Koinsidensi? Bagi-bagi KUT, agar lebih cepat karena tak harus melalui birokrasi yang sudah terkontaminasi orde-baru, maka AS menggandeng kampus, koperasi dan LSM untuk mengatur pembagian KUT. Bagus. Sadar betul si AS ini mengenai kebobrokan birokrasi negeri ini. Sementara rakyat supermiskin sudah hampir tercekik, antara lain petani. Langkah yang diambil AS benar-benar shortcut yang piawai. Sejauh itu, masih bagus. Bersamaan dengan itu, prosedur bikin koperasi dibuat enteng betul. Beda ketika orde orbaniyah-nan-jahiliyah sebelumnya. Maka berbondong-bondong orang bikin koperasi dan LSM (saya juga diajak, setidaknya oleh tiga teman saya). Salah satu daya tarik adalah kesempatan membagi KUT. Masih hebat. memang begitulah mestinya. masa iya bikin koperasi mesti repot, dan mahal? Ah, yang bener aja. Masih hebat langkah AS ini. Berbarengan dengan itu, ada langkah-langkah menyatukan gerak koperasi dan LSM dengan membentuk Pos Ekonomi Rakyat. Juga kumpulan yang namanya Persatuan Daulat Rakyat (PDR), untuk berperanserta dalam urusan KUT. Hebat betul. Dan makin hebat. Popularitas Persatuan DR semakin melejit. Lebih-lebih dirjen Cacuk pun turun untuk jadi ketua umum Persatuan DR. Wah, ini betul-betul hebat. Cacuk adalah salah satu idolaku. Malah sempat terpikir untuk menitipkan dia sebagai salah satu menteri di kabinet PDI-Perjuangan. Tiba-tiba, mak jlegur, ada pembentukan Partai DR, yang kalau disingkat bunyinya mirip dengan Persatuan DR, yaitu PDR. Wah, gawat ini. Gerakannya benar-benar tak bisa dipisahkan dari Persatuan DR, juga di urusan KUT. Bagi-bagi duit, dengan janji gratis kalau partai menang, tapi mesti ngembaliin berlipat-lipat kalau kalah, adalah sebuah dalil yang mujarab. Bagaimana tak mau terima, kalau utang sudah sedemikian besar, sementara perut tak tahan. Sementara, agar terhindar dari ngembaliin dengan bunga tinggi, alah... wong cuma nyoblos ini, lah. Lha, joss, kan? Tiba-tiba iklan segede ajubilah nongol di Kompas dan Jawa Pos, dua koran besar negeri ini. Bisa dikira-kira, berapa ongkos mesti dikeruk. Eh, AS cuma nyenyum saja, juga boss PDR, yang enteng betul bilang kalau itu bukan dari PDR. Cuma simpatisan saja. Aku pikir beneran itu alesan. Cuma hari-hari ini banyak sekali poster yang nempel di pohon (satu pohon bisa 5-6 biji) serta di tembok-tembok, yang isinya gambar partai PDR dan foto AS sebagai caprez. Koinsidensi? GIGIH PS. Pak Kwik, yang saya pastikan bakal jadi menteri urusan ekonomi kabinet Megawati mesti sudah menyiapkan jurus untuk mengembalikan duit pinjaman yang diocar-acir sama AS ini. Ini pekerjaan rumah. _________________________________________________________ Do You Yahoo!? Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com ______________________________________________________________________ To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED] To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] TUNTASKAN REFORMASI: Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!
