Setiap orang punya caranya sendiri untuk mengekspresikan apa yang ada di
benaknya. Saya tetap memandang, bahwa rakyat memang tidak punya media dan
forum untuk mengartikulasikan keinginannya. Itu bedanya dengan kita; bisa
berpendapat ("tell the world") di internet, atau jadi peserta/pembicara
seminar, diskusi di kampus, menulis di koran, dll. Orang biasa tidak punya
media yang bisa menyatakan semua hal itu. Dan menurutnya, cara "menggenjot
beca" itu mungkin cara yang efektif to tell the world mengenai apa yang
dipikirannya. Bagi saya, itu fine saja, dan toh tidak merugikan siapapun.

Kalau perkara rasional; saya rasa memaki-maki orang di internet juga tidak
rasional toh?

Martin Manurung <http://www.cabi.net.id/users/martin>
_________________________________________________
E-mail: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Visit http://come.to/forma-kub

-----Original Message-----
From: Izrin Agus <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 05 Agustus 1999 9:46
Subject: Re: [Kuli Tinta] NGENJOT BECA DARI SURABAYA


pada prinsipnya ini merupakan tugas berat dari elit politik PDI.P untuk
membikin pendukungnya untuk lebih rasional .... !
----------
From: GIGIH NUSANTARA
To: [EMAIL PROTECTED]
Cc: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: [Kuli Tinta] NGENJOT BECA DARI SURABAYA
Date: Thursday, August 05, 1999 8:27AM

--- Raja Komkom Siregar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Kenapa kelakuan aneh-aneh begini selalu
> di(bu)dayakan, apakah ada
> hubungannya dengan kultur dan (bu)daya ?
>
> Jempol darah-bibir merah-dsb....:-P
>
> On Thu, 5 Aug 1999, Abdullah Hasan wrote:
>

Assalamualaikum wr. wb.

Itulah rakyat yang bersahaja pola pikirnya. Sebagai tukang beca dia
sama sekali tak paham soal gender. Bahkan dia boleh jadi tak pernah
kuatir idolanya bakal terjegal oleh permainan-permainan di sidang MPR
besok. Dia sudah membaca di koran, mungkin, soal 'poros tengah'. Namun
ia tetap tak pernah paham, apa yang ada di balik pagelaran itu semua,
karena ia tak mungkin mengakses Internet, membaca Martin atau Yap,
serta lusinan lain di apakabar, yang banyak menulis mengenai
apa-yang-ada di balik isu poros tengah tersebut.

Cobalah Komkom lakukan 'penyindiran' ini langsung di hadapan mereka, di
kalangan arus bawah, yang melakukan perjalanan jauhnya, yang barangkali
sudah dianggapnya sebagai sebuah jihad tersendiri, serta di kerumunan
orang yang sedang melakukan cap jempol darah.

--del


______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!







Kirim email ke