Jeng Tutut, Yth. Sudah lama, lho, aku ingin menulis ini sama situ. Tapi kok ya baru sempat sekarang. Tenan, lho, ini. Lha piye, terbayang terus sih sama wajahnya situ, yang tambah umur kok makin cantik saja, sih. Tapi, bukan soal kepincutnya aku sama situ, lho, suratku kali ini. Aku mau bicara soal ramanda, yang sedang gerah, sakit maksudku, saat ini itu, lho. Saya ikut prihatin, lho, jeng. Sebagai sesama hamba Allah, yang suatu saat juga mengalami keadaan serupa, dipundhut oleh Gusti, aku benar-benar menundukkan wajahku, dan memuji kebesaran Illahi. Jeng Tutut, yang cantik... Saya mau titip pesen sama situ. Rela atau tidak, owel atau pasrah, bagaimana umur manusia itu ada batasnya. Ndak ada yang hidup terus. Malah medeni nanti. Nakutin. Sepertinya, keng rama, pun sudah harus disispkan ke arah sana. Yang namanya sakit, apalagi di yuswanya yang sudah cukup sepuh, maka kemungkinannya tidak ada lain, kecuali sembuh atau yang lebi buruk, dipundhut sama Hyang Gusti, dipanggil menghadap Illahi. Sakitnya keng rama, ayahanda, adalah sakit yang sedikit banyak mempengaruhi kesadaran beliau. Mungkin saja Gusti masih maringi, memberi, umur panjang, tetapi apa artinya kalau kesadaran beliau hilang. Ini adalah kesempatan yang terbaik bagi jeng Tutut, untuk mengingatkan beliau untuk bertobat, selagi masih sempat. Siapa lagi yang pantas mengingatkan beliau, datang berbisik di telinga pendengaran beliau, kecuali jeng Tutut dan para adinda. Aku kan cuma boleh liwat-liwat di depan rumah sakit saja, sehingga tak mungkin aku menyampaikan peringatan ini kepada beliau. Mengupayakan agar keng rama menjadi sembuh, bukan sesuatu yang salah. Tetapi mempersiapkan segala sesuatu pada kondisi terburuk, juga harus dipertimbangkan. Jangan cuma karena silau oleh gebyar kekayaan dan kekuasaan lalu mecoba mati-matian menantang takdir. Kasihan rama, kalau di ujung hayatnya beliau dalam keadaan yang sangat buruk, belum hilang semua dosa karena belum sempat bertobat. Coba, jeng, Anda yang paling tua di antara putra-putri beliau, dan yang paling berkesempatan untuk menyampaikan permintaan tobat beliau, dengan cara membisikkannya di telinga beliau, selagi beliau masih sadar. Yang juga mesti dijaga adalah jangan sampai rakyat justru semakin benci, di saat keng rama semakin mendekati saat keberangkatannya. Tak usah bawa-bawa paranormal, yang malah menjauhkan beliau dari rahmat Allah. Juga tak usah pakai pengacara-pengacara tengil macam Juan Felix serta Sitompul bersaudara itu. Apa yang mereka sampaikan adalah demi honor belaka. Mereka mengira, semakin keras dia membuat pembelaan, pasti honor akan ditambah. Tetapi tahukah akibatnya ? rakyat semakin membenci. Alaih-alih itu adalah ulah para pengacara, malah keng rama, ayahnda, yang semakin menerima tumpahan serapah. Cobalah sumeleh, andap asor, dan mencoba memahami situasi yang terjadi saat ini. Jika jeng dan keluarga semakin bertahan, sulit lho membendung arus kebencian rakyat yang mungkin sangat meluap, nanti. Bahkan ketika keng rama dan ibu sudah berada di makamnya, tetap saja kebencian itu akan menderanya. Apa jeng Tutut akan merelakan hal itu juga menimpa anak, dan mungkin cucu-cucu jeng sendiri? Mumpung belum telat, lakukan segera saat ini. Bisikkan ke telinga ayahnda agar bertobat, dan mengakui semua kesalahan yang pernah terjadi, serta mengembalikan semua harta yang diperoleh dengan cara tak betul itu kepada rakyat. Niscaya, di saat terakhir beliau nanti, rakyat akan mengantarkannya dengan luruh, dan senyum ramah. Besok, mungkin sudah terlambat, lho. Gigih __________________________________________________ Do You Yahoo!? Bid and sell for free at http://auctions.yahoo.com ______________________________________________________________________ If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email; To subscribe: [EMAIL PROTECTED] To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
