SERUAN SOLIDARITAS !

SUDAH 500-AN ORANG TERDATA HILANG PADA TAHUN 1965 DI SULAWESI UTARA

Ditemukan 597 kasus pembantaian pada 1965 di Sulawesi Utara. Temuan
awal  Pembantaian dilaporkan ke YAYASAN HUMANIORA. Laporan berasal dari
 daerah Eris, Tompaso,  Tombariri, Sonder, Motoling, Tompaso Baru,
Gorontalo,  Belang, Gorontalo, Bolang Itang, Boroko dan Talaud.
Seiring dengan ditemukannya kasus ini YAYASAN HUMANIORA mengeluarkan
pernyataan sikap seputar pelanggaran HAM yang dilakukan oleh regim Orde
Baru, baik mengenai kasus pembantaian tahun 1965 maupun kasus Aceh yang
lagi marak dengan pelanggaran HAM yang dilakukan oleh TNI.

Berikut ini salinan pernyataan sikap, press realese, profil YAYASAN
HUMANIORA dan alamat sekertariatan :



PERS REALESE :
PENYAMPAIAN HATI NURANI
Masa kelam yang kami lalui sudah cukup pahit, namun diatas segala semua
ini kami menyadari ada maksud Tuhan di dalamnya itu sebabnya kami ingin
menyampaikan kata hati kami sekaligus pengusulan: 
1. Kami memafkan dan mengampuni segala tindakan kesewenang-wenangan,
perilaku yang telah terjadi dalam diri kami kuat, tapi semata-mata
karena anugerah dan kasih karunia yang Tuhan berikan dan mampukan untuk
kami menerima keadaan dan sailng memberi maaf dengan yang lain.
2. Namun sebagai saudara sebangsa dan setanah air, sebagai makhluk
ciptaan Tuhan yang memiliki harkat dan martabat maka kami mengusulkan
untuk:
� Merehabilitier keberadaan kami demi hak-hak asasi manusia dan
kemanusiaan, juga demi ana-anak dan cucu kami.
� Mengembalikan hak-hak sipildalam bermasyarakat dan berserikat,
termasuk hak-hak milik yang diserobot oleh oknum-oknum yang
memanfaatkan kesempatan pada waktu itu.
� Mengembalikan hak-hak pensiun kami yang tidak sempat diberikan pada
waktu lalu. Berdasarkan landasan iman "Apa yang ingin orang perbuat
bagi dirimu, perbuatlah bagi orang lain" (Injil).  Dan landasan "Torang
Samua Basudara".
3. Menghimbau kepada seluruh lapisan masyarakat dam pemerintah untuk
mengisi alam kemeredekaan dengan perilaku-perlaku yang jujur dan adil,
berperikemanusiaan dan menghormati hak-hak asasi manusia supaya
pengalaman-pengalaman pahit yang lalu tidak perlu terulang.
4. Secara khsusus meminta kepada Pemerintah  untuk menghentikan tindak
kekerasan dan praktek-praktek militerisasi yang represif-fasis, karena
hanya akan membangkitkan luka lama kepahitan yang dalam, antipati dan
perlawanan rakyat semesta yang pada gilirannya justru menciptakan
kekacauan. Contohnya: Persoalan dalam masyarkat Aceh supaya ditangani
lebih arif dan bijaksana tanpa politik kekerasan dan mulut senjata yang
berapi, tapi mulut hati nurani yang berperikemanusiaan.
5. Mendesak supaya rencana pembentukan Kodam Baru ditinjau kembali dan
sebelum diputuskan harap di dialogkan kalau perlu diseminarkan  dengan
terus memperhatikan pendapat masyarakat. Jangan lagi menyakiti hati
rakyat dengan keputusan-keputusan yang selalu sifatnya otoriter,
pemaksaan dan top down .
6. Khususnya untuk Sulut sampai saat ini kami belum melihat kepentingan
dan urgensinya Kodam Baru, karena:
� Restrukturisasi dan dalam reformasi dalam tubuh ABRI/TNI masih perlu
diujioleh waktu.
� Masih segarnyaluka dihati rakyat akan perlakuan ABRI/TNI yang tidak
terpuji. Jadi tidakperlu lagi upaya-upaya demiliterisasi.
� Keadaan Sulut relatif aman dan terkendali karena rakyatnya tidak
mengendaki  budaya kekerasan dan penekanan. Apalagi dibawa kepemimpinan
Letjen E.E. Manginadaan, iklim yang kondusif dan budaya dialog telah
tercipta dengan baik sehingga Sulut tidak perlu tambah moncong senjata
yang lebih banyak. Tapi moncong penyaluran aspirasi yang lebih sehat
dan murni.
� Anggaran untuk KODAM baru lebih baik disalurkan pada kepentingan
rakyat yang lebih primis.
7. Mendorong gereja-gereja dan umat beragama lain serta lembaga
masyarakat lainnya yang ada di Sulut pada khususnya untuk terus
bersatu, berdoa untuk keberadaan bangsa dan negara RI, khususnya
saudara-saudara kita sebangsa yang mengalami penderitaan, tindak
kekerasan.Perlakuan yang semena-mena yang ada di Aceh dan juga
tempat-tempat lain.
Demikian penyampaian hati nurani kami untuk menjadi bahan pertimbangan,
perhatian, dan koreksi positif. Khusus untuk bapak Gubernur yang kami
cintai kami semua korban tindak kekerasan menanti dengan gemes bukti
dan realisasi dari filsafat "Torang Samua Basudara", yang bapak
cetuskan.
Akhirnya Tuhan yang empunya langit dan bumi kiranya menilik dan
memberkati segala maksud baik kaita sekalian.


Teriring Salam dan Doa
Yayasan Humaniora



Pdt. A. Shephard Supit, MA.                                            
               Josef B. Kalengkongan
      Ketua  Umum                                                      
                               Sekretaris







KESEPAKATAN TEMU KANGEN ANGGOTA-ANGGOTA
"YAYASAN HUMANIORA " TANGGA; 18 JULI 1999
BERTEMPAT DI "GRAHA MISI" TANJUNG BATU KODIA MANADO

Anggota-anggota "YAYASAN HUMANIORA"  yang berasal dari berbagai daerah
di Sulut: dari berbagai latar belakang Suku - Agama - Ras asal golongan
dan budaya ditempa, dibentuk, diikat dipersatukan oleh penderitaan yang
sama dan prospek nasib yang sama; dengan mengucap berlimpah syukur
kehadirat Tuhat yang maha pengasih dan penyayang karena masihmemberikan
kesempatan pada umatNya untuk hidup, berbakti, bekerja dan beramal
untuk masyarakat luas terutama kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, dengan ini
menetapkan kesepakatan sebagai berikut:
I. Mengadakan kelompok doa "Yayasan Humaniora" disetiap Desa/Kelurahan
dengan koordinator (kerohanian) Kecamatan.
II. Mengusahakan adanya Panti Werdha "Yayasan Humaniora" untuk
menampung para lanjut usia yang terlantar.
III. Mengaktualisasikan bantuan sosial yang permanen bagi para
penyandang cacat fisik maupun mental.
IV. Menyiapkan program kerja yang mendesak untuk membiayai anak sekolah
para korban berupa paket bea siswa.
V. Membentuk divisi khusus untuk memperjuangkan hak-hak para korban 
(pegawai negeri, pensiunan dll) termasuk tuntutan  ganti rugi atas
penyerobotan, perampasan dll. 

Disepakati dan telah ditandatangani oleh:
1. Telly Rawung mewakili para korban                    Dati II Minahasa
2. M.A.P.Tompodung                                      Bolaang Mongondow
3. Ahber Kahimpong                                              Sanger
4. Alfonso Sasambe                                              Talaud
5. Erenst Arunde                                                Kodia Gorontalo
6. Eddy Ratag                                           Kodia Manado
7. Aris Komenaung                                               Kodia Bitung
8. Hasyim Malewo                                                Dati II Gorontalo
9. Pdt. M. Fatah Maryunani, Sth. M. Div.                        Luar Sulut













YAYASAN HUMANIORA
HUMANIORA MINISTRIES

MENOLAK KODAM BARU:
PARA KORBAN TINDAK KEKERASAN
ADAKAN DOA BERSAMA JUGA UNTUK MASYARAKAT ACEH

PRESS REALESE

Sekalipun mengalami masa lalu yang suram tapi ratusan korban-korban
tindak kekerasan dan para keluarganya dari seluruh etnis yang ada di
Sulut. Pada hari minggu 18 Juli 1999 berkumpul dan mengadakan doa
bersama di aula Graha Misi Jl. Sam Ratulangi 42 Tanjung Batu.
Saudara-saudara sebangsa ini yang kebanyakan terdiri dari para korban
penyabotan hak-hak sipil,para korban pemerkosaan oleh penguasa militer
maupun sipil masa lalu dan ex tapol dan napol beserta keluarganya
berkumpul untuk mendapat siraman-siraman rohani dan kekuatan moril
sekaligus bersatu hati untuk:
1) Saling menguatkan dan memberi dorongan satu dengan yang lain
2) Mendoakan saudara-saudara sebangsa yang mengalami tindak kekerasan
dan pelanggaran HAM di Aceh yang semakin hari semakin memprihatinkan.
3) Mensyukuri HUT Kodia Manado ke 376 kota dimana pernah terjadi
penyikasaan dan tindak kekerasan dan perlakuan-perlakuan amoril serta
penyerobotan-penyerobotan hak miklik yan gluar biasa.

Peserta kegiatan ibadah dan temu kangwen yang diprakarsai oleh "Yayasan
Humaniora" yang memiliki misi pelayanan, pembelaan dan rehabilitasi
bagi korban tindak kekerasan dan pelanggaran HAM, bekerja sama dengan
Forum Komunikasi Kristen (FKK) SULUT serta organiasi-orgasdnaisi
kemasyarakatan lainnya sanygat terharu sangat terhadru ketika mendengar
kesaksian nyata dari saudara-saudara kita yang ditindas sewenag-wenang.
Data yang terkumpul sudah ada 597 orang yang dibantai berasal dari
etnis dan agama yang berbeda-beda yang ada di SULUT. Ini adalah rapor
buruk bagi warga Bohusami apabila tidak ada permintaan maaf dari para
pelaku kekerasan : diikuti (ditindak lanjuti) pengambalian hak-hak para
korban serta perhaitan pemerintah kepada mereka yang tertindas, Kata
Max Lasut dari salah satu LSM di Jakarta, kami tidak bermaksud membalas
dendam, tapi paling tidak hak pensiun, hak sipil lainnya dan
rehabilitasi perlu diperhaitkan oleh pemerintah .khusunya Gubernur
sebagi pembuktian nyata dari slogan "Torang Samua Basudara"" Kata Jabar
Damapolii dari Koordinator Humaniora Dati II Boalang Mongondow.

Itu sebabnya juga tidak perlu adanya KODAM baru di Sulut mengingat :
1. Restrukturisai sdna Reformasi ABRI/TNI masih perlu diuji oleh waktu.
2. Cact fisik dan mental yang diderita oleh rakyat- rakyat kecil akibat
tindakanbrutal dan represif dari ABRI masih belum terobati, terasa saat
ini ada upaya-upaya militerisme yasng sangat traumatis, harus ditolak !
3. Anggaran untuk KODAM baru lebih baik disalurkan dan dialokasikan
bagi kesejahteraan dan kemakmuran rakyat banyak, kata Zainudin Sangia
dari "Yayasan Humaniora" Belang. Khusunya untuk SULUT tidak menghendaki
Budaya kekerasan. Jadi tidak perlu lagi tambahan moncong senjata, tapi
moncong penyaluran aspirasi yang sehat. Apalagi di bawah kepemimpinan
Letjen E E. Mangindaan, situasi yang kondusif serta Budaya Dialog 
mulai tercipta jadi jangan sampai di rusan oleh upaya-upaya
militerisasi, tambah Pdt. Shephard Supit. MA Ketua Umum " Yayasan
Humaniora " yang bersekertariatan di Jl. Sam Ratulangi 42 Tanjung Batu
Telp 864797.


 Manado 19Juli 1999



Leo Kapoyos
Humas Dan Investigasi Humanora

  



YAYASAN HUMANIORA
HUMANIORA MINISTRIES


VISI
� Melayani, membela dan memulihkan mereka yang teraniaya, terancam dan
tertindas 
(to serve,protect and restore)

MISI
� Menolong yang terpenjara, Menyampaikan kabar baik, Menabur Kasih pada
yang sengsara (Mercy Ministry)
� Membuka wacana berpikir dan bertingkah laku (politik) secara sehat
dan benar. (Civic Education)
� Menggerakkan masyarakat untuk menghormati Hak Asazi Manusia dan hidup
rukun secara demokratis (Democration Watch)

SEKERTARIAT
� Jalan Sam Ratulangi 42, Tanjung Batu, Manado 95117, Indonesia, Telp
0431-64797, E-mail : [EMAIL PROTECTED]


EUROPEAN REPRESENTATIVE
� Pdt Novline Lidia Rewah, Van Beuningenstr. 24A,1051 XG Amsterdam
Telp 020-4003318










_____________________________________________________________
Do You Yahoo!?
Free instant messaging and more at http://messenger.yahoo.com


______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!







Kirim email ke