke luar negri. Menurut pengamatan Volodislavlich,
jika rakyat masih memusuhi dan mengutuk Soeharto, jangan heran jika
tahun
2000 fiskal mendadak naik menjadi 15 juta rupiah atau 20 juta rupiah.
Volodislavlich berujar bahwa menurut perkiraannya, Soeharto ingin
melihat
Indonesia hancur total sebelum ia mangkat sebagai balas dendam terhadap
rakyatnya yang sudah kurang ajar terhadapnya. Habibie sudah mendapat
instruksi untuk jangan menggubris kecaman dunia internasional atau
rakyat
terhadap kenaikan tarif fiskal ini, karena tujuan kenaikan tarif ini
adalah
untuk menahan sebanyak mungkin warga Indonesia supaya tidak ke luar
negri,
dan itu berarti akan makin banyak warga Indonesia yang akan dibantai
oleh
gerakan bawah tanah
orde baru kelak.
Ketika ditanya kapan pembataian besar-besaran itu akan terjadi,
Volodislavlich terdiam sejenak, kemudian ia menjawab, menurut dokumen
itu, pembantaian akbar akan terjadi 3 hari setelah Soeharto mangkat.
Volodislavlich juga tidak menjawab siapa saja tokoh pro orde baru di
Indonesia sekarang. Dia mengaku tidak tahu pasti karena ia sudah tidak
terlibat langsung dengan dunia intelijen, "Mungkin anda harus bertanya
pada
para agen CIA yang masih mempunyai rasa solidaritas dengan rakyat
Indonesia" tambahnya. (cfd/kiev/021999)
Regards,
<id diedit oleh GSJ>
Kawasan Mega Kuningan
Jl. Mega Kuningan Barat Kav. E.4.3 No.1
Jakarta 12950
Indonesia
Tel : +62 (21) 576 xxxx <id diedit oleh GSJ>
Fax : +62 (21) 576 xxxx <id diedit oleh GSJ>
_________________________________________________________
DO YOU YAHOO!?
Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!