He.. he... kena juga akhirnya. (Senyum dong Om Komkom...)
Jadi, jelas bukan kalau persoalan pokok saat ini adalah pada strategi
bangsa ini didalam memanfaatkan seluruh potensi yang dimiliki untuk bangkit
dari ketergantungan pihak lain guna memperbaiki keadaan kita.
Maaf Bung, itu sudah ada dalam pidato politik Mega.
Bung Komkom, tulisan ini menunjukkan bahwa we are in the same side.
Sebenarnya, inilah yang diharapkan oleh Bung Yap dkk dari seorang Komkom.
Boleh kan kalau saya mengutip sekali lagi tulisan Bung Yap"
"Nampaknya sih banyak yang mengharap agar Anda yang
membawa atribut ITB pada user-name itu mampu berpendapat obyektip. Bukan
sekedar ikut arus atau sekedar melawan arus."
Eh.... tetapi setuju dengan Bung Karno bukan karena sesama alumni?
(nggak perlu dikomentari)
Merdeka!
----- Original Message -----
From: Raja Komkom Siregar <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: 20 August 1999 07:51
Subject: Re: [Kuli Tinta] Golkar baru....!
On Fri, 20 Aug 1999, [iso-8859-1] �� wrote:
> Hee... sombong sekali Om Komkom ini.
Ck.ck..ck, bung ac(sorry berat, karakter ac anda susah nulisnya)
betul-betul nggak bisa dianggap bercanda. Santai lah bung nanti kena
stroke seperti mantan presiden kita itu.
> Teknologi yang telah 10 langkah kedepan itu telah menghasilkan apa
dibidang
> hasil karya anak bangsa Indonesia Bung? PAL, IPTN, Inca? Tolong dong
> diceritakan....
Yang paling memalukan ya IPTN itu. Ini kan proyek buang-buang uang. Tapi
itulah faktanya, dan anak bangsa ternyata sudah bisa melakukannya,
walaupun ada tipu-tipu dikit. Permasalahannya, Kenapa sampai Kapal ditukar
dengan beras ketan?
Dimanakah gerangan Marketingnya? siapa sih yang bertanggung jawab terhadap
marketing? Apakah teknolog sekaligus bertanggung jawab terhadap marketing,
ada apa dengan teamwork nya?
> Saya percaya bahwa salah satu sumber dana dari ITB adalah jualan
teknologi.
> Namun, kita kan membutuhkan benchmark Bung! Apa kira-kira di ITB tidak ada
> rasa sedikit galau ketika harus melhat dijalanan kendaraan berbagai merek
> asing diparkir disana? Bahkan juga kendaraan yang dinaikinya? Juga untuk
HP
> atau teknologi yang lain.
Kalau anda mau tahu, silahkan deh check paten-paten teknologi yang berasal
dari PT-PT atau Instansi/Lembaga di Indonesia, jumlahnya ribuan bung.
Belum lagi skripsi-skripsi Mahasiswa yang bobotnya kebanyakan sampai pada
menghasilkan suatu produk!
Kalau mau lihat di web paten silahkan klik di http://paten.itb.ac.id/ bung
ac akan lihat bagaimana sebenarnya bangsa ini bisa maju dengan syarat di
manage secara betul.
Lah, apa gunanya penemuan-penemuan itu kalau pengambil keputusan di atas
sana lebih mementingkan keuntungan jangka pendek daripada jangka panjang.
Bayangkan benda sekecil Jam tangan sekalipun mesti diimpor. Coba, siapa
yang salah sebenarnya, apa tidak terpikir untuk membuat kebijakan
memanfaatkan kandungan lokal untuk memproduksi Jam tangan tersebut.
Apa akibat dari kebijakan ekonomi itu? Anda lihat sendiri bangsa kita di
kuyo-kuyo sama Amerika, seenaknya aja mereka mempermainkan dollar terhadap
rupiah. Coba kalau fundamental ekonomi bangsa kita kuat, produksi sembako,
plus produksi teknologi secara domestik, Apakah kita mesti ngimpor beras,
ngimpor kedelai yang notabene di beli dengan dollar. Inilah hasil
pembangunan selama 33 tahun, pola konsumtif atau ketergantungan yang amat
sangat tinggi terhadap barang-barang luar. Padahal banyak penemuan
teknologi yang sebenarnya bisa dimanfaatkan.
Apalah daya seorang penemu, kalau pengambil kebijakan error terus.
Solusinya? yah... ikut "bantu-bantu" deh dengan switch ke bidang lain, ya
nggak???
> Suatu negara yang maju dalam suatu bidang industri tertentu sangat
beralasan
> kalau ditunjang oleh pendidikan tinggi di negara itu. HBB belajar
> aeroneutika di Jerman bukan Malaysia. Fiat, BMW, Audi, dll mengindikasikan
> bahwa pendidikan dan R&D disana maju dibidang itu.
Sudah saya tulis di atas, apa yang penting itu adalah niat baik dari
pimpinan-pimpina negara ini. Saya sendiri berharap pengambil
keputusan bidang ekonomi belajar dari ketergantungan dan pola konsumtif
yang telah dialami bangsa ini selama 32 tahun, untuk yang satu ini rasanya
saya setuju dengan bung Karno, bahwa kita harus bisa swasembada di segala
bidang, agar bangsa lain bisa melihat bahwa kita sebenarnya mampu.
Harapan saya bagi pemerintah baru, semoga krismon ini menjadi titik balik
kebijakan ekonomi yang memanfaatkan penemuan-penemuan lokal. Mulai dari
yang paling kecil dan sederhana saja dulu, tidak usah dulu bikin mobil
apalagi kapal terbang.
Terakhir, setinggi apapun pengetahuan yang dicari tidak akan berguna sama
sekali, kalau kebijakannya ekonominya error. Mau belajar Amerika, di
Planet lain, kalau toh tidak bisa diaplikasikan secara tepat dinegara ini,
nggak ada gunanya.
> Coba dijawab, Om Komkom dan Om beDoer belajar dimana dan mengapa?
Lho...ini maksudnya apa?
> ��
>
______________________________________________________________________
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan lakukan sendiri dengan mengirim e-mail
kosong ke;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!