Seorang pria berusia 30-an tahun mengeluh tidak kerasan lagi di rumah.  
Pasalnya istrinya belakangan ini bersikap aneh.  Si istri sangat mencurigai suaminya 
dan dengan berbagai cara memaksa agar suami telah berbuat serong, main 
dengan perempuan lain.

Pada awalnya, si suami selalu mengalah.  Ia diam saja bila istri menuduh ia serong.
Tetapi ketika istrinya mulai mengada-ada, ia merasa tidak bisa lagi menahan diri.
Misalnya pulang agak terlambat, sang istri menuduh ia habis bertemu dengan teman
serongnya.  Sang suami dilarang pergi jogging, karena itu merupakan alasan si suami
untuk bertemu kekasihnya.

Tak tahan melihat perilaku istrinya, si suami mengajukan cerai.  Sang istri menangis,
memohon agar mereka berdamai saja karena ia sangat mencintai pria tersebut.  Atas
saran teman terdekat, keluarga muda ini berkonsultasi dengan psikiater.  Dari situ 
baru ketahuan, si istri terkena gangguan paranoid.  

Paranoid merupakan suatu diagnosa penyakit jiwa.
Pada gangguan ini, penderita mengalami delusi, yakni suatu keyakinan yang tidak bisa
dikoreksi dan bertentangan dengan realita.  Penderita paranoid sehari-harinya mampu
bersikap seperti orang normal lainnya.  Hanya saja, bila terjadi konflik dengan 
keyakinan yang ia miliki, barulah terlihat ia menderita paranoid.

Gangguan paranoid dapat menimpa siapa saja.  Ia tidak ada hubungan dengan faktor
keturunan.  Ada beberapa faktor yang dapat memicu timbulnya gangguan tersebut.
Seperti orang yang harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, misalnya 
pindah dari satu kota ke kota lain, stress berat, cacat fisik.  Pada umumnya 
penderitanya tidak merasa bahwa dirinya terkena gangguan paranoid.  Gangguan
baru dapat terdiagnosa saat keluarga membawa di penderita berkonsultasi dengan
psikiater lantaran mengganggu lingkungan sekitarnya.

Penyembuhan penderita gangguan paranoid tidaklah mudah dan membutuhkan
waktu yang lama.  Pada mereka yang telah lanjut usianya, tingkat penyembuhan
sangatlah rendah karena biasanya apa yang diyakininya sudah 
"mendarah daging".

Orang lain yang berusaha membantu kesembuhan penderita, bisa justru menyebabkan
kecurigaannya semakin tinggi.  Penderita akan semakin terbenam dalam keyakinannya.
Misalnya teman sekantor berusaha menyadarkan penderita, dia justru menganggap 
bahwa ia tidak diperlakukan secara tidak adil.  Ia akan semakin yakin bahwa temannya
itu sedang berusaha menjerumuskan dan menghambat kariernya.  Bisa diibaratkan,
keyakinan yang menyimpang itu bagaikan lingkaran, tak ada ujung pangkalnya.

Pada kasus paranoid, pendeita selain diberikan obat-obatan, juga dilakukan
psikoterapi.  Penderita diajak bicara terus menerus dan diberi pengertian bahwa 
keyakinannya tidak sesuai dengan kenyataan.  Kalau belum terlalu berat dan kronis,
biasanya penderita masih bisa sembuh.

(dr. Muljadi Hartono).

SEMOGA BERGUNA ...................























______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!







Kirim email ke