Galib membalas dengan langkah klise, membentuk tim, dengan sasaran supaya
tampak reformis dan ada kesempatan ngompas Eyang Sepuh.
Bunganya saja, taruhlah setengah persen sebulan, sudah 500 milyard bo...
Jadi kalau mahasiswa nggak cepat bereaksi, ya kita cuma lihat pingpong
politisi. Urusan Bank, lambat sedetik saja bisa hilang.
Tetapi kayaknya kita memang tidak akan mendapat apa-apa, karena :
1. Disini bermain sindikat penguasa (sepertyi pengakuan Galib) yang diback up
oleh corrupt professional, yang menghilangkan essensi dan menonjolkan teknik
hukum.
2. Layanan phone banking memungkinkan Soeharto menghilangkan jejak dalam waktu
singkat.
3. Tim yang independenpun masih doyan duit, apalagi 9 milyar dollar. Dapat
sepuluh persennya saja sudah mabok menghabiskannya.
4. Yang paling lantangpun (Amin Rais) hanya menuntut dana itu dibekukan.
Mengapa dibekukan, kan sudah ada surat kuasa pengambilan? Ya transfer saja toh
ke BI. Ini serius apa main-main.
Ya sudahlah, begini memang nasibnya reformasi.
Dulu nggak cepet-cepet ganti anggota DPR sehingga triliunan rupiah dimainkan
gengnya Habibie, sekarang nggak cepet ditarik dari Austria, maka hilanglah
segalanya.
Berpikir kedepan sajalah, semoga trio FAM (Faisal Basri, Alex Litay dan
Muhaimin Iskandar) segera merumuskan langkah strategis aliansi PDIP-PAN-PKB
sehingga masih ada harapan, walaupun harus kerja keras untuk waktu yang lama.

Regards,

Yap C. Young

"Amin Riza" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
TIME: There is evidence that $9 billion was transferred from Switzerland to
Austria under President Suharto's name. 
Kaligis: When I asked President Suharto about this, he told me: "I don't have
one cent abroad." And he gave absolute power of attorney to the Attorney
General to investigate. If he finds any evidence, Mr. Suharto is ready to be
brought to court. Therefore, I do not believe it is true. 

Ya Allah, berilah kekuatan moral kepada Andi Galib untuk menggunakan Surat
Kuasa dari Soeharto untuk mengambil uang itu dan disetor ke Kas Negara.

Biarlah harta lain yang cuma 6 milyar dollar itu diurus belakangan, karena
perkiraan terbaik Stephen Vickers dari Kroll Associates :.
In a case like that of the Suharto family, the search could last from one to
two years.

Kelamaan, dan keburu diganjal, karena sampai hari ini  Galib masih begini
macam :

TIME: On the basis of your investigation so far, do you suspect that Suharto
has broken the law in any respect? 
Ghalib: Yes, we suspect. 

TIME: Why haven't you asked foreign governments to freeze any assets that he
may have overseas? 
Ghalib: It's very hard, you know, without any proof, without any evidence. I
sent a letter to the foreign affairs minister [Ali Alatas] to find out whether
there is [money] abroad, in a bank, maybe some land, houses and so on. The
minister has found that there is nothing in the name of Suharto. 


Yang bohong Galib atau Alatas. Alatas bilang belum pernah menerima permintaan
itu dari Galib. Dan selama  Soeharto belum ditetapkan sebagai terdakwa, nggak
bakalan ada tracing yang berhasil, seperti   Galib sendiri bilang :

The search won't start in earnest unless the man in charge of the government's
investigation.

Jadi caranya kan sangat sederhana, tetapkan Soeharto jadi terdakwa, tarik dana
 dari Vienna , sewa Kroll Associates untuk mengurus sisanya sambil melanjutkan
proses pengadilan.

Itu kalau mau. Tapi kayaknya nggak mungkin terjadi sekarang, karena Galib 
bilang  :

Ghalib: Maybe the reason is, if we want to investigate all of them, because he
was the President, so, of course, many of them are connected, including us. 

Jadi yang berkuasa sekarang adalah geng perampok Negara, yang lebih sadis dari
penjahat manapun.

Apalagi :

some of his own staff members are not convinced the investigation is serious.
In the opinion of an official in the Attorney General's office, "Ghalib is on
a mission to protect Suharto." 

Jadi benar juga kalau Jeffrey Winters bilang :
so even if action is finally taken, Indonesians will get back almost nothing. 

Pramudya A. Toer  membuat flash back kontribusi para cendekiawan dalam
kebangkrutan Negara ini dengan :

The intellectuals ran for cover beneath Suharto's feet. No one, apart from a
few exiles, dared to challenge the New Order

Mereka adalah yang oleh Kroll Associates disebut :
corrupt professionals, yaitu ahli hukum yang selalu main akal-akalan  demi
uang, para pejabat tinggi yang selalu main kata-kata demi uang, para politisi
yang melingkar-lingkar demi uang dan lainnya.

Tak ayal lagi, produksi utama Indonesia selama Orde Baru adalah penjilat,
koruptor dan petualang kelas dunia.

Akhirnya, sebagai pembanding, inilah peringkat International perampok Negara :
(Kalau Soeharto udeh maen, yang lain kagak ade ape-apenye, bo .)

FAMILY MAN
Though the fortune has dwindled, Suharto & Co. still sit on $15 billion 

KLEPTOCRAT
Philippines' dictator Ferdinand Marcos, ousted in 1986, stole up to $10
billion 

INSATIABLE
Zaire's Mobutu Sese Seko piggy-banked $5 billion before his overthrow in 1997 

EMPEROR
Ethiopia's Haile Selassie, ousted in 1974, had stockpiled $2 billion 

BABY DOC
When he fell from power in 1986, Haiti's Jean-Claude Duvalier made off with
$500 million 

Hebatnya, Soeharto sekeluarga masih tenang-tenang saja dirumahnya, atau dimana
mereka mau, sementara kalangan reformis berebut cuci piring



Get your FREE Email at http://mailcity.lycos.com
Get your PERSONALIZED START PAGE at http://my.lycos.com

______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!





____________________________________________________________________
Get free e-mail and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1

______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!



Kirim email ke