Assalamualaikum, wr. wb. [EMAIL PROTECTED] nulis : Subject: berhenti mengkritik PDIP Selama ini sudah banyak yang saya amati kalau para elit politik,pengamat dan masyarakat sering menyanggah, mengkritik, menyalahkan atau malah menghujat pernyatan-pernyataan dan kelakuan pengurus maupun pendukung pdi p. Triman : Jika situ cermat menghitung, juga tak sedikit yang memuji, menyetujui, dan paham serta membetulkan, apa-apa yang dilakukan oleh elit PDI Perjuangan. Lihat komentar-komentar simpatik daru Prof. Dimyati. Juga perhatikan bagaimana Kwikkiangie yang menguasai permasalahan ekonomi dalam setiap debat, sehingga membuahkan decak kagum. Pidato Megawati disiarkan oleh seluruh stasiun teve (kecuali TVRI), bahkan sekalian tiga stasiun siaran langsung, yang menghasilkan iklan bagi stasiun teve sampai semilyar lebih (itu sudah didiskon). Dialog ekonomi yang dilakukan oleh PDI Perjuangan dalam sebuah seminar, juga tayang langsung, tuh. Andaikan itu-itu semua memang tak layak, pantas dihujat, bisakah situ menyangkal kenyataan-kenyataan tersebut ? Jika pun ada kekurangannya, siapa nian di antara umat manusia ini yang sepi dari cacat-cacat tersebut ? Semuanya perfect, mana bisa ? [EMAIL PROTECTED] nulis : Yang paling baru adalah pernyataan dari Aberson yang seperti juga majikannya,si megawati itu,yang mengklaim bahwa pdip mendapat mayoritas dukungan rakyat. Telah mendapat banyak kritikan. Triman : Bagaimana pun perlu diketahui, bahwa peserta pemilu adalah 48 partai. Bukan dua. Jika cuma dua, PDI Perjuangan dan Partai Yang Lain, maka jelas benar konstatasi situ. Artinya, PDI Perjuangan dapat 33%, dan PYL (Partai yang Lain) dicoblos oleh 67%. Pernyataan Aberson adalah membandingkan perolehan suara partainya dibanding dengan ke-47 partai lain, MASING-MASING ! Setidaknya, ada Partai Golkar, yang berseberangan dengan PDI Perjuangan. Lalu ada PKB, yang setengah mati benci Golkar. Pun ada PAN yang berkali-kali Sekjennya bilang amit-amit. Dan ada PPP yang katanya 'tidak-mega-tidak-habibi'. Dengan cara pandang ini, maka sudah ada empat kubu, di luar PDI-Perjuangan. Sisanya, bolehlah dibuatkan kelompok sendiri, sehingga ada enam kubu yang harus dibuatkan diagram 'serabi'-nya. Lihat, mana juring yang paling luas? [EMAIL PROTECTED] nulis : Ini merupakan suatu tindakan yang mungkin gegabah sekali dan agak emosional. Seyogyanya menghadapi orang yang belum paham itu kita seharusnya maklum dan diberi pengertian bukannya malah dikritik sebab orang bodo itu kalau dimarahi pasti bisanya cuman ngamuk. Triman : Tidak jelas, siapa yang dimaksudkan. Berdasarkan kalimat-kalimat yang dipakai ini, seharusnyalah situ lebih banyak belajar, untuk menjadi lebih arif. Sehingga tak mencerminkan arogansi, yang buahnya tak ada lain, kecuali perasaan kasihan dan iba terhadap situ. Sebab, isu-isu model begini ini sudah tiga bulan lalu diedarkan, dan tak memperoleh makna apa-apa, tak cuma pada PDI Perjuangan, juga masyarakat bangsa, yang saat ini memerlukan ketengangan, dan sikap arif. [EMAIL PROTECTED] nulis : Dalam kasus ini pdip berpikir bahwa 33% itu adalah mayoritas didalam yang 100% itu. Nah disini kan jelas masalahnya.......kalo yang namanya megawati and the gank itu belum pernah belajar yang namanya MATEMATIKA, Bahwa sebagian itu adalah 50% dan sebagian besar Atau mayoritas itu adalah 51% keatas. Triman : Soal 33%, dan mayoritas, sudah saya tulis di atas. Makna yang dimaksud adalah antara PDI-Perjuangan dan ke-47 peserta pemilu yang lain. Tidak lebih. Juga mau sok jago, sebagai 33 mengalahkan 67. Coba, apakah ada partai di antara peserta pemilu itu yang melebihi PDI Perjuangan ? Atau, mari kita perlebar, dengan membuat kelompok- kelompok seperti yang aku utarakan di atas. Ada Golkar, PKB, PAN, PPP, dan 'kelompok-sisa'. Mencampurkan PKB dengan Golkar (yang Mathori diejek 'preman') sungguh sebuah kemustahilan bagi 'kelompok 67%'. Faisal Basri yang PAN, pasti akan marah, kalau mau dimasukkan pada 'kelompok-67' bareng Golkar. Lalu, PPP yang memelopori 'poros-tengah', yang 'tidak-mega-no-habibi' mana mungkin enteng-enteng saja masuk 'kelompok-67' Sudahkah dari enam kelompok tadi masuk ke angka 50 atau 51 ? Lalu bayangkan pula, ada PKB dan PKP, yang berulang-kali bikin pernyataan calonkan Mega, yang juga calonkan PDI Perjuangan, sudah bikin angka berapa ? pasti lebih dari 33% bukan ? Matematika, memang harus dipelajari. Cuma dalam hal ini, apa situ tidak keliru menyuruh orang lain belajar matematika ? [EMAIL PROTECTED] nulis : Jadi disini kan jelas masalahnya, Kita sebagai yang lebih berakal dan dikaruniai kecerdasan bukannya malah menghujat pdip yang mungkin belum lulus sd, Tapi justru kita sebagai sesama orang Indonesia harus malu akan dipimpin oleh orang-orang seperti itu. Maka dari itu tugas kita sekarang adalah ngumpulin guru-guru sd yang ngungsi dari Tim-Tim dan Ambon untuk itu para pdip biar pinter ngitung baru kemudian kita cari lagi guru khusus pendidikan moral dan agama O.K. Triman : Waktu kecilku, 5 tahun, dulu ada peristiwa lucu. Waktu naik kereta-api, aku pura-pura pintar baca, dengan membaca karcis kereta api, sambil mulutku komat-kamit. Ibuku melihat, lalu membetulkan posisi lembar karcis yang terbalik. Malu, ya ? padahal aku ingin pamer kalau aku 'sudah pintar', 'sangat berakal', dan 'cerdas'. Kebiasaan merasa diri hebat, lalu sok pamer, sering menyebabkan seseorang lupa diri. Amat bahaya, sikap 'megalomaniak' yang sama sekali tak ada dasar seperti ini. Istigfar-lah... wass. wr. wb. Triman ______________________________________________________ Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com ______________________________________________________________________ If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email; To subscribe: [EMAIL PROTECTED] To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
