'Jangan Paksakan Kehendak Menolak Pemilu'

JAKARTA -- Sejumlah pihak dapat memahami adanya kelompok masyarakat yang meragukan 
keberhasilan pelaksanaan pemilu pada 7 Juni mendatang. Namun, mereka juga menegaskan 
agar kelompok itu tidak memaksakan kehendaknya mengajak anggota masyarakat lain untuk 
menolak ataupun menggagalkan pesta demokrasi tersebut.

''Kehendak untuk menolak pemilu itu adalah hal yang harus didialogkan. Mereka jangan 
memaksakan kehendak menolak pemilu kepada masyarakat lainnya,'' kata Wakil Ketua 
Komisi Pemilihan Umum (KPU), Adnan Buyung Nasution, di Jakarta akhir pekan lalu. 
''Sebab, proses pemaksaan kehendak untuk menolak pemilu, tidaklah akan membawa 
perbaikan proses demokrasi,'' tambahnya.

Buyung juga sangat mengecam jika kehendak menolak pemilu itu dipaksakan dengan 
cara-cara kekerasan. ''Berbeda pendapat boleh. Tapi, jangan sampai diakhiri dengan 
pemaksaan kehendak,'' ujarnya. Masalah pemilu itu dinilainya penting untuk dipecahkan 
dengan cara-cara yang dialogis.

Menurut Buyung, adalah baik jika pihak yang tidak setuju pemilu itu mengundang orang 
yang mendukung pemilu. ''Kemudian mereka berdua berdebat secara terbuka soal pemilu. 
Jangan lantas terjadi adu kekuatan antara pihak yang sepakat dengan pemilu dan mereka 
yang menolak, sehingga yang satu tidak menjegal yang lain,'' katanya.

Mantan Direktur YLBHI itu sendiri mengaku sangat mendukung penyelenggaraan pemilu 
mendatang. Oleh karena itu, lanjutnya, ia menyatakan siap diajak berdebat oleh mereka 
yang tidak sepakat dengan pemilu. Dengan perdebatan yang sehat, Buyung mengharapkan 
adanya satu visi soal pemilu. ''Mereka jangan hanya melakukan aksi-aksi yang 
mengedepankan emosi,'' ucapnya.

Kalangan yang tidak menghendaki pemilu itu, jelas Buyung, kebanyakan berasal dari 
kalangan garis keras. ''Mereka masih melihat secara hitam putih. Apa pun yang 
dilakukan pemerintah saat ini, apa pun yang dihasilkan DPR saat ini, bagi mereka 
adalah buruk,'' tegasnya. ''Mereka menghendaki perubahan secara drastis dan radikal.''

Buyung mengharapkan kelompok masyarakat yang secara radikal menolak pemilu itu bisa 
menghormati pendapat lain yang menginginkan pemilu. Alasan dia, dengan pemilu 
upaya-upaya ke arah perbaikan menjadi terbuka. Buyung menggambarkan bahwa kondisi yang 
ada saat ini sudah sangat berbeda dengan zaman Soeharto ketika berkuasa.

Pada zaman Soeharto, kata Buyung, perbedaan pendapat seperti menjadi hal yang tabu 
untuk dilakukan. ''Tapi saat ini orang boleh berbeda pendapat, rakyat tidak lagi 
dituntun seperti kerbau untuk menyalurkan suaranya dalam pemilu. Dalam kondisi seperti 
ini, sikap mengganti pemerintahan secara drastis tidak akan menghasilkan pemecahan 
masalah.''

Secara terpisah, mantan wakil presiden Try Soetrisno juga sangat mendukung pelaksanaan 
pemilu nanti. ''Sebab, pemilu inilah saat yang tepat untuk menuju demokrasi. Dengan 
pemilu juga nanti akan bisa dihasilkan pemerintahan yang lebih legitimated (sah),'' 
katanya.

Dengan alasan itu Try meminta masyarakat untuk sepenuhnya bisa membantu pelaksanaan 
pemilu yang jurdil. ''Soal jumlah peserta jangan dulu dipersoalkan. Yang penting 
bagaimana bisa menciptakan pemilu itu jurdil,'' tegasnya. ''Tidak jadi masalah peserta 
pemilu hanya 40 persen. Yang penting dalam pemilu itu tidak ada kecurangan yang 
menyakiti rakyat,'' sambungnya.

Try menyadari bahwa saat ini ada kalangan yang menolak adanya pemilu. Ia meminta 
kepada kalangan tersebut untuk bisa mengendalikan diri. ''Pikiran kita tenangkan, 
sehingga visi tetang demokrasi lewat jalur pemilu bisa terlihat lebih jernih. Dan, 
kondisi itulah yang saat ini sangat diperlukan untuk memperbaiki kehidupan bangsa.''

Senada dengan Buyung dan Try, Kaster TNI Letjen Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan 
boleh saja dan sebenarnya tidak salah ada pihak yang merasa khawatir dan pesimis 
pemilu nanti tidak berhasil. ''Barangkali pihak yang pesimis tersebut karena melihat 
betapa banyak hambatan, gangguan, dan masalah yang kita hadapi sekarang ini,'' katanya 
di Sesko TNI, Bandung, Jumat (16/4).

Namun, lanjut Yudhoyono, adalah tidak boleh jika kekhawatiran atau kecemasan tersebut 
disebarluaskan. ''Apalagi disertai upaya mempengaruhi masyarakat untuk tidak 
mempercayai pemilu,'' ujarnya.

Menurut Kaster, pemilu merupakan opsi terbaik karena, melalui wakil-wakil rakyat hasil 
pemilu, memilih pemimpin bangsa yang legitimated. ''Dengan demikian diharapkan [para 
pemimpin hasil pemilu] memimpin bangsa untuk keluar dari krisis, sehingga kehidupan 
rakyat dan bangsa Indonesia normal kembali.''

''Jika ada orang yang sekarang mengatakan MPR/DPR tidak legitimated, pemerintahan 
tidak legitimated, maka jalan keluarnya adalah melaksanakan pemilu secara jurdil, 
luber, aman, tertib, dan damai,'' tegas Yudhoyono.

Pada bagian lain Kaster mengatakan sikap netralitas TNI pada pemilu tidak bisa 
ditawar-tawar lagi. ''Kalau TNI tidak netral barangkali bisa mendorong terjadinya 
distorsi, kesalahan, ataupun cacat dalam pemilu,'' katanya.

----------------------------------------------------------------
Get your free email from AltaVista at http://altavista.iname.com

______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!


Kirim email ke