Pertama mendengar PDR, yang didalamnya ada Cacuk dan Adi Sasono, dengan ide
memberdayakan ekonomi rakyat-nya Prof Mubyarto, terbersit optimisme bahwa
Partai Reformis bertambah satu lagi.
Strategic Management bung Cacuk Sudaryanto nggak perlu diragukan. Bukti yang
sangat fenomenal adalah Telkom dan Bank Mega yang mampu membalik citra dan
kinerja dalam waktu sangat singkat. Karena itu kehadiran Cacuk di PDR tentu
bukan hanya latah-latahan.
Tentang sepak terjang Adi Sasono, mulai dari Dema ITB sampai LSM dan masuk
Kabinet sebagai portfolio reformis, sudah banyak diketahui.

Ketika dua penggagas PDR (Persatuan Daulat Rakyat) ini menyatakan akan 
membentuk sayap politik yang bernama PDR (Partai Daulat Rakyat), saya tahu ini
pasti bukan main-main.

Karena itu deklarasi partai yang cukup menggelegar, plus kecepatan pembentukan
Cabang untuk mendapat pengesahan kesebelasan Cak Nur, sama sekali tidak
mengejutkan.

Entah ada angin apa, Jumhur Hidayat yang dipasang sebagai Ketua PDR (Partai)
dengan lantang menolak hubungan PDR dengan Adi Sasono.
Ini blunder besar, karena rakyat sudah banyak tahu prosesnya. Mengapa Jumhur
berbohong? Apa yang disembunyikan?
Belakangan, lebih parah lagi, dalam membantah mencurangi JPS, malah dibilang
PDR itu dibentuk oleh massa koperasi, pedagang kecil-menengah, petani dan
nelayan. Mana ada orang percaya??
Aneh, ini aneh sekali. Mengapa harus berbohong??
Seandainya tanpa menyisipkan kebohongan, saya yakin PDR bakal banyak
pendukung.

Misalnya : Katakan saja idenya memang dari Adi Sasono, diilhami Prof Mubyarto,
dikemas oleh tim yang dipimpin Cacuk Sudaryanto. Berjuang untuk rakyat kecil.
Menggunakan dana sendiri, dan (sebisanya jua) mendompleng fasilitas Negara
secara tidak mencolok (untuk effisiensi). Massanya digiring dengan KUT, tetapi
mereka akan didampingi oleh tim LSM yang kompeten dan dibimbing sampai
berhasil pemasarannya, sehingga kreditnya nggak akan macet. Banyak hal yang di
instan-kan, tetapi tidak ada iktikad jelek, dan terbuka untuk diawasi
siapapun.
  
Orang jadi tahu duduk masalahnya, dan mendukung sebisanya. Setidaknya nggak
akan mengganggu.
Lebih mudah mencari justifikasi tentang pendomplengan fasilitas Depkop dan
JPS, daripada berbohong tidak ada hubungan dengan Adi dan Depkop.
Tapi kenyataannya lain.
Dengan berbohong begini, rakyat merasa dibodohi, lalu mencari tahu yang
terjadi sebenarnya, lalu bicara tentang fakta, seperti Wardah Hafids dan tokoh
LSM lainnya.
Padahal mereka "really at the same side", urusannya sama-sama membela rakyat
kecil.

Apa sih maunya PDR ini? Memangnya Jumhur itu siapa, bisa bikin parpol peserta
pemilu dalam sebulan, menggelar deklarasi di Senayan dengan semua peserta
dapat seragam dan diantar jemput dengan bus AC dan segudang tampilan mewah
lainnya atas nama rakyat kecil. Fatal bener.

Kita perlu Parpol macam PDR, tetapi jangan diisi pembohong !!
Adakah yang bisa menjelaskan kenapa Jumhur Hidayat cs. berbohong????


____________________________________________________________________
Get free e-mail and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1

------------------------------------------------------------------------
The Weather Underground. We provide weather across the world.
Visit http://clickhere.egroups.com/click/48


eGroup home: http://www.eGroups.com/group/reformasitotal
http://www.eGroups.com - Simplifying group communications

Kirim email ke