Betul Bung Hotman,
Semangat kebangsaan yang ada kadang masih kurang, tertutup oleh fanatisme
yang sering berkonotasi SARA. Yang ingin saya kemukakan (karena masalah SARA
udah banyak milisnya dan terlalu seru) justru kita harus ingat bahwa kita
masih dalam proses belajar... proses pendewasaan diri... dan menyadari
hakekat negara kesatuan...
Bahwa Arab tidaklah identik dengan Islam dan Barat tidaklah identik dengan
Kristen ataupun lainnya.
Bagi saya apa yang bung Hotman ungkapkan adalah 'tanggung jawab' orba...
Orba memang mengkondisikan hal-hal seperti itu...
misal kalau ada kerusuhan selalu etnis China yang jadi sasaran... bukan
tanpa sebab dong... selain KKN dsbnya yang udah banyak dibahas... khan
terbukti aparat seringkali 'terlambat' bereaksi dan yang berbuat seringkali
aman-aman saja jika ada hal-hal macam itu... justru rumah pejabat-lah yang
terjaga ketat lebih dahulu dan aman! Padahal nggak mungkin khan etnis
minoritas bisa digjaya tanpa peran serta yang amat besar dari
pemerintah?!... jelas mustahil dong..
kasihan etnis China yang jujur... mereka cuma menjadi korban saja...
(tentu saja saya tidak kasihan kepada etnis China yang terbukti
menyengsarakan rakyat!)
Di salah satu forum malah sempat terlontar bahwa etnis China memang menjadi
semacam saluran ketidakpuasan terhadap pemerintah... yang 'disediakan'
pemerintah... supaya pemerintah aman dan tidak menjadi sasaran...
(nggak komentar kebenaran hal ini).
Tugas-tugas kita sebagai generasi muda dan kaum reformis membenahi segala
compang-camping ini jika memang kita ingin menjadi bangsa yang besar - dan
utuh...
Soal Belo,
Saya pribadi tidak memandang rendah padanya - terbukti dengan diperolehnya
hadiah Nobel.
Tapi---menerima hadiah Nobel bukanlah berarti harus selalu dipandang tinggi.
Dalam beberapa komentarnya uskup Belo seringkali mendiskriditkan RI tanpa
menonjolkan peran RI, padahal kita semua tahu bahwa ucapan seorang Belo akan
berakibat luas...
Kalau memang dia seorang negarawan (selain rohaniawan) harusnya dia
memandang masalah tidak hanya semata-mata dari kacamata Belo seorang -
karena dampaknya tadi.
Kita toh juga tidak buta betapa RI sangat memanjakan si bungsu ini - selain
memang terbukti banyak pelanggaran HAM disana.
Memperjuangkan Timtim memang bagus - tapi harus tetap mementingkan dampaknya
ke pemerintah RI dong... mana bisa cuma menuntut doang...
Salam Perjuangan
-----Original Message-----
>
>Sangat positif memang kalu kita menyikapi persoalan TIMTIM dengan kepala
>dingin dan tentu tidak dengan menyudutkan kelompok atau oknum tertentu.
>Hanya ada hal yang aneh yang saya lihat dari cara berpikir di negara kita
>pada saat ini.
>Dari cara pandang kita sendiri, sering terlihat seolah negara Indonesia
>ini seperti suatu negara agama yang terdiri dari bangsa-bangsa, dan
>bukanya bangsa yang terdiri dari berbagai agama dan berbagai suku dan
>etnik. Mengapa saya berpikir demikian?
>Sering saya amati kalau ada persoalan di luar negeri kita bawakan kedalam
>negeri. Salah satu contoh misalnya denga apa yang terjadi di Bosnia.
>Langsung persoalan ini diaplikasikan di dalam negeri kita dengan ada yang
>pro dan tentu ada yang kontra. Kita lupa bahwa yang bertikai tadi bukan
>negara Indonesia tetapi kita ikut-ikutan bertikai jadinya dengan
>mengorbankan sesama bangsa kita sendiri. Terkadang persoalan tadi sampai
>berbuntut pada persoalan SARA.
>Kalau saya (Batak) misalnya berdampingan dengan seorang teman saya suku
>Jawa, hal yang paling kelihatan adalah kita bangsa apa dan bukan kita
>beragama apa. Tetapi sering kali poin yang terakhir ini menjadi landasan
>utama kita untuk berpikir.
>Salah satu contoh daerah yang paling bagus dijadikan contoh sebagai daerah
>yang demokratis adalah kota Medan - Sumut. Contoh yang paling nyata dapat
>kita ambil dari kesebelasan PSMS Medan, tercatat hanya satu orang
>Bataknya, yaitu Sahari Gultom sedangkan yang lainnya lebih didominasi oleh
>suku kita Jawa dan hasilnya adalah buat masyarakat Sumatera Utara sendiri.
>Dan hal lainnya yang saya perhatikan yang sedikit kontradiktif adalah dua
>persoalan di bawah ini:
>- Kita sering mengagungkan nama-nama orang dari negara lain tetapi
>melecehkan orang Indonesia sendiri pada hal orang Indonesia tersebut dapat
>penghargaan Internasional, contohnya Uskup Belo penerima hadiah Nobel
>Internasional di bidang perdamaian, padahal Belo itu sudah terangterangan
>mengatakan bahwa dia orang Indonesia. Tetapi kenyataan yang sering saya
>perhatikan bahwa Belo ini sering dianggap rendah oleh bangsa kita sendiri.
>
>- Sering saya lihat di Indonesia tentang anti Cina, pada hal kalau kita
>sadari bahwa yang mengangkat reputasi indonesia di event Olah Raga
>Internasional 'Olimpiade' adalah orang Indonesia etnis China - Susi
>Susanty.
>
>Mungkin banyak hal lain yang bersifat kontradiktif yang dapat mengubah
>cara pandang kita bangsa Indonesia, dan tentu tidak tertutup kemungkinan
>para penulis di milis ini, akan bangsa kita sendiri.
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!