Tulisan ini diambil dari
Harian Rakyat Merdeka 29 Juni 99,
Penulis: Effendi Gazali.
-----------------------------------
PROFESOR DOKTOR
Sekarang ada sebuah seloroh di kalangan kampus. Katanya, sebuah partai politik
itu tidak bakalan sukses kalau dipimpin oleh seorang profesor doktor. Lalu mereka
mulai
menyebut nama-nama partai yang tidak berhasil meraih suara meyakinkan dalam Pemilu
lalu yang ketua umumnya adalah profesor doktor.
Belum lama, saya sempat berbincang-bincang dengan serombongan profesor doktor
yang sedang akan naik lift menuju sebuah ruang rapat penting. Saya sempat menanyakan
kepada beberapa dari mereka, apakah betul pengamatan saya bahwa kalau seorang
sudah memasuki lahan politik praktis, ia bakalan (atau pasti) kehilangan spirit
intelektualnya
sebagai profesor doktor ?
Beberapa dari mereka menjawab, profesor doktor di kampus dan di dalam politik
praktis adalah hal yang berbeda sama sekali.
Jawaban ini seakan-akan melahirkan semacam sekat antara para guru besar yang setia
mengabdi di kampus dan mereka yang memilih jalur politik praktis. Sebetulnya, kalau
mau
jujur, ada juga satu posisi lain di tengah-tengah atau bahkan mungkin overlapping
dengan
salah satunya, yakni mereka yang sebetulnya punya niat untu terjun ke politik namun
tidak
kesampaian, atau mereka yang terpaksa balik ke dunia kampus karena sudah tidak
terpakai lagi di politik praktis.
Tentu perlu segera kita catat bahwa definisi "politik praktis" ini adalah arguable.
Ada yang
mengatakan bahwa mereka yang tidak terjun sebagai pelaku politik di partai atau
pemerintahan namun selalu memberi masukan dan pernyataan yang mempunyai
konsekuensi politis sebenarnya juga telah berkiprah dalam politik praktis. Namun
disini,
definisi "politik praktis" saya batasi pada arena tempat para pelaku politik beraksi.
Saya tidak tahu, apakah ada yang telah meneliti berapa jumlah guru besar yang ikut
berperan dalam pemerintahan rezim Soeharto dan telah membuat negara ini rapuh dalam
berbagai bidang. Demikian pula berapa dari mereka yang berani melawan sistem yang
dirasanya tidak lagi sejalan dengan hati nuraninya dan nurani rakyat.
Pertanyaan selanjutnya, apakah betul daya tarik politik itu mampu membuat nalar atau
pesona analisis yang mestinya dimiliki seorang profesor doktor menjadi sirna atau
tidak berdaya lagi ? Padahal posisi itu mestinya merupakan puncak kedigjayaan
intelektualitas.
Apakah perjalanan menerawang saya ini tida krelevan dengan aktualitas kita dewasa ini ?
Saya tidak yakin pasti, namun saya tidak habis pikir bagaimana seorang Profesor Doktor
Muladi misalnya bisa tidak punya feeling bahwa perjalanan ke Swiss dan Australia tanpa
status Soeharto sebagai tersangka adalah sia-sia ? Lalu apakah menyewa detektif asing
juga tidak merupakan sesuatu yang relatif sama saja sebagai servis retoris belaka ?
Saya ingat sekali betapa para profesor doktor saya amat ketat dalam menetapkan
deadline paper ataupun laporan penelitian di kampus. Lalu bagaimana dengan deadline
pemeriksaan akuntan publik terhadap rekening terlapor AM Ghalib yang telah
molor itu ?
Pertanyaan-pertanyaan saya ini sifatnya umum, dan tidak ditujukan untuk menyerang
pribadi Muladi. Sebelum Muladi, saya juga pernah amat bingung mendengar komentar
salah seorang profesor saya yang hampir jadi mentri dan marah-marah terhadap cover
Majalah DR saat memuat Soeharto dalam busana raja kartu bridge. Sebelumnya
lagi ada juga seorang profesor doktor yang membentak-bentak wartawan: "Kalian itu
tahu arti reformasi apa tidak sih ?" Belum lama terdapat pula profesor doktor yang
ikut mendorong isu-isu identitas termasuk soal agama dan gender dalam wacana
komunikasi politik pemilu 1999.
Bahkan kalau mau yang paling puncak, pemerintahan transisi kita saat ini yang
dipimpin oleh seorang profesor doktor ingeneur juga memperlihatkan beberapa
paradoks terhadap kejernihan analisis, ketepatan waktu dan keberpihakan terhadap
kebenaran, yang seharusnya merupakan sinar intelektualitas seorang
profesor doktor.
Tetapi sudahlah, mungkin kita bisa menghibur diri dengan seloroh klasik:
"yang paling sering lupa itu adalah profesor doktor. Apalagi kalau mereka sudah
menduduki kursi politik"
--------------------------------------------------------------------------------------------
______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!