Maaf terlalu panjang, rasanya kurang enak dibaca di depan layar komputer
:) , jadi sorry gue enggak komentar.
beDoer
On Wed, 2 Jun 1999, Hercule Poirot wrote:
> Pengatar:
>
> Saya pikir ini menarik untuk didisksikan.
> Any comment on this?
>
> HP_
>
>
> Kamis, 3 Juni 1999
>
> Berilah Kesempatan yang Sama
> ISU wanita hampir jarang terungkap dalam
> panggung-panggung kampanye yang
> dibawakan juru kampanye partai politik
> peserta pemilu. Setidaknya itulah yang
> terekam dalam pemberitaan media massa
> dan media elektronik.
>
> Persentase jumlah wanita dalam calon
> anggota legislatif pun terasa kecil sehingga
> memunculkan semacam reaksi keras dari
> aktivis perempuan. Bagi anggota Komisi
> Nasional Hak Asasi Manusia, Saparinah
> Sadli, representasi perempuan dalam
> birokrasi maupun dalam lembaga legislatif
> harus lebih ditingkatkan. "Sehingga dalam
> pengambilan keputusan nasional ada
> sumbang saran pemikiran menurut
> perempuan," kata Saparinah Sadli.
>
> Selama rezim Orde Baru, demikian Saparinah, perempuan hanya
> diberi kedudukan sebagai Menteri Sosial dalam kabinet. Padahal,
> ada juga perempuan yang mampu menjadi menteri perekonomian.
> Kenyataan ini, menurut Saparinah Sadli, karena lingkungan belum
> memberikan kesempatan yang sama.
>
> Diskriminasi terhadap perempuan juga masih terjadi di beberapa
> sektor kehidupan, terutama di sektor ketenagakerjaan. Misalnya,
> soal pembedaan upah antara perempuan dan laki-laki. Seorang
> wanita yang sudah menikah tetap saja dianggap lajang, sehingga tak
> bisa mendapat fasilitas-fasilitas. Berikut ini petikan percakapan
> Kompas.
>
> [K]:Dalam pemerintahan yang akan datang, apakah Kementerian Urusan
> Peranan Wanita masih dapat dipertahankan?
>
> [SS]: Kalau mereka mempunyai program pemberdayaan perempuan
> mengapa tidak? Masalahnya sekarang ini 'kan program mereka lebih
> banyak untuk memberdayakan perempuan di pedesaan. Artinya,
> tidak menyentuh perempuan dalam arti yang lebih luas. Seharusnya
> dengan adanya departemen khusus seperti itu, pemerintah lebih
> dapat menangkap aspirasi perempuan Indonesia pada umumnya.
>
> [K]: Menurut Anda, bagaimana sebenarnya kualitas perempuan
> Indonesia pada umumnya?
>
> [SS]:Dibandingkan dengan laki-laki, kualitas pendidikan perempuan
> Indonesia memang terbelakang. Tetapi pada kenyataannya,
> perempuan yang berkualitas pun tidak mendapatkan kesempatan
> yang sama dengan yang diberikan kepada laki-laki. Lihat saja,
> apakah semua laki-laki yang duduk di jajaran pemerintahan atau
> parlemen mempunyai kualitas yang baik? Dalam tingkat nasional,
> seharusnya representasi perempuan dapat ditingkatkan lagi.
> Sehingga dengan demikian, pengambilan kebijakan nasional juga
> ada sumbang saran dan pemikiran menurut perempuan.
>
> Dalam tingkat nasional, selama ini perempuan hanya diberi jabatan
> sebagai Menteri Sosial saja dalam kabinet. Padahal, ada juga
> perempuan yang mampu menjadi menteri perekonomian, menteri
> pendidikan, atau jabatan lainnya. Pada zaman Bung Karno dulu,
> perempuan menduduki jabatan lain selain Menteri Sosial. Maka
> menurut saya, rezim Orde Baru justru mengalami kemunduran dalam
> mengapresiasikan perempuan, bukan kemajuan. Secara psikologis,
> tidak ada perbedaan antara perempuan dengan laki-laki, semua
> sama. Seperti yang saya katakan tadi, yang terjadi sekarang ini
> adalah perbedaan kesempatan.
>
> [K]:Apa yang harus dilakukan sehingga antara perempuan dan laki-laki
> mendapat kesempatan yang sama?
>
> [SS]: Memang, secara tertulis telah tercantum dalam Garis Besar
> Haluan Negara (GBHN) mengenai mitra kesejajaran antara perempuan
> dengan laki-laki. Tetapi pada kenyataannya tidaklah demikian. Tidak
> ada konsistensi dalam pelaksanaannya. Dalam keseharian, banyak
> terdapat diskriminasi gender yang selalu merugikan perempuan.
> Misalnya saja masih saja ada pembedaan upah antara perempuan
> dengan laki-laki walaupun menduduki jabatan yang sama. Laki-laki
> pasti mendapat upah yang lebih tinggi dibanding perempuan.
> Seorang perempuan yang sudah menikah tetap saja dianggap lajang,
> sehingga dengan demikian dia tidak mendapatkan fasilitas-fasilitas
> yang seharusnya ia dapatkan. Ini semua berdasarkan pandangan
> bahwa perempuan adalah pencari nafkah kedua.
>
> Contoh lain lagi adalah adanya diskriminasi bahwa perempuan tidak
> boleh mencari nafkah di malam hari. Bagaimana dengan pekerja
> perempuan yang bekerja pada shift malam, jika terjadi sesuatu pasti
> mereka yang disalahkan karena bekerja malam. Padahal, mencari
> nafkah adalah hak semua orang.
>
> [K]: Bagaimana seharusnya laki-laki menyikapi hal ini?
>
> [SS]: Memang lingkungan laki-laki tidak ramah terhadap perempuan.
> Seharusnya laki-laki juga memberikan kesempatan yang sama
> terhadap perempuan. Jangan sampai terjadi seorang ibu tidak boleh
> berkarier di luar rumah dengan alasan dilarang suaminya. Pada
> dasarnya kemampuan laki-laki dan perempuan 'kan sama, mengapa
> tidak boleh berkembang secara bersama pula? (joe)
>
>
>
>
> _______________________________________________________________
> Get Free Email and Do More On The Web. Visit http://www.msn.com
>
> ______________________________________________________________________
> To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
> TUNTASKAN REFORMASI: Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!
>
>
>
>
>
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
TUNTASKAN REFORMASI: Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!