-----Original Message-----
From: Dedi Sumardi <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Tuesday, May 25, 1999 8:28
Subject: [Kuli Tinta] THE MASSACRE PLAN.
>Betul, saya setuju dengan pendapat Bung Zamrud. Dalam menanggapi segala
>sesuatu, ada baiknya bila kita tidak langsung percaya namun juga tidak
>lengah. Mari kita tanggapi segala rumors dengan kejernihan berfikir dan
>kewaspadaan penuh, serta yang terutama berdo'a mohon perlindungan dan
>pertolongan dari Tuhan YME.
Saya juga sependapat.. untuk menghadapi hal seperti ini, kita memang tidak
boleh langsung percaya. Namun kita juga tetap harus siap terhadap segala
kemungkinan. Berita-berita seperti itu adalah berita yang membuat bertambah
besarnya rasa curiga, rasa tidak aman, dan siapa lagi kalau bukan ulah
provokator?
Untuk itu, kita juga harus menghindari supaya kita tidak menjadi provokator
juga..
Ini ada kutipan berita.. mudah-mudahan bisa jadi bahan masukan
peace,
DEZIG!
--------------------------------------------------------------------
Berita REPUBLIKA :
Awas Teror di Internet (1)
Pekan lalu beredar kabar seram tentang nasib seorang anak balita. Ceritanya
kira-kira begini: Seorang ibu mengajak anaknya yang berusia lima tahun ke
sebuah mal. Di mal yang tak disebut namanya itu, si anak merengek minta
dibolehkan mandi bola, mandi di semacam kolam tertutup yang dipenuhi ribuan
bola sebesar bola tenis.
Permintaan anak kesayangan itu segera dituruti sang ibu. Sepulang dari mal,
badan sang anak tiba-tiba panas. Panas itu terus berlanjut hingga keesokan
harinya dibawa ke dokter. Tapi, anak yang sedang lucu-lucunya itu tak
tertolong. Ia dinyatakan meninggal karena gigitan binatang berbisa.
Cerita masih berlanjut. Orang tua si anak yang penasaran segera datang ke
mal tempat sang anak mandi bola. Dia yakin, kalau anaknya digigit binatang
berbisa, di situlah satu-satunya kemungkinan.
Manajer tempat permainan itu tentu saja menolak tuduhan itu. Tapi, si orang
tua itu ngotot dan menuntut agar kolam mandi bola dibongkar untuk
membuktikan tuduhannya. Setelah diancam kasus ini akan diadukan ke koran,
sang manajer bersedia membongkar kolamnya. Dan, benar, selain ribuan bola di
dalamnya terdapat ratusan ular kecil sebesar pensil.
Anda sempat mendengar isu itu dan percaya? Jika benar, Anda tak sendirian.
Ratusan, mungkin ribuan orang tua mendengar cerita yang sama.
Cerita ini begitu meyakinkan sehingga hampir semua yang mendengarnya percaya
begitu saja. Mereka tak lagi sempat berpikir apakah mungkin ada ular bisa
hidup di tempat seperti itu. Mereka juga tak peduli bahwa cerita itu tidak
menyebut nama mal, kapan kejadiannya, atau siapa dokter yang menangani kasus
ini. Pokoknya, ''Saya putuskan melarang anak saya mandi bola, betapapun dia
merengek-rengek,'' kata Hidayat (32), seorang eksekutif sebuah perusahaan
penerbitan di Jakarta.
Melacak dari mana asal-muasal cerita seram ini sungguh sulit. Yang pasti,
kisah ini bermula dari surat elektronik (e-mail) yang terkirim sekaligus ke
beberapa pengguna internet. Berikutnya, penerima surat ini meneruskan ke
teman-temannya, dan teman itu ke temannya lagi, demikian seterusnya. Cerita
pun makin tersebar luas karena surat itu dicetak (print), difotokopi, lalu
kembali diedarkan ke orang lain.
Pengirim kabar pun belum tentu orang yang tidak dikenal. Purna (32),
karyawan swasta di Jakarta, mengaku menerima e-mail tentang kasus ini dari
seorang temannya. ''Tapi teman saya itu pun menerima dari temannya, dan
temannya itu juga dari temannya, lalu tak jelas lagi dari mana berasal,''
kata Purna yang sempat penasaran dan ingin kontak langsung dengan penulis
surat yang asli.
Jelas, ini bukan isu pertama dari internet yang ditelan begitu saja. Tahun
1998 masyarakat panik dan ramai-ramai menarik uangnya di BCA, karena
mendengar Oom Liem, pemilik saham terbesar BCA, sakit setelah dirawat di
Singapura. Isu ini beredar begitu cepat.
Semula terdengar sekitar pukul 10.00 di Medan -- konon awal isu datang dari
bursa saham Singapura -- dan segera merambat ke seluruh Indonesia. Media
penyebarannya lewat telepon, faksimile, dan terutama internet. Gelombang
rush baru mereda setelah Oom Liem sendiri sore itu juga tampil di TV dalam
keadaan sehat wal afiat.
Isu yang paling spektakuler dan menginternasional mungkin kisah Vivian.
'Gadis' ini menulis kisah dirinya ketika diperkosa saat kerusuhan Mei 1998.
Ceritanya begitu rinci dan lengkap dengan detail waktu serta tempat.
Beberapa media massa cetak nasional secara bersemangat kemudian mengutip dan
melaporkan kisah itu. Namun, pelacakan yang dilakukan majalah D&R sebulan
setelah isu itu beredar menunjukkan beberapa kejanggalan. Kesimpulannya,
kisah Vivian ini meragukan. Janggal atau tidak, kisah itu segera menjadi
bumbu isu politik tentang pemerkosaan wanita-wanita keturunan Cina, Mei
lalu.
Masih ada cerita lain dan ini terjadi hanya beberapa bulan sebelum isu
tentang mandi bola. Kali ini ceritanya tentang ramalan dari -- konon --
peramal besar abad ke-19 asal Spanyol, Juan Paul Valdez. Alkisah, Valdez
mampu meramal dengan ketepatan seperti peramal besar Prancis, Nostradamus.
Salah satu ramalan Valdez menyebut sebuah negeri yang ciri-cirinya mirip
Indonesia tahun ini akan mengalami kerusuhan dahsyat. Detail ramalan Valdez
begitu rinci sehingga orang segera mengaitkan tokoh-tokoh dan peristiwa
dalam ramalan itu dengan kondisi Indonesia pasca-Soeharto.
Kabar ini pun segera dipercaya. Dayat, pengusaha muda Bandung yang tak biasa
membuka internet, adalah salah satu contohnya. Ketika menerima print out
dari temannya tentang ramalan Valdez itu, ia mengaku sangat terpengaruh.
Dayat pun tak mau mengambil risiko. Rencana pernikahannya yang semula Mei
1999 ia ajukan menjadi akhir Januari lalu ''Jangan-jangan, kerusuhan yang
diramalkan itu benar terjadi, dan kalau ada sesuatu yang menimpa saya, saya
rugi belum nikah,'' kata Dayat.
Kedutaan Besar Spanyol di Jakarta sempat dibuat repot gara-gara isu ini.
Ratusan telepon berdering menanyakan benarkah ramalan itu dan siapa
sebetulnya si Juan Paul Valdez. ''Ini telepon ke sekian puluh kali dan
jawaban kami tetap: Tidak ada peramal dari Spanyol bernama Juan Paul
Valdez,'' kata staf kedubes Spanyol ketus ketika dihubungi wartawan.
Pelacakan oleh tabloid Kontan kemudian menemukan banyaknya kejanggalan
menyangkut ramalan maupun nama Paul Valdez. Misalnya, tak pernah ada nama
seperti itu dalam daftar kepustakaan dunia. Lagi pula, nama orang Spanyol
biasanya bukan Paul, tapi Pablo. Dan, kesimpulannya lagi-lagi kisah ini
sulit dipercaya kebenarannya.
Meski kemungkinan cerita tentang ramalan Valdez itu cuma rekaan, namun
korbannya cukup banyak. Majalah Gatra (15/V, 27/2/99) melaporkan banyak WNI
keturunan Cina yang termotivasi mengungsi ke luar negeri gara-gara teror
Valdez ini.
Begitulah, internet telah menjadi media penyebar informasi yang besar
pengaruhnya. Banyak informasi yang sahih, tapi yang tak jelas asal-usulnya
pun sangat mudah masuk.
Khusus bagi masyarakat Indonesia, menurut pakar Internet ITB Onno W Poerbo,
keterbukaan di internet yang kontras dengan pembatasan atas media massa pada
zaman Orba, membuat media itu dengan cepat jadi tempat alternatif untuk
berbicara. ''Mungkin karena faktor itu, orang dengan leluasa memanfaatkan
internet untuk bicara apa saja, kemudian disebarkan kepada orang lain dengan
bebas pula,'' kata Onno sembari mengatakan jumlah pengguna internet di
Indonesia sendiri pada saat ini belum mencapai angka 500 ribu orang.
Tapi kenapa orang mudah percaya?
Menurut Country Manager PT Intel Indonesia, Werner Sutanto, saat ini
pengguna internet di Indonesia adalah opinion leader di lingkungannya
masing-masing. Penyebabnya, ujarnya, karena internet masih dipandang barang
canggih oleh sebagian besar masyarakat. Lantas saja, pemakainya juga
dipandang lebih pandai dan kata-katanya perlu dipercaya.
Celakanya, tak banyak yang sadar akan status opinion leader tersebut,
termasuk mereka yang bekerja di media massa cetak. Inilah yang terjadi pada
kasus Vivian.
Ketika informasi tak benar itu ditulis ulang di media cetak begitu saja,
kata Onno, informasi itu seperti memperoleh 'cap' pembenaran.
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!