Terkadang internet membawa dampak tertentu. Terlebih jika berita yang diterima belum jelas kebenarannya, seperti halnya kita belajar utk selalu tetap waspada. To2 ============================================ Berita REPUBLIKA : Awas Teror di Internet (1) Pekan lalu beredar kabar seram tentang nasib seorang anak balita. Ceritanya kira-kira begini: Seorang ibu mengajak anaknya yang berusia lima tahun ke sebuah mal. Di mal yang tak disebut namanya itu, si anak merengek minta dibolehkan mandi bola, mandi di semacam kolam tertutup yang dipenuhi ribuan bola sebesar bola tenis. Permintaan anak kesayangan itu segera dituruti sang ibu. Sepulang dari mal, badan sang anak tiba-tiba panas. Panas itu terus berlanjut hingga keesokan harinya dibawa ke dokter. Tapi, anak yang sedang lucu-lucunya itu tak tertolong. Ia dinyatakan meninggal karena gigitan binatang berbisa. Cerita masih berlanjut. Orang tua si anak yang penasaran segera datang ke mal tempat sang anak mandi bola. Dia yakin, kalau anaknya digigit binatang berbisa, di situlah satu-satunya kemungkinan. Manajer tempat permainan itu tentu saja menolak tuduhan itu. Tapi, si orang tua itu ngotot dan menuntut agar kolam mandi bola dibongkar untuk membuktikan tuduhannya. Setelah diancam kasus ini akan diadukan ke koran, sang manajer bersedia membongkar kolamnya. Dan, benar, selain ribuan bola di dalamnya terdapat ratusan ular kecil sebesar pensil. Anda sempat mendengar isu itu dan percaya? Jika benar, Anda tak sendirian. Ratusan, mungkin ribuan orang tua mendengar cerita yang sama. Cerita ini begitu meyakinkan sehingga hampir semua yang mendengarnya percaya begitu saja. Mereka tak lagi sempat berpikir apakah mungkin ada ular bisa hidup di tempat seperti itu. Mereka juga tak peduli bahwa cerita itu tidak menyebut nama mal, kapan kejadiannya, atau siapa dokter yang menangani kasus ini. Pokoknya, ''Saya putuskan melarang anak saya mandi bola, betapapun dia merengek-rengek,'' kata Hidayat (32), seorang eksekutif sebuah perusahaan penerbitan di Jakarta. Melacak dari mana asal-muasal cerita seram ini sungguh sulit. Yang pasti, kisah ini bermula dari surat elektronik (e-mail) yang terkirim sekaligus ke beberapa pengguna internet. Berikutnya, penerima surat ini meneruskan ke teman-temannya, dan teman itu ke temannya lagi, demikian seterusnya. Cerita pun makin tersebar luas karena surat itu dicetak (print), difotokopi, lalu kembali diedarkan ke orang lain. Pengirim kabar pun belum tentu orang yang tidak dikenal. Purna (32), karyawan swasta di Jakarta, mengaku menerima e-mail tentang kasus ini dari seorang temannya. ''Tapi teman saya itu pun menerima dari temannya, dan temannya itu juga dari temannya, lalu tak jelas lagi dari mana berasal,'' kata Purna yang sempat penasaran dan ingin kontak langsung dengan penulis surat yang asli. Jelas, ini bukan isu pertama dari internet yang ditelan begitu saja. Tahun 1998 masyarakat panik dan ramai-ramai menarik uangnya di BCA, karena mendengar Oom Liem, pemilik saham terbesar BCA, sakit setelah dirawat di Singapura. Isu ini beredar begitu cepat. Semula terdengar sekitar pukul 10.00 di Medan -- konon awal isu datang dari bursa saham Singapura -- dan segera merambat ke seluruh Indonesia. Media penyebarannya lewat telepon, faksimile, dan terutama internet. Gelombang rush baru mereda setelah Oom Liem sendiri sore itu juga tampil di TV dalam keadaan sehat wal afiat. Isu yang paling spektakuler dan menginternasional mungkin kisah Vivian. 'Gadis' ini menulis kisah dirinya ketika diperkosa saat kerusuhan Mei 1998. Ceritanya begitu rinci dan lengkap dengan detail waktu serta tempat. Beberapa media massa cetak nasional secara bersemangat kemudian mengutip dan melaporkan kisah itu. Namun, pelacakan yang dilakukan majalah D&R sebulan setelah isu itu beredar menunjukkan beberapa kejanggalan. Kesimpulannya, kisah Vivian ini meragukan. Janggal atau tidak, kisah itu segera menjadi bumbu isu politik tentang pemerkosaan wanita-wanita keturunan Cina, Mei lalu. Masih ada cerita lain dan ini terjadi hanya beberapa bulan sebelum isu tentang mandi bola. Kali ini ceritanya tentang ramalan dari -- konon -- peramal besar abad ke-19 asal Spanyol, Juan Paul Valdez. Alkisah, Valdez mampu meramal dengan ketepatan seperti peramal besar Prancis, Nostradamus. Salah satu ramalan Valdez menyebut sebuah negeri yang ciri-cirinya mirip Indonesia tahun ini akan mengalami kerusuhan dahsyat. Detail ramalan Valdez begitu rinci sehingga orang segera mengaitkan tokoh-tokoh dan peristiwa dalam ramalan itu dengan kondisi Indonesia pasca-Soeharto. Kabar ini pun segera dipercaya. Dayat, pengusaha muda Bandung yang tak biasa membuka internet, adalah salah satu contohnya. Ketika menerima print out dari temannya tentang ramalan Valdez itu, ia mengaku sangat terpengaruh. Dayat pun tak mau mengambil risiko. Rencana pernikahannya yang semula Mei 1999 ia ajukan menjadi akhir Januari lalu ''Jangan-jangan, kerusuhan yang diramalkan itu benar terjadi, dan kalau ada sesuatu yang menimpa saya, saya rugi belum nikah,'' kata Dayat. Kedutaan Besar Spanyol di Jakarta sempat dibuat repot gara-gara isu ini. Ratusan telepon berdering menanyakan benarkah ramalan itu dan siapa sebetulnya si Juan Paul Valdez. ''Ini telepon ke sekian puluh kali dan jawaban kami tetap: Tidak ada peramal dari Spanyol bernama Juan Paul Valdez,'' kata staf kedubes Spanyol ketus ketika dihubungi wartawan. Pelacakan oleh tabloid Kontan kemudian menemukan banyaknya kejanggalan menyangkut ramalan maupun nama Paul Valdez. Misalnya, tak pernah ada nama seperti itu dalam daftar kepustakaan dunia. Lagi pula, nama orang Spanyol biasanya bukan Paul, tapi Pablo. Dan, kesimpulannya lagi-lagi kisah ini sulit dipercaya kebenarannya. Meski kemungkinan cerita tentang ramalan Valdez itu cuma rekaan, namun korbannya cukup banyak. Majalah Gatra (15/V, 27/2/99) melaporkan banyak WNI keturunan Cina yang termotivasi mengungsi ke luar negeri gara-gara teror Valdez ini. Begitulah, internet telah menjadi media penyebar informasi yang besar pengaruhnya. Banyak informasi yang sahih, tapi yang tak jelas asal-usulnya pun sangat mudah masuk. Khusus bagi masyarakat Indonesia, menurut pakar Internet ITB Onno W Poerbo, keterbukaan di internet yang kontras dengan pembatasan atas media massa pada zaman Orba, membuat media itu dengan cepat jadi tempat alternatif untuk berbicara. ''Mungkin karena faktor itu, orang dengan leluasa memanfaatkan internet untuk bicara apa saja, kemudian disebarkan kepada orang lain dengan bebas pula,'' kata Onno sembari mengatakan jumlah pengguna internet di Indonesia sendiri pada saat ini belum mencapai angka 500 ribu orang. Tapi kenapa orang mudah percaya? Menurut Country Manager PT Intel Indonesia, Werner Sutanto, saat ini pengguna internet di Indonesia adalah opinion leader di lingkungannya masing-masing. Penyebabnya, ujarnya, karena internet masih dipandang barang canggih oleh sebagian besar masyarakat. Lantas saja, pemakainya juga dipandang lebih pandai dan kata-katanya perlu dipercaya. Celakanya, tak banyak yang sadar akan status opinion leader tersebut, termasuk mereka yang bekerja di media massa cetak. Inilah yang terjadi pada kasus Vivian. Ketika informasi tak benar itu ditulis ulang di media cetak begitu saja, kata Onno, informasi itu seperti memperoleh 'cap' pembenaran. ______________________________________________________________________ To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED] To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!
