Bila Mega Tersangkut Lippogate
Gus Dur Jadi Capres Terkuat
Reporter: Hestiana Dharmastuti
detikcom, Jakarta- Situasi politik dalam negeri memang sukar ditebak.
Peluang Mega untuk duduk sebagai presiden yang besar, saat ini diperkirakan
akan terganjal. Ini ada kaitannya dengan adanya dugaan PDI Perjuangan
terlibat skandal dengan Bank Lippo, sebagaimana Golkar terlibat dalam
Skandal Bank Bali. Dan bila itu terjadi, maka peluang Gus Dur sebagai
presiden akan sangat besar.
�Bila Mega dan Lippo terlibat skandal, maka Gus Dur adalah satu-satunya
calon presiden yang memungkinkan,� analisis pengamat politik Andi Alfian
Mallarangeng dalam sebuah diskusi tentang poros tengah di Jakarta Design
Center, Jl S Parman, Jakarta Barat, Kamis (26/8/1999).
Tampilnya Gus Dur, selain karena terganjalnya Mega dalam Lippogate, juga
bila Habibie terganjal akibat Baligate. �Akibat Baligate bisa saja Golkar
tiba-tiba tidak mencalonkan Habibie atau Habibie mengundurkan diri. Ini akan
membuat poros tengah yang mencapreskan Gus Dur tambah solid,� ujar
Mallarangeng. Karena itulah Mallarangeng menilai bahwa potensi poros tengah
di SU MPR mendatang sangat tergantung pada situasi yang berkembang. �Sesuatu
dapat terjadi sehingga poros tengah wajar muncul dalam sistem politik yang
modern,� sambung wakil pemerintah di KPU ini.
Mallarangeng sendiri menilai potensi poros tengah untuk menang cukup besar.
�Kalau poros tengah benar-benar solid, kursi mereka melampau kursi PDI
Perjuangan dan Golkar,� kata Mallarengeng. Dalam perhitungan, poros tengah
memang mengantongi 170 kursi lebih. PDI Perjuangan ada 154 dan Golkar 120
kursi. Munculnya poros tengah pun dianggap Mallarangeng sebagai sesuatu yang
wajar. �Itu harus dainggap sebagai sesuatu yang etis karena kita tidak
menerapkan sistem parlementer atau presidensial murni,� jelas Mallarangeng.
�Saya melihat apa yang dilakukan oleh Amien Rais,Hamzah Haz, dan Gus Dur
serta rekannya yang lain di poros tengah adalah sesuatu yang modern. Mereka
selalu melihat peluang-peluang yang ada,� tutur Mallarangeng. Meski
demikian, pria berkumis itu tidak menampik adanya kerapuhan di poros tengah.
�Karena mereka gabungan beberapa parpol dan punya spektrum ideologi yang
berbeda,� alasan Mallarangeng.
Perpecahan Internal Parpol Menguntungkan
Lebih lanjut Mallarangeng menilai bahwa indikasi perpecahan yang ada di
tubuh partai politik justru menguntungkan partai itu sendiri. Dia menunjuk
perpecahan PAN yang menghadirkan konflik Amien Rais dan Faisal Basri dan PKB
yang terjadi antara Gus Dur dan Matori Abdul Djalil.
�Saya melihat konflik itu justru menguntungkan parpol itu sendiri karena itu
memberi peluang bagi parpol untuk dapat melihat ke kiri dan kanan. Dan itu
wajar dalam situasi yang cair ini. Mereka masih melihat peluang yang ada,�
kata dosen Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) ini.
Dia bahkan menilai bahwa dukungan Matori pada Mega adalah sesuatu yang
terlalu dini. �Padahal sesuatu kan masih dapat berubah. Kalau terjadi
perubahan drastis dalam konstelasi politik misalnya Habibie dengan Baligate
dan Mega dengan Lippogate, ini semua bisa merubah konstelasi politik,� ujar
Mallarangeng.
Mallarangeng menilai bahwa aksi dukung-mendukung akan lebih mengena kalau
dilakukan pada Oktober nanti, yaitu pas SU MPR. �Pada pertengahan Oktober
baru ada kristalisasi dukungan. Jadi sekarang kita nikmati dulu yang ada
karena masih terlalu dini semua,� demikian Mallarangeng.
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!