kalo nggak salah ini artikel dari Tempo (atau Forum/Gatra ?) minggu kemarin

RahmadD
Rules of the week:
Just accept that some days you're the pigeon, and some days you're the
statue......


> -----Original Message-----
> From: Daniel H.T. [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> 
> Kenapa berita seperti ini tidak ada di koran/media cetak Indonesia? Kenapa
> yang dimuat selalu berita-berita, foto-foto yang memancing emosi pihak
> yang
> satu terhadap pihak yang lain?
> Wahai saudara2-ku, para wartawan, redaktur, pemilik media cetak, tolonglah
> peran kalian sangat besar untuk menyejukkan suasana. Bukan sebaliknya.
> 
> At 07:39 15/03/99 +0700, you wrote:
> >Benar-benar berita yang menyejukkan...
> >Terima kasih, Alhamdulillah ya Allah. Di tengah-tengah situasi panas ini
> >Engkau tetap tunjukkan kekuasaan-Mu.
> >
> >
> >
> >-----Original Message-----
> >From: Miko Johan <[EMAIL PROTECTED]>
> 
> >
> >>Bagaimana jika berita seperti ini saja yang di broadcast ?
> >>
> >>
> >>-----Original Message-----
> >>From: Jhony Hartanta Sembiring <[EMAIL PROTECTED]>
> >>To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
> >>Date: 12 Maret 1999 10:35
> >>Subject: [ITB] Yang Menyejukkan di Ambon
> >>
> >>
> >>arsip -- http://nic.itb.ac.id/~arsip/itb/
> >>-----------------------------------------------------------------
> >>
> >>
> >>Ini saya forward email yang isinya mungkin dapat menyejukkan hati kita
> >>yang akhir-akhir ini agak panas soal kerusuhan Ambon
> >>
> >>Jhony Hartanta Sembiring
> >>------------------------
> >>         ARC ' ers
> >>
> >>> -----Original Message-----
> >>> From: Oeij Livia
> >>> Sent: Thursday, March 11, 1999 11:31 AM
> >>> To: Daniel Sutedja; Budi Sutjiono; julius; Kantor Ratna; Xytine
> >>> Cc: Sugondo; Monalita Ginting; Peter
> >>> Subject: FW: FW: Ternyata....
> >>> Importance: High
> >>>
> >>> Berita ini mungkin perlu kita ketahui untuk meningkatkan rasa
> persatuan
> >>> dan kesatuan dan integritas berbangsa dan bernegara.. semoga....
> >>> Ternyata .... tidak semua umat Kristen dan Islam yang saling bentrok,
> >>> masih banyak diantara dua umat ini yang justru saling melindungi ...
> >>> namun sisi-sisi positif dari orang-orang yang baik ini tidak
> ditunjukkan
> >>> di media masa.
> >>>
> >>> ----------
> >>>
> >>> From: Nunumete, Ria (Ria)
> >>> Sent: Tuesday, March 09, 1999 7:51 PM
> >>> Subject: Ternyata....
> >>>
> >>> Bahu-Membahu Muslim-Kristiani
> >>> Suatu sore di sebuah warung kopi di Kota Ambon. Belasan orang terlihat
> >>> memenuhi warung kopi-sebutan untuk restoran di sana-yang terbesar di
> kota
> >>> itu. Sejumlah laki-laki berkulit gelap, dengan rambut bergelombang,
> duduk
> >>> melingkari meja. Sedangkan lelaki berkulit agak terang, dengan rambut
> >>> lurus, mengikuti berita di pesawat televisi. Di dekat pintu masuk,
> >>> terlihat seorang lelaki berkulit kuning, dengan mata sipit, asyik
> >>> menikmati makannya. Masing-masing sibuk dengan keperluan mereka.
> >>> Mestinya tak ada yang istimewa dari pemandangan itu, sebagaimana
> >>> dituturkan seorang periset yang baru saja balik dari sana. Tapi
> setting
> >>> biasa tadi berlangsung di sebuah kedai kopi yang terletak di Jalan
> Sultan
> >>> Babulah, kurang lebih 300 meter dari Masjid Alfatah, tempat
> konsentrasi
> >>> masyarakat muslim Ambon.
> >>> Dan yang menarik, "potret" tersebut berlangsung di awal bulan ini,
> ketika
> >>> kerusuhan atas nama suku yang berlanjut dengan perseteruan atas nama
> >agama
> >>> masih meminta korban. "Tak ada Islam, tak ada Kristen, tak ada soal
> suku,
> >>> kami makan dengan tenang," kata mereka, seperti direkam sumber TEMPO
> itu.
> >>> Apakah penggalan "adegan" di atas cermin pela gandong yang kabarnya
> mulai
> >>> rontok? Mungkin ya, mungkin tidak. Tapi ada sederet cerita yang
> >mengungkap
> >>> sisi lain dari peristiwa kekerasan yang sedang mengharubirukan
> masyarakat
> >>> yang menghuni kawasan dengan sebutan seribu kepulauan tersebut. Tak
> >banyak
> >>> pihak yang memberikan perhatian khusus terhadap sisi plus yang perlu
> >>> dijaga. Tak percaya?
> >>> Coba simak kejadian di Desa Poka, di Leihitu, di bagian barat Pulau
> >Ambon,
> >>> yang mayoritas penduduknya beragama Kristen. Ada beberapa penduduk
> Islam
> >>> tinggal di sana. Tapi di desa ini tak pernah terjadi bentrokan.
> Kalaupun
> >>> ada orang Kristen dari desa lain yang hendak menyerang warga muslim
> Desa
> >>> Poka, penduduk Kristen di desa itulah yang maju menghadang mereka.
> Hingga
> >>> kini pun beberapa masjid dan gereja di desa ini masih tegak berdiri.
> >>> Unik juga yang tercatat di Desa Larike, di ujung barat Pulau Ambon.
> >>> Jumlah penduduk Islam dan Kristennya hampir berimbang. Ketika
> peristiwa
> >>> Ambon pecah, penduduk desa itu saling melindungi. Jika ada orang
> Kristen
> >>> yang datang untuk menyerang warga pemeluk Islam, warga desa yang
> beragama
> >>> Kristenlah yang maju menghadang penyerang. Ketika giliran ada orang
> Islam
> >>> yang akan menyerang, warga Islamlah yang menghadangnya.  Alhasil,
> >>> bentrokan tak terjadi di desa ini. Masjid dan gereja tak diusik.
> >>> Contoh lain terjadi pada 20 Februari lalu di Kampung Air Besar, di
> Kota
> >>> Ambon. Warga Kristen yang ada di kampung tersebut tiba-tiba diserbu
> oleh
> >>> warga Islam yang datang dari kampung tetangga. Tapi rombongan penyerbu
> >ini
> >>> akhirnya bisa dihalau karena kedatangan mereka sudah ditunggu oleh
> >>> sekelompok warga Islam Air Besar di sebuah jembatan yang tak jauh dari
> >>> kampung itu. Serangan pun urung dilakukan.
> >>> Begitu pula masyarakat di Desa Wakal, yang komposisi penduduk Islam
> dan
> >>> Kristennya hampir sama. Mereka saling melindungi. Kalau ada serbuan
> yang
> >>> dilakukan oleh pihak Kristen, yang menghadang adalah orang Kristen.
> Dan
> >>> kalau ada serbuan yang dilakukan orang Islam, yang menghadang adalah
> >orang
> >>> Islam. Masjid dan gereja di tempat ini pun tak tersentuh bara
> kemarahan.
> >>> Cerita yang lebih dramatis terjadi di Dusun Wahatu, Desa Wakal, yang
> >>> umumnya dihuni masyarakat asal Buton yang beragama Islam. Di dusun ini
> >>> bermukim tiga keluarga beragama Kristen. Salah satu di antaranya guru
> SD
> >>> di dusun itu. Sebelum 20 Januari-tanggal penyerbuan balasan oleh warga
> >>> Islam-keluarga Kristen tadi diberi tahu bahwa mereka akan diserang.
> >>> Karena itu, warga Buton menganjurkan agar mereka mengungsi. Untuk
> >>> sementara ketiga keluarga tadi disembunyikan di rumah tiga orang Buton
> >>> muslim.
> >>> Namun, sikap warga Wahatu asal Buton itu diketahui oleh para
> penyerang.
> >>> Karena itu, pihak penyerang, yang juga beragama Islam, mencaci-maki
> orang
> >>> Buton di Wahatu dan mengancam akan melanjutkan penyerangan.  Khawatir
> >>> ancaman itu benar-benar dilakukan, beberapa warga dusun ini lalu
> >>> memindahkan keluarga Kristen itu ke rumah-rumah mereka yang ada di
> >>> kebun-kebun di perbukitan. Keluarga Kristen tadi akhirnya diselamatkan
> >>> oleh petugas keamanan yang datang setelah dipanggil oleh warga Buton
> itu.
> >>> Konflik yang terjadi di Ambon agaknya memang tak bisa dilukiskan
> secara
> >>> hitam-putih. Masih banyak sisi lain yang mungkin tak begitu digubris
> >pers:
> >>> kerukunan warisan lama tradisi pela gandong yang tersisa di
> sudut-sudut
> >>> desa. Tapi tak ada seorang pun yang bisa meramal, akankah nilai-nilai
> >>> luhur tradisi ini bakal berumur panjang, meski cuma di secuil desa.
> >>> Apalagi jika sumbu konflik makin kerap dinyalakan dengan api kemarahan
> >>> yang kian panas.
> >>> Situasi keseharian yang terus mencekam bisa jadi pertanda buruk. Sebut
> >>> saja peristiwa "Subuh Berdarah" tempo hari. Jika tak dijelaskan duduk
> >>> perkara sesungguhnya, itu niscaya bakal memperburuk keadaan.
> >>> Dari gerakan Islam, mereka masih saja ngotot bahwa penembakan terjadi
> "di
> >>> dalam masjid", meski dibantah berdasarkan keterangan resmi pemerintah
> >>> setempat. Di sisi lain, kalangan Kristen malah mengungkit betapa
> pihaknya
> >>> tak kalah menderita.
> >>> "Tapi jangan sampai kerusuhan di Ahuru-Rinjani itu didramatisasi untuk
> >>> kepentingan politik," kata Ketua Klasis Gereja Protestan Maluku (GPM)
> >Kota
> >>> Ambon, Pdt. A.Z.E. Pattinaya. Ia menegaskan, warga jemaatnya tak
> pernah
> >>> dan tak akan menyerbu sesama bangsanya. "Peristiwa itu musibah yang
> tak
> >>> terpikirkan sebelumnya," kata Pattinaya.
> >>> Mungkin Pattinaya benar. Tapi di sejumlah desa yang sentimen suku dan
> >>> agamanya menggumpal, maut tetap saja menghadang. Pendatang masih kerap
> >>> ditanyai soal identitas agama dalam kartu penduduknya.
> >>> "Saya masih takut memasuki kawasan Kristen. Pernah saya masuk ke
> kantong
> >>> penduduk muslim, tapi mereka tak yakin, sampai saya disuruh membaca
> >>> syahadat," ujar seorang wartawan senior Antara yang telah
> bertahun-tahun
> >>> bertugas di Ambon.
> >>> Dari cerita di atas, tak mengherankan jika salah seorang anggota
> Kontras,
> >>> divisi antikekerasan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, yang
> >dikirim
> >>> ke Ambon belum lama ini, berpendapat bahwa kekerasan yang terjadi
> >bukanlah
> >>> perang agama, melainkan lebih merupakan frustrasi sosial yang
> menjadikan
> >>> agama sebagai identitas "pihak sana" lawan "pihak sini".
> >>> Ria Nunumete
> >>> Email : [EMAIL PROTECTED]
> >>> DID   : 8999 8769
> >>> Fax   : 8999 8766
> >>
> >>-----------------------------------------------------------------
> >>Unsubscribe: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
> >>isi e-mail "unsubscribe itb"
> >>atau dng mengirim email ke relayer itb-net di tempat masing masing
> >>------------------------------------------------------------------
> >>
> >>
> >>______________________________________________________________________
> >>To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
> >>To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> >>
> >>Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!
> >>
> >>
> >>
> >
> >
> >______________________________________________________________________
> >To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
> >To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> >
> >Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!
> >
> >
> >
> >
> 
> 
> Daniel H.T.
> 
> ______________________________________________________________________
> To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> 
> Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!
> 
> 

______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!


Kirim email ke