Berita mengenai peringkat Korupsi Indonesia mencuat lagi. Dua pejabat yaitu Muladi dan Galib ketika diwawancarai oleh pers memberikan komentar yang membedakan integritasnya. Muladi mengatakan bahwa "kita harus menerima itu dan UU korupsi yang baru sedang dipersiapkan" Lain halnya dengan Galib yang mengatakan "kalian (pers) harus obyektif, kita telah bekerja keras. Hati-hati dengan pihak luar yang ingiun menjelek-jelekkan bangsa ini" Pernyataan itu jelas memberi gambaran mengenai posisi masing-masing dalam situasi reformasi saat ini. Bila Muladi bersikap arif dan dinamis untuk tidak bersikap negatif maka sebaliknya Galib justru sangat defensif dan sangat reaktif (terlihat dari nada bicara dan raut mukanya). Tanggapan seperti yang dikemukakan oleh Galib sudah banyak dikemukakan oleh para pejabat semasa Orba. Ambil contoh misal mengenai tanggapan Murdiono atau pejabat lain yang sangat defensif dan reaktif terhadap masalah korupsi di Indonesia. Oleh karena itu, tidak salah bila Galib dikatakan sebagai bagian dari Orba karena kemiripannya dalam bersikap terhadap sebuah kritik. Galib boleh saja mengatakan bahwa ia telah bekerja keras. Namun ia hendaknya menyadari bahwa KKN di Indonesia bersifat sistemik. Berita penyuapan terhadap pejabat di Indonesia oleh pengusaha Jepang dan kebocoran bantuan Bank Dunia apakah mungkin ia tangani dalam masa jabatannya? Seandainya saja Allah memberi manusia waktu 36 jam sehari maka ia belum tentu bisa menyelesaikannya karena sifat yang sistemik itu. Oleh karena itu, kita memang tidak bisa berharap banyak terhadap penyelesaian kasus-kasus KKN itu oleh pemerintahan Habibie. Harapan kita memang tergantung kepada pemerintahan hasil pemilu yad dimana saya sebagai bagian dari anak bangsa berharap k e b e n a r a n akan muncul dengan pengorbanan seminimum mungkin. Ibarat sel-sel kanker, sisakan seminimum mungkin sel-sel Orba itu dan kemudian di isolasi agar budaya KKN yang sistemik itu tidak menjadi epidemi di Indonisia. �� ______________________________________________________________________ To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED] To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!
