Non-Islam di PDI-Perjuangan
Tak sedikit posting yang berusaha agar PDI-Perjuangan bisa dianggap
pantas untuk tidak dipilih. Mulai dari isu 'wanita tak pantas jadi
presiden', sampai ke urusan 'caleg PDI-Perjuangan didominasi
non-Islam'.
Sebenarnya, kenapa risau ?
Banyak contoh, wanita bisa memimpin. dari skala kecil, keluarga, sampai
skala perdana menteri hingga presiden. Jelas semuanya bukan 'asal
perempuan' atau 'demi emansipasi'. Mereka terpilih, karena mereka jago.
Setidaknya, dianggap lebih jago dibanding laki-laki atau perempuan,
bahkan, yang ada saat itu. Stok terbaik, atau kalau agak sedikit
merendah, terbaik-di-antara-terjelek. Why not, to?
Megawati, misalnya, seandainya (oh... pasti gih!) jadi presiden, maka
cara ia mengendalikan pemerintahan tak ubahnya seperti saat ini ia
mengendalikan partainya. Coba perhatikan, Kwik (kagumku pada bliouw)
bisa menuliskan pendapatnya mengenai bagaimana sebaiknya masa depan
ekonomi Indonesia, tetap boleh pakai namanya sendiri, meski dengan
latar belakang Litbang PDI-Perjuangan sebagai organisasinya. Kwik tetap
mengeliarkan pendapat briliannya, tanpa bilang bahwa ini adalah 'atas
petunjuk ibu mega'.
Selain itu juga Prof. Dimyati (calon Jaksa Agung, kalau boleh aku
usulkan). Tak pernah beliau terlihat mengemukakan pendapat dengan
berlindung di balik nama Megawati.
Artinya apa?
Pemerintahan mendatang adalah pemerintahan yang memberikan kebebasan
pada akal sehat, dan pertimbangan nalar serta ilmiah yang dijunjung
tinggi. Pemerintahan seperti itu tak akan memberikan tempat kepada
pelacur-pelacur, yang membenar-benarkan sesuatu yang salah (bagaimana
menteri pertanian yang insinyur pertanian bisa menyetujui penebangan
pohon cengkeh, hanya karena order BPPC, apa itu bukan diancuk!).
Ada posting lain yang mengatakan ketakutan PDI-Perjuangan akan kekuatan
Islam. Jika Islam kuat, maka PDI-Perjuangan akan sekarat, katanya.
Ini jelas pola pikir yang amburadul belaka. Terus bagaimana pikiran
ngelu ini bisa menterjemahkan terjadinya koalisi PDI-Perjuangan dengan
PKB dan PAN? Bukankah justru ini adalah partai yang memiliki massa umat
Islam yang realistis terbesar di negeri ini. Coba kalau tidak percaya,
kita buktikan seusai pemilu nanti. partai yang gambarnya merepotkan
karena ada tulisan dengan huruf non-latin itu pasti cuma kebagian kursi
paling banter 2 (bukan 2% seperti angan-angan Agus Miftah, yang kalau
dikalikan 35 partai jadi 70% itu). PAN dan PKB pasti lebih besar
dibandingkan dengan jumlah kursi segenap partai Islam. PAN dan PKB,
terangan atau tidak-terang, jelas partai yang (dominan) Islam. dan ini
berada dalam koalisi dengan partai PDI-Perjuangan. Adakah yang
sedemikian itu berarti PDI-Perjuangan takut (kepada) kelompok Islam?
Isu lain yang gencar, agar umat Islam tak memilih PDI-Perjuangan adalah
karena caleg PDI-Perjuangan banyak non-Islam.
Banyak, berarti lebih dari suatu jumlah tertentu, sehingga kelihatan
sosoknya. Tetapi banyak tak berarti mayoritas. Seperti beras yang ada
kerikilnya. Kita bilang banyak, karena ada 2-3 kali ketika mengunyah
kita menggigit batu.
Tetapi partai jelas bukan beras. Kalau batu itu mayoritas, maka bukan
beras namanya. sementara kalau parti PDI-Perjuangan punya caleg
non-Muslim, dan bahkan mayoritas sekalipun, tetap bukan soal. Justru di
sinilah kebesaran Islam sebagai agama dan landasan bagi kebangsaan
negeri ini. Bukankah partai-partai Islam, seperti PAN dan PKB juga,
pasti mayoritas calegnya beragama Islam? jadi, mengapa mesti semua
partai harus mencaleg-kan seseorang hanya dengan pertimbangan agamanya?
Ada paradoks yang getir di sini. Islam yang mayoritas merupakan agama
yang dipeluk oleh bangsa ini, selalu ditampilkan sebagai kelompok yang
tak memperoleh haknya di negeri ini.
Memang akan kelihatan demikian jika kita hanya melihat begitu banyak
kuli dan tukang becak yang beragama Islam. Lha bagaimana, wong memang
mereka adalah mayoritas, kok.
GIGIH
_____________________________________________________________
Do You Yahoo!?
Free instant messaging and more at http://messenger.yahoo.com
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!