>---------- Forwarded message ----------
>Date: Thu, 25 Feb 1999 12:31:46 +0700
>From: Hidayati Husna <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>To: "'[EMAIL PROTECTED]'" <[EMAIL PROTECTED]>,
>     "'[EMAIL PROTECTED]'" <[EMAIL PROTECTED]>
>Cc: 'Ilman Wibisana Tuhari' <[EMAIL PROTECTED]>,
>     'RISKA FORUM' <[EMAIL PROTECTED]>,
>     "'[EMAIL PROTECTED]'"
<[EMAIL PROTECTED]>
>Subject: [riska-forum] RCTI FITNAH UMMAT ISLAM AMBON
>
>Kepada Humas RCTI , Webmaster RCTI :
>
>Mewakili bagian masyarakat muslim dan sebagai warga negara Indonesia
>yang syah, kami mohon KLARIFIKASI ttg berita ini pada anda.
>
>Kami mengharapkan respond anda SECEPAT MUNGKIN.
>
>Terima Kasih :
>Hidayati Husna Joeseno
>Koord. Humas RISKA Online
>E-mail : [EMAIL PROTECTED]
>       [EMAIL PROTECTED]
>
>> -----Original Message-----
>> Akibat pemberitaan yang tidak benar alias fitnah dari RCTI, maka
>> sekitar 30 warga Muslim desa Pelauw harus mati terbantai karena
dikira
>> menyerang ummat Kristen di desa Kariu.
>> 
>> RCTI memberitakan bahwa warga Muslim desa Pelauw menyerbu desa Kariu
>> yang beragama Kristen, padahal fakta sebenarnya malah warga Muslim
>> desa Pelauw yang diserang oleh kelompok tak dikenal. Karena
>> "pemberitaan" (kalau fitnah masih bisa disebut berita) RCTI itu,
warga
>> Kristen di Ambon akhirnya marah kepada warga Muslim desa Pelauw dan
>> membantai 30 warga Muslim.
>> 
>> Jelas fitnah yang merenggut korban jiwa yang dilakukan RCTI harus
>> dibawa ke pengadilan. Apalagi fitnah atau paling tidak pemberitaan
>> sepihak itu bukan yang pertama kali dilakukan RCTI tentang kasus
Ambon
>> ini.
>> 
>> RCTI yang bersama SCTV dikelola oleh tokoh Kristen Peter F Gontha ini
>> pemberitaannya memang didominasi oleh jurnalis Kristen macam Chrys
>> Kelana dan Adolf Posumah. Tidak heran jika pemberitaan mereka
akhirnya
>> banyak menguntungkan ummat Kristen Ambon dan merugikan ummat Islam di
>> sana.
>> 
>> Pemerintah jelas harus berani menindak RCTI yang jelas terbukti
>> sebagai provokator kerusuhan yang merenggut 30 nyawa warga desa
>> Pelauw. Ummat Islam sebaiknya mendemo RCTI (secara damai dan intelek)
>> agar saudara Muslim kita di Ambon tidak menjadi sasaran fitnah mereka
>> lagi, sehingga korban jiwa juga bisa ditekan.
>> 
>> Berikut berita dari Republika 16 Februari tentang "berita" (baca:
>> fitnah) RCTI yang mengakibatkan puluhan nyawa warga Muslim Pelauw
>> melayang:
>> 
>> Menyoal Kerusuhan Ambon 
>> Kami sangat kaget menyaksikan tayangan Seputar Indonesia RCTI edisi
>> hari Ahad (14/2) yang menyiarkan kerusuhan di Pulau Haruku. Dalam
>> tayangan itu disebutkan kerusuhan di Pulau Haruku terjadi karena
warga
>> Islam Desa Pelauw menyerbu Desa Kariu yang mayoritas beragama
Kristen.
>> 
>> Sebagai warga Desa Pelauw, kami menyesalkan pemberitaan tersebut.
>> Pemberitaan ini sungguh merupakan pemutarbalikan fakta. Fakta yang
>> sebenarnya terjadi justru Desa Pelauw yang diserang oleh orang-orang
>> yang tak dikenal. Yang kami tahu mereka bukan warga asli Desa Kariu. 
>> Selama ini, hubungan warga Desau Pelauw yang penduduknya muslim
dengan
>> Desa Kariu sangatlah harmonis. Warga Desa Kariu pun sangat baik
dengan
>> warga Desa Pelauw. Ketika terjadi kerusuhan di Ambon, hubungan kami
>> tetap tidak berubah. Kami justru mempereratnya, karena tahu Desa
Kariu
>> adalah desa kecil dan warganya dihinggapi kekhawatiran. 
>> Dan akibat pemberitaan RCTI yang memutarbalikkan fakta itu, hari
Senin
>> (15/2) di kota Ambon terjadi pembakaran rumah-rumah warga asal Desa
>> Pelauw. Sebuah peristiwa yang sama-sama tidak kita inginkan. 
>> Kesalahan dalam pemberitaan itu bukanlah kejadian pertama. Dalam
>> memberitakan pemicu kerusuhan Ambon, RCTI juga salah. Dalam berita
>> RCTI pernah disebutkan bahwa pemicu kerusuhan Ambon adalah Yopie
>> dipalak warga Batu Merah. Berita ini juga suatu pemutarbalikan fakta.
>> Yang benar justru warga Batu Merah yang dipalak Yopie. 
>> Untuk itu, kami meminta RCTI agar berhati-hati dalam menurunkan
>> pemberitaan. Semestinya RCTI tidak menyajikan pemberitaan berdasarkan
>> informasi yang sepihak semata tanpa cek dan ricek. Untuk itu, agar
>> RCTI tetap oke, maka semestinya pemberitaan-pemberitaan RCTI --
>> khususnya mengani kerusuhan Maluku -- tak hanya menggunakan
>> sumber-sumber sepihak saja. 
>> Nama dan Alamat Ada pada Redaksi 
>> 
>> 
>> Ambon Mencekam, Penjarahan dan Pembakaran Kembali Terjadi
>> 
>> 
>> AMBON -- Kerusuhan di Pulau Haruku yang menewaskan belasan orang Ahad
>> (14/2) lalu berimbas ke Ambon. Suasana kota Ambon kemarin kembali
>> mencekam. Menurut keterangan Satgas Majelis Ulama Indonesia (MUI)
>> Tingkat I Maluku, masyarakat Ambon benar-benar ketakutan untuk keluar
>> rumah. Toko-toko yang berada di jalan protokol Ambon banyak yang
>> tutup. Kalau mereka buka hanya sampai pukul 17.00 waktu setempat.
>> 
>> ''Kota Ambon benar-benar mencekam, akibat kerusuhan yang terjadi di
>> Pulau Haruku, pada Ahad lalu. Padahal Pulau Haruku sendiri, mulai
>> kemarin sudah reda tidak ada aksi kerusuhan,'' ungkap Sekretaris
>> Satgas MUI Maluku, Thamrin Ely ketika dihubungi Republika, tadi
malam.
>> 
>> Thamrin memaparkan suasana mencekam dan lengangnya kendaraan yang
>> lalu-lalang di jalan-jalan Kota Ambon tersebut semakin diperkuat
>> dengan terjadinya pembakaran dan penjarahan rumah milik warga Muslim
>> yang dilakukan oleh kelompok yang tidak dikenal.
>> 
>> ''Kemarin (Senin -- Red) satu rumah dibakar dan satu rumah lagi
>> dijarah oleh kelompok yang tak dikenal,'' terang Thamrin tanpa
merinci
>> rumah dan berapa kerugian yang dialami. Namun, ia menambahkan
kejadian
>> itu tidak mengakibatkan korban jiwa.
>> 
>> Selain itu, menurut Thamrin, kemarin banyak tokoh Islam yang diteror
>> dan diancam oleh kelompok yang tak dikenal itu. ''Para penggerak
>> kerusuhan itu sepertinya lebih lihai. Pola gerakannya berubah-ubah
>> serta sangat sistematis. Mereka melakukan tindakan provokasi dengan
>> cara sporadis,'' tukasnya lagi.
>> 
>> Adanya pembakaran dan penjarahan rumah itu, diduga Thamrin, tersulut
>> akibat pemberitaan yang salah tentang kerusuhan di Pulau Haruku oleh
>> sebuah televisi swasta.
>> 
>> Seperti diketahui, Pulau Haruku Ahad (14/2) dilanda kerusuhan.
>> Beberapa orang tak dikenal dari Desa Kariu menyerang Desa Pelauw,
>> setelah sebuah rumah di Kariu terbakar. Menurut MUI Maluku yang tewas
>> mencapai 13 orang. Mereka tertembak di bagian punggung dan pantat.
>> Sementara menurut DPW Partai Keadilan yang menurunkan satgasnya,
>> jumlah tewas mencapai 30 orang.
>> 
>> Televisi swasta tadi menyebutkan kerusuhan di Desa Pelauw itu bermula
>> karena warga Desa Pelauw menyerang Desa Kariu -- desa kecil yang
>> berbatasan dengan Desa Pelauw. Menurut Thamrin, berita itulah yang
>> membuat sekelompok warga di Ambon melakukan pembakaran dan penjarahan
>> rumah, sebagai upaya balas dendam.
>> 
>> ''Kami menyesalkan pemutarbalikan fakta terjadinya kerusuhan. Media
>> massa memberitakan bahwa penyerangan dilakukan oleh penduduk Pelauw
>> yang beragama Islam itu. Padahal faktanya tidak seperti itu. Akibat
>> pemberitaan yang tendensius ini rumah-rumah milik warga asal Pelauw
>> yang ada di Ambon dibakar,'' ungkap Thamrin.
>> 
>> Menurut Thamrin, salah satu bukti bahwa warga Pelauw yang diserang,
13
>> orang yang tewas tertembak di bagian belakang, saat mereka
>> menyelamatkan diri. Mereka tertembak di punggung dan pantat.
>> 
>> Warga Desa Pelauw sendiri mengaku sebenarnya selama ini tak punya
>> masalah dengan warga Desa Kariu. Menurut Thamrin, hubungan mereka
>> harmonis. Namun, tiba-tiba ada orang tak dikenal menyerang Desa
Pelauw
>> setelah sebuah rumah di Desa Kariu terbakar.
>> 
>> Melihat kondisi yang cukup memprihatinkan itu, Thamrin mengatakan
>> bahwa upaya menindaklanjuti kesepakatan damai antartokoh agama yang
>> diprakarsai Gubernur Maluku, Dr M Saleh Latuconsina pada 22 Januari
>> lalu bisa menjadi terhambat. ''Kita disuruh damai, sementara kita
>> masih terus diserang,'' paparnya dengan nada tinggi.
>> 
>> Ia juga memberi contoh terjadinya pembakaran rumah Ketua Yayasan
>> Masjid Al Fatah, H Abdullah Soulisa oleh kelompok tak dikenal belum
>> lama. ''Padahal rumah tokoh agama itu hanya 100 meter dari rumah
>> Kapolda Maluku Kolonel Pol Drs Karyono,'' katanya mengisahkan.
>> 
>> Sementara itu, Wakil Ketua DPR/MPR, Hari Sabarno, meminta ABRI yang
>> bertugas di Ambon dapat melindungi dan mengayomi semua pihak yang
>> bertikai. Ini agar permasalah tidak menjadi rumit.
>> 
>> Caranya, kata Hari, antara lain dengan membangun pos pengamanan
secara
>> bersama-sama untuk semua kepentingan pihak. Bukan membangun pos untuk
>> kelompok tertentu.
>> 
>> Menurutnya, di Ambon saat ini terdapat ketegangan antarwarga yang
>> dipicu oleh munculnya pos-pos keamanan milik kelompok tertentu.
>> ''Pos-pos tersebut sangat tidak positif. Keberadaannya sangat
bertolak
>> belakang dengan upaya meredam situasi. Sebaiknya dia (ABRI)
>> menempatkan posisinya sebagai aparat yang bisa melindungi, mengayomi
>> seluruh warga,'' tandasnya pada wartawan usai menerima Forum
>> Komunikasi Mahasiswa Makasar (FKMM), Senin (15/2).
>> 
>> Peliknya persoalan di Maluku itu, juga membuat Presiden BJ Habibie
>> membentuk Tim Khusus Pencari Fakta dan Solusi Kerusuhan Ambon, sejak
>> pertengahan Januari lalu dan kini merembes ke daerah lainnya.
>> 
>> Tim yang telah dikirim ke Ambon, Ahad (14/2) diketuai Mayjen TNI
(Pur)
>> Jos Muskitta dengan anggota Des Alwi dan Drs K Kaplale.
>> 
>> Menurut Muskitta, timnya ditugaskan secara khusus oleh Kepala Negara
>> dengan tujuan mencari solusi untuk perbaikan Maluku karena
>> permasalahannya besar sekali sehingga tidak bisa diungkapkan hanya
>> dengan beberapa kata.
>> 
>> ''Masalahnya terlalu kompleksitas untuk dijelaskan terlalu dini. Jadi
>> belum bisa dijelaskan, apalagi tim ini baru berada di Ambon dua hari
>> sehingga perlu mengumpulkan informasi akurat,'' katanya.
>> 
>> Mantan anggota DPA bidang Polkam ini menegaskan Maluku harus dibangun
>> kembali. Tapi, bukan hanya intern orang Maluku, di mana perlu juga
>> orang Maluku dan pendatang yang sebagian besar telah beranak-pinak di
>> sini.
>> 
>> Oleh karena itu, menurutnya, tim yang berada di Ambon dalam kurun
>> waktu relatif lama ini harus mengumpulkan informasi dan data secara
>> objektif dan aktual sehingga bisa menjadi masukan konstruktif bagi
>> upaya rehabilitasi kembali Maluku dalam berbagai aspek kehidupan.
>> 
>> ''Yang jelasnya ada titik terang untuk penyelesaian kerusuhan dengan
>> korban jiwa ratusan orang. Hanya saja masih ada dendam atau saling
>> curiga karena dilatarbelakangi korban jiwa dan harta benda yang tidak
>> terbayangkan sebelumnya,'' tandas mantan Sekretaris Wapres.
>> 
>> Ia juga melihat, titik terang penyelesaian tidak bisa mengandalkan
>> budaya ''Pela-Gandong'' semata dengan menekan para generasi muda
untuk
>> mengikuti keinginan para orangtua.
>> 
>> Dalam kesempatan terpisah anggota DPR Hadimulyo MSc meminta
pemerintah
>> -- khususnya aparat keamanan -- lebih serius menangani kasus
kerusuhan
>> di Ambon yang masih berlanjut. ''Janganlah main-main dengan nyawa
>> orang. Kalau main politik, lakukan dengan 'fair' dan tak perlu
>> mengumbarnya dalam bentuk kekerasan,'' kata Hadimulyo, anggota FPP
DPR
>> di Jakarta, Senin.
>> 
>> Menurutnya, kasus Ambon adalah wujud di mana budaya
>> ketidakterusterangan masih terjadi di Indonesia, karena sejak meletus
>> peristiwa di Maluku, hingga kini belum ada penjelasan akurat mengenai
>> pelakunya. ''Jika ada pernyataan aparat keamanan bahwa sejumlah
>> provokator sudah ditangkap, itu sebenarnya hanyalah di tingkat
'teri'.
>> Sedangkan 'provokator agung'-nya belum tersentuh,'' katanya.
>> 
>> Aliansi Muslim Maluku (Almuluk), Drs Faisal Salempessy SH, kemarin
>> dalam jumpa pernya juga meminta ABRI mulai mewaspadai kecenderungan
>> bangkitanya keberadaan Republik Maluku Selatan (RMS). Selama
kerusuhan
>> di Ambon, bendera RMS memang ditemukan berkibar di sejumlah tempat.
_________________________________________________________
DO YOU YAHOO!?
Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com


______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!


Kirim email ke