SESAL DAHULU ....

Pepatah secara bijak mengatakan, 'sesal dahulu pendapatan, sesal
kemudian mana ada gunanya?'.

Pepatah ini mestinya pas sekali untuk keterpurukan Golkar yang berubah
dari 'raja tatkala 7 kali pemilu masa lalu' menjadi 'sudra hamba
sahaya' di Pemilu 99. Dan yang sangat memalukan, omongan besar Baramuli
yang menaksir Golkar mampu meraup tak kurang dari 60 persen ternyata
sama sekali tak ada buktinya. Padahal, yang namanya selingkuh-politik,
dengan biaya sangat besar, sudah dilakukan.

Sebenarnya Golkar punya peluang yang jauh lebih besar dibanding,
bahkan, terhadap PDI-Perjuangan sekalipun. Mereka masih menguasai semua
sumberdaya yang bisa digenjot untuk public-relation yang bisa
mendongkrak suara Golkar untuk tidak 'jembret' seperti saat ini.

Sayang sekali, Tuhan seolah-olah menunaikan janjinya, bahwa hukuman
mesti dijatuhkan, dengan cara membuat Golkar malah jauh lebih sombong
dari masa-masa sebelumnya. Mereka merasa masih menjadi para pangeran
yang tak bisa dibantah. Bahkan ketika sesama saudara di tubuh Golkar
mencoba membuat aksi bersih-bersih rumah, juga tidak dianggap sama
sekali. Sehingga yang tinggal cuma kepala-kepala angin yang repot untuk
dibetulkan lagi.

Pengalaman maksiat selama 32 tahun seolah-olah tak mau mereka hindari
untuk diulang balik. Padahal, jika mereka mau memperbaiki dan insyaf,
berterus-terang minta maaf, lalu membuka borok sendiri meski sakit,
rakyat negeri ini masih sangat menjunjung tinggi sikap ksatria dan
terpuji.

Yang terjadi adalah penolakan minta maaf, yang kemudian disusul dengan
permintaan maaf setengah hati. Ini bisa dilihat dengan pernyataan
tambahan, bahwa bukan hanya Golkar saja yang salah, tetapi juga pelaku
politik lain saat itu.

Kesombongan Golkar memuncak dengan perilaku Baramuli yang ekstra
jumawa. Dengan diam masyarakat mencatat semuanya, dan dengan diam pula
mereka merencanakan serangan balik yang amat memalukan, yang dibuktikan
dengan pencoblosan mereka di Pemilu 99 ini.

Pencalonan Habibie, yang lebih didorong oleh sikap Golkar Lama, dan
gencarnya Baramuli bikin pesta-kesombongan, adalah sebuah anti klimaks.
lebih-lebih dengan penggalangan organisasi sektarian yang seolah
menutup telinga dan mata hati terhadap perasaan rakyat, yang justru
kontra produktif.

Jika dengan segala penguasaan sumberdaya saat sebelum Pemilu 99 lalu
saja Golkar sudah terkapar, jelas sulit membayangkan apa yang akan
mereka gunakan untuk menyambung umurnya sampai pemilu depan.

GIGIH

_________________________________________________________
Do You Yahoo!?
Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com


______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!






Kirim email ke