"....Ngapain marah juga. Wis podho gedene. Mau ngubah pikiran orang apa ya
bisa, wong pikiranku dewe yo gak iso tak ubah, kok. Itu pun juga sekedar
'grenengan' aja ......"

Yang diatas itu kata mutiara dari ketua PARTOGI , Sdr. Gigih yang "mbetik"
itu. Filosofis, sedikit pesimis, tapi sangat realistis. Memang sulit sekali
mengubah pandangan seorang dewasa. Lain Gigih lain Politik . Politik dalam
demokrasi yang sehat selalu dipenuhi dengan optimisme bisa mengubah
pandangan orang. Itulah  hakekat kampanye dalam pemilu , bukan ?

Itulah pula yang sebetulnya patut disimak dari pidato atau pledoi Megawati.
Apa sisi mengubah pandangan orang, mencari tambahan teman buat meng-gol-kan
kepresidenannya. Meskipun memperoleh suara terbanyak, kubu Megawati baru
bisa memastikan 30 % dukungan. Jumlah tersebut adalah jumlah yang masih jauh
untuk bisa optimis. PDIP dan beberapa partai lain yang setia seperti PKP
mendapat 168 kursi. Golkar ditambah tentara bisa mendapat 163 kursi. Poros
Mosaik yang punya latar belakang pendukung Islam ( termasuk PAN dan PKB )
kalau dijumlahkan bisa 169 kursi ( TEMPO 2/8 ).

Dengan diam-pun Megawati adalah tetap bagai Dewi Kahyangan bagi
pendukungnya. Karisma mistisnya mampu menyihir menghasilkan 30 % suara. Tapi
kini yang bakal dihadapinya sudah bukan rakyat Jawa Tengah dipedesaan. Yang
dihadapinya adalah 332 manusia yang tidak begitu percaya pada sihir dan
tidak terlalu terpukau oleh karisma. 332 manusia yang mendapat amanat bukan
dari kegelapan gua dipuncak gunung. Manusia-manusia itu dititipi amanat
halal dari 140.000.000 manusia negeri ini. Jadi adalah terlalu kekanakan
bila mengharap bahwa dengan tambahan diam atau usaha meyakinkan yang tidak
cukup , mereka akan otomatis mendukung Mega.

Dari pandangan seperti itu, kita bisa lebih mengerti akan komentar Amin Rais
yang suka menggunakan bolam 500 Watt : Arogan. Artinya barangkali : " Masih
mengira bisa jalan sendiri ?!". Apakah cukup janji memperbaiki masalah Haji
( yang sudah banyak improved itu )? . Apakah itu cukup menjangkau kekuatiran
trauma benny-daoed yusuf-csis pada pihak muslimin ? Apakah cukup keterangan
tentang "diam"nya ? Kata Eep Saefulloh:  "...  kok menyederhanakan
masalah.Mega bilang bahwa  dia diam karena terjadi perkembangan politik yang
diwarnai intrik,dst. Ini melecehkan banyak sekali hal yang telah dikerjakan
banyak orang secara proaktif. Bagaimana dengan gerakan mahasiswa, politisi,
dan intelektual yang terlibat reformasi kemarin. Yang mereka lakukan tidak
bisa disimplifikasi sebagai permainan politik dan intrik. .." . Apakah
jawaban soal amandemen sudah cukup ? Jawaban Mega menegaskan sikap Pasif :
pengakuan bahwa belum ada kebutuhan mengamandemen UUD dari dirinya. Kalau
ada yang perlu diamandemen , itu yang mana ? Kenapa ? dsb. Apakah airmata
Aceh sudah cukup berarti Mega paham benar situasi ?  Kedaulatan Rakyat
dipertentangkan dengan Kedaulatan MPR ? : Lelucon atau Tekanan ?  Dan
seterusnya. Dan seterusnya.

Demikianlah. Pidato Mega kali ini haruslah dianalisa kesitu, penggalangan
kekuatan di MPR kelak untuk mengangkatnya jadi presiden. Harus pula
dianalisa sebagai komunikasi didataran intelektual yang lebih tinggi. Kalau
cuma dimaksudkan untuk mengeraskan cadas pendukungnya , hal itu sangat
menguatirkan. Sudah ada cadas diluar Jawa. Dan pembentukan cadas baru dari
kubu Islam yang potensiil seimbang dengan cadas PDIP adalah seperti
membalikkan tangan. Kita-kita ini, penonton dipinggiran lapang , saya kira
sama saja. Tidak menginginkan rekayasa benturan antar cadas......

Kita bisa membantu apa ya ?  Paling sedikit , tidak dengan mencadaskan hati
kepada sesama bangsa......

Wassalam.
Abdullah Hasan





______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!







Kirim email ke