Antara Rasionalitas dan Emosionalitas
Mencermati masa kampanye Pemilu saat ini, kaum intelektual bangsa
ini sudah saatnya mulai memikirkan antara keberlanjutan reformasi dengan
segala cita-cita nya dengan "rasionalitas" para pemilih saat ini.
Ternyata, masih cukup banyak manyarakat kita yang memilih karena alasan
emosionalitas semata atau "ketaklidan" terhadap simbol-simbol semata,
tanpa mau tahu soal program dan visi partai politik yang bersangkutan.
Kita sangat khawatir akan masa depan bangsa ini bila Pemilu dimenangkan
oleh partai-partai yang mengusung jargon-jargon simbolik semata tanpa
pernah mau tahu bahwa hal itu membodohkan rakyatnya sendiri.
Memang, kalau kita bicara masyarakat kita secara umum, memang
faktanya mayoritas rakyat kita belum terlalu berpikir rasional kok.
Masih banyak kalangan rakyat jelata yang berpedoman pada ramalan/tahyul
dan sebagainya. Ini menyebabkan begitu banyak majalah mistik laku dijual
di masyarakat. Tak banyak rakyat kita yang percaya pada analisis
kuantitatif. Kalau menurut
istilahnya Sartre, mayoritas cara hidup masih dikendalikan oleh alam
bawah sadar yang
massive, dan hanya sebagian kecil rasio (teori gunung es).
It turns out, even with the so called 'rationality' people can
misjudged/be mislead on anything, or getting too convinced with their
own rational. (Tolong benerin kalau salah. Saya mau ikutan gayanya
Martin Manurung yang senang komentar keInggris-Inggrisan itu, hahahaha).
Anyway, ini bukan pekerjaan semalam. Adalah ilusi juga kalau
mengharapkan bahwa semua masalah akan selesai kalau partai yang kita
anggap pilihan paling 'rasional' akan memenangkan Pemilu . Justru memang
kita harus mengharapkan Reformasi II setelah pemilu nanti, siapapun yang
menjadi 'pemenang' pemilu. Reformasi I hanyalah untuk membersihkan
parlemen dari laten orde baru (ini istilah abstrak...bukan hanya
partai/manusia orba saja...tapi juga mentalitas
yang sedikit banyak sudah mencemari diri kita secara bawah sadar. Akui
saja sendiri. Anda yang mengaku reformis-pun harus mengakui kenyataan
itu.)
Pada reformasi II (pasca pemilu), setelah semua sudah berada dalam
equal level playing field, silahkan saling mengadu ide/gagasan yang
dirasa paling baik. Mekanisme pasar akan menentukan, mana yang 'dibeli'
oleh masyarakat. Jadi kalau ketaklidan masyarakat itu sekarang
tersalurkan melalui figur Megawati, ya biarkan saja....Toh memang
faktanya mayoritas masyarakat kita
masih selalu mencari mitos buat ditakdil-i. Ini lebih baik daripada
taklid kepada Soeharto, dan lebih jauh menjadi resistance power terhadap
sisa-sisa kekuatan ex orba. Sekali lagi, ini pertimbangan taktis saja.
Meminjam istilah Nurcholis Madjid yang pernah saya baca di sebuah
milis, 'solidarity making' type of leader seperti Gus Dur atau Megawati
toh masih dibutuhkan, walaupun perannya lambat laun harus harus
ditransfer ke 'problem solving' type of leader seperti Amien Rais atau
Yusril atau justru Akbar Tandjung (?).
Kalau ingin meperbaiki ini, pelan-pelan. First, make sure that we
sweep out all the so called 'laten orba' di reformasi I, setelah itu
adalah pekerjaan rumah kita bersama untuk membuat equal playing field
yang tersedia bisa dimanfaatkan buat membuat masyarakat kita lebih
'terdidik', sebagaimana cita-cita Syahrir, Hatta, Tan Malaka dan
kawan-kawan. (Saya penganut prinsip mereka dan karena itu saya menolak
berpartai serta mengkampanyekan Pendidikan Politik seluas-luasnya bagi
rakyat, dan membangun system yang 'cerdas' (ini istilah Nirwan Ahmad
Arsuka, kolega saya di UGM) yang mampu melakukan self correction, self
critics dan sebagainya dan seterusnya.
Iwan Sams
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
TUNTASKAN REFORMASI: Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!