Menanggapi perbincangan ttg partai atau tokoh yang bukan Golkar...,
mudah-mudahan tulisan ini bisa membantu

Harian Rakyat Merdeka, 10 Mei 1999

SETAHUN SETELAH SOEHARTO


Oleh: Martin Manurung


 Semula, tulisan ini hendak berjudul �Setahun Tanpa Soeharto�. Namun penulis
merasa judul itu terlalu berlebihan, karena setahun setelah 21 Mei 1998,
Indonesia belum tanpa Soeharto. Manuver politik, KKN, pemutarbalikan lidah
khasnya dan ketiadaan supremasi hukum sebagai ciri-ciri rejimnya masih terus
terasa dan dipertontonkan oleh pemerintah ekstensi Orde Baru. Soeharto
memang telah menanggalkan singgasana kerajaannya, tetapi belum
meninggalkannya.

Flashback

 Duapuluh satu Mei 1999 nanti, tepatlah satu tahun sejak Soeharto menyatakan
berhenti dari jabatan kepresidenannya. Umumnya ada 3 kelompok analisis
perihal berhentinya Soeharto. Pertama, analisis seorang ekonom yang berkata
bahwa Soeharto berhenti karena tekanan depresiasi rupiah yang sangat
mendadak dan tajam. Depresiasi itu tentu membawa goncangan di sektor moneter
dan riil dengan mandeknya produksi, sehingga harga-harga meningkat pesat dan
terjadi krisis bahan pokok. Kondisi ini menyebabkan politik bahan pokok yang
selama ini sukses dilakukan Soeharto menjadi gagal total dan kelompok
oposisi (ekstra parlementer) mendapat legitimasi untuk memaksa Soeharto
mundur. Kedua, seorang aktivis mahasiswa akan berkata bahwa Soeharto mundur
karena desakan demonstrasi mahasiswa yang kala itu bergelora menuntut
kemunduran Soeharto dengan menduduki gedung MPR/DPR. Ketiga, adalah analisis
Soeharto sendiri yang dalam berbagai kesempatan berkata bahwa ia mundur atas
kehendak dan inisiatifnya sendiri (!), sambil disertai pertanyaannya,
�Apakah kondisi akan lebih baik kalau saya mundur? Apakah Habibie mampu
menggantikan saya dan diterima semua pihak? Apakah Indonesia tidak akan
terpecah-belah bila saya mundur?�.

 Bulan-bulan pertama setelah kemunduran Soeharto, dengan dilatarbelakangi
euphoria politik, banyak pihak tentu akan menafikan alasan ketiga yang
diberikan Soeharto. Demikian juga dengan penulis yang masuk ke kelompok
kedua dan turut menduduki gedung MPR/DPR. Tetapi, setelah setahun ini,
analisis dan pertanyaan Soeharto itu kian kuat terngiang-ngiang. Apakah
prediksi Soeharto yang menjadi kenyataan, ataukah Soeharto-lah yang membuat
prediksinya menjadi kenyataan? Jawabannya, masih abu-abu, Heaven knows.

 Setahun setelah Soeharto, sesungguhnya demonstrasi tidaklah berkurang.
Peristiwa Semanggi terjadi lebih mengerikan daripada Peristiwa Trisakti.
Kerusuhan-kerusuhan berlatar belakang suku dan agama pun semakin sering
dengan kualitas kesadisan yang semakin meningkat, jauh lebih biadab daripada
peristiwa Mei 1998. Lalu, mengapa pemerintahan Habibie tetap berdiri kokoh?
Apakah Habibie lebih kuat daripada guru besarnya itu? Tidak! Alasannya
adalah bahwa Habibie tidak mendapat legitimasi seluas Soeharto dan Habibie
adalah pemerintahan transisional, tidak seperti Soeharto
yang �seharusnya�definitif sampai 2003. Dengan demikian, Habibie tidak lebih
kuat daripada Soeharto.

 Rasa-rasanya, analisis Soeharto menemukan pembenarannya pada fakta diatas.
Soeharto memang turun atas inisiatif dan perhitungan politisnya yang merasa
lebih nyaman berada dibalik singgasananya. He is playing all the roles
behind the screen. Mungkin kesadaran faktual inilah yang mendorong seorang
tokoh Ciganjur untuk menemui Soeharto di Cendana beberapa waktu lalu.
Menariknya, upaya tokoh itu pun �seperti diakuinya sendiri�ternyata gagal
untuk meredam aktifitas politik Soeharto. Jadi, Soeharto dan pranata
rejimnya masih eksis dan kuat!

Status Quo dan Oposisi

 Lalu, dimanakah gerangan kelompok oposisi demokratis yang memelopori
reformasi itu? Kemanakah gigitan politiknya untuk memaksa penegakan hukum
dan demokrasi? Kemanakah suaranya untuk terus menuntut secara konsisten
pengungkapan kasus Trisakti, Semanggi, penculikan aktivis dan rekayasa
kasus-kasus SARA? Suara kaum reformis itu, kini bagaikan hilang ditelan
hiruk-pikuknya pemilu dan manuver politik kekuasaan.

 Setahun setelah Soeharto, ternyata Indonesia malah memiliki oposisi yang
berserakan. Kaum oposan itu berserak di banyak partai, kelompok dan sebagian
ada yang tetap berjuang sebagai individu. Sementara itu, disisi lain, kaum
status quo (istilah yang kini banyak dipakai bagi anggota eks rejim
Soeharto) malahan semakin solid dengan bargaining politik yang cukup
signifikan. Kaum status quo tetap eksis dan semakin gencar meniupkan
�paradigma baru�-nya (meskipun belum jelas apanya yang baru), sementara kaum
oposisi justru senang saling menyudutkan, berdebat (kusir) dan melakukan
manuver politik kekuasaan untuk sebesar-besar kursi kekuasaan bagi
kelompoknya sendiri. Masing-masing oposan mengklaim bahwa dirinya adalah
yang paling reformis sejati dan paling berperan memundurkan Soeharto. Mereka
lupa akan signifikannya peranan mahasiswa dan juga bahwa Soeharto masih
eksis.

PEMILU: Persimpangan Jalan

 Pemilihan Umum (Pemilu) sudah didepan mata. Banyak orang memandang Pemilu
sebagai pintu gerbang menuju Indonesia baru yang demokratis dan berkeadilan
tanpa kekerasan. Namun, rasanya probabilitas Pemilu sebagai pintu gerbang
itu masih belum signifikan utnuk membuat hati tidak was-was akan kebangkitan
kekuatan Soeharto. Alasannya adalah perundang-undangan politik dan produk
hukum lainnya yang masih dihasilkan kelompok status quo dan praktik politik
yang cenderung menguntungkan langkah kaum status quo untuk berkuasa lagi.

 Pemilu lebih tepat dimetaforkan sebagai persimpangan jalan; menuju
demokrasi, ataukah tetap tinggal dalam sangkar status quo Soehartois.
Tumpuan persoalannya kini bukan lagi pada kekuatan kelompok status quo,
sebab posisi politik mereka justru kini relatif lebih mudah dihitung dan
langkah politiknya memiliki track yang baku. Tumpuan persoalan, justru
terletak pada kaum reformis; sanggupkah membuktikan bahwa kelompok
pro-reformasi adalah lebih baik daripada kelompok pro-status quo? Menjelang
Pemilu ini, keprihatinan mendalam ditujukan pada kelompok reformis yang
justru saling menyudutkan dan melakukan manuver politik kekuasaan yang
sempit sebagaimana diuraikan diatas. Kelompok reformis terlihat begitu
enggan untuk berjalan seiring, melakukan koalisi reformasi serta
bersama-sama menyatukan kekuatan menghancurkan status quo Soehartois sampai
ke akar-akarnya. Egoisme politik dan ambisi kekuasaan justru terlihat
menonjol pada kelompok reformis.

 Karena itu, masa depan bangsa ini, sangatlah layak ditanyakan pada kelompok
reformis. Siapkah mereka mengubur egoisme politik dan bersama-sama
menumbangkan status quo untuk membawa bangsa dan negara Indonesia menuju
Indonesia baru yang dicita-citakan gerakan reformasi? Janganlah membuat
rakyat sulit untuk memilih persimpangan jalan itu. Biarlah hanya ada dua
pilihan: tetap di status quo dengan dipimpin kaum Soehartois, atau menuju
demokrasi dengan dipimpin kaum pro-reformasi.

Martin Manurung
Aktivis Mahasiswa UI.
Mahasiswa FEUI.
Ketua Pelaksana dan Presidium Forum Mahasiswa untuk Kerukunan Umat Beragama
(FORMA-KUB)






______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!


Kirim email ke