Iwans:
Jauh di masa sebelum perang, Hatta memang meneruskan PNI akan tetapi
dengan kepanjangan P = Pendidikan, dan bukan Partai.


Martin:
Saya tahu itu. Tapi ingat dengan catatan: itu dilakukan oleh Hatta dengan
diperhadapkan pada pilihan cara perjuangan (strategi) yang berbeda. Platform
dan ide PNI (yang partai dan pendidikan) tetap sama, hanya dengan strategi
yang berbeda. Partai NI dengan strategi matchsvorming (sorry kalau salah
eja), sedangkan Pendidikan NI melalui pendidikan kader (pengkaderan).
Silakan baca pemikiran dan tulisan-tulisan Hatta pada jaman ini.

Iwans:
Awal berkuasanya Jenderal Soeharto, Hatta ternyata tidak memilih
memperkuat barisan kubu nasionalis (PNI) menjelang Pemilu 1971. Waktu
itu, bersama Deliar Noer dan sejumlah tokoh HMI lainnya termasuk juga
Harun Al Rasyid (Wakil Ketua KPU yang baru saja mundur), Hatta hendak
memprakarsai berdirinya Partai Demokrasi Islam Indonesia (PDII).


Martin:
Ya..., itu juga dilakukan oleh Hatta ketika diperhadapkan pada pilihan yang
berbeda. PNI tahun 1971 tidak sama dengan PNI bentukan Soekarno-Hatta di
tahun 1940-an (1942?). Pada pilihan yang berbeda, kita mungkin akan
mengambil keputusan yang berbeda. Tetapi garis pemikiran Hatta tetap sama
dengan PNI mula-mula: nasionalis.

Iwans:
Dus, Hatta sendiri pernah menyatakan dirinya sebagai Nasionalis Islam
dan bukan Nasionalis Sekuler !


Martin:
Nasionalis sekuler........... siapa pula yang menggunakan istilah itu! Bung
Karno pun menyatakan dirinya Nasionalis Islam. Silakan baca Dibawah Bendera
Revolusi pada bagian: Islamisme dan Marhaenisme. Bung Hatta tentu seorang
nasionalis yang beragama Islam. Jelas sekali. Dan itu dinyatakan dalam
berbagai tulisannya. Juga ketika ia membicarakan tentang sosialisme, ia juga
menyatakan bahwa sosialisme itu asalnya adalah sosialisme religius yang
memiliki nilai-nilai Islam. Yang menggunakan istilah-istilah "sekuler" itu
kan selama ini hanya Orde Baru, untuk memperkuat basis kekuasaan dengan
mempertentangkan kaum Islam dan nasionalis. Istilah "sekuler" itu
dihembus-hembuskan untuk membuat image bahwa kaum nasionalis itu bukan
Islam. Padahal sejak awalnya, para founding fathers kita adalah seorang
nasionalis DAN juga seorang Islam, tidak ada pertentangan pada dua
eksistensi itu (being a nationalist and a moslem).

Martin Manurung <http://www.cabi.net.id/users/martin>
____________________________________________
Dukunglah Kampanye AGAMA untuk PERDAMAIAN!
Forum Mahasiswa untuk Kerukunan Umat Beragama (FORMA-KUB)
Kunjungi http://come.to/forma-kub  E-mail: [EMAIL PROTECTED]

[EMAIL PROTECTED]  [EMAIL PROTECTED]



______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!







Kirim email ke