Pak Hasan yang baik,
Membaca posting sampeyan membuat aku jadi tergugah buat menulis
yardstick lain juga. Biar banyak yang makin sebel sama aku. Biar suka
gonta-ganti nama, aku kan konsisten dari dulu yaitu nggak suka sama
Banteng gemuk, hehehe.
Ini sekalian buat memanas-manasin forum, aku mau tulis yang begini ini.
Biar aja. Kan sekarang musimnya blak-blakan Pak. Paling banter posting
ini kan di-delete sama yang nggak suka. Saya mau lihat, warga milis ini
yang mayoritas diam, apa memang seperti dikatakan Pak Hasan : tolok ukur
atau yardstick mereka sama bahwa : DILARANG anti PDIP dan Mega !
-------------- dan inilah postingnya ----
Sebagai orang pers harus saya akui bahwa yang terjadi bukan sekedar
kebebasan pers bung, tetapi telah lahir rezim pers. Bagi yang kurang
sreg sama PDIP jangan serius-serius baca Kompas. Makan hati mas.
Bagi yang kurang sreg sama penjajahan gaya baru, jangan sering-sering
lihat CNN. Banyak "yahudi tengik"-nya. Artinya, semua boleh kita baca,
lihat, dengar, tapi ya kita sendiri koq yang jadi kontrol terhadap
informasi yang ada. Mereka yang ada di dapur pers itu khan ideolog
semua, maunya ya menyebarkan ide-idenya ke orang lain.
Namun ya sekarang ini sudah mulai kasar permainannya. Memihak ke partai,
bahkan untuk yang kurang baikpun jadi bisu budheg. Namun tetap
saja ada pers yang baik lho, saya nggak mau nyebut nanti tambah keruh
suasananya. Pilih sendiri saja bung.
Kalaupun ada kabar bahwa PAN pecah, itu khan juga nggak apa-apa. Namanya
juga beda pendapat, lagian khan PAN itu masih baru, masih mencari bentuk
begitu. Kalau Amien Rais mungkin sudah terbiasa dengan beda pendapat
bahkan berbenturan yang amat dahsyat sekalipun, kalau Faisal mungkin jam
terbangnya masih belum tinggi mungkin, jadinya gampang ngambeg gitu. Lha
wong acara ultah pertama lho koq malah pilih nggak datang.
Jadi FB pantasnya mendirikan PDI-P cabang PAN saja.
Kayak Matori Gudel pantasnya mendirikan PDI-P cabang PKB.
Dan memang isunya Matori mau jadi wapres, Said Aqiel Siradj (juragan
survey) mau jadi menteri agama, Faisal Basri mau jadi Gubernur BI. Jadi
logis khan kalau realita yang terbaca dari media walaupun kadang bagi
kita bikin bingung dan terasa muak mau muntah ya. Tapi begitulah elit
politik kita saat ini yang harus kita terima dengan lapang dada.
Kalau nggak ditawari jadi Wapres, mana mungkin gudel yang satu itu
pencilakan jadi PRnya PDI-P. Nggak ada ceritanya orang NU mau kerja
kalau nggak ada imbalan.
Dan saya sungguh heran ada orang yang ngotot bahwa presiden tidak perlu
orang pinter. Lha apa itu tidak sama dengan mereka yang mengidap
inferior kompleks saja. Atau mungkin saya keliru. Orang yang tidak
pinter, karena itu dia ngomong tanpa mikir cuma membaca tulisan orang
lain. Nggak berani tanya jawab sama pers tapi tetap dibelain.
Kita tunggu saja siapa yang bakal mendapat dukungan orang banyak
terbanyak di SU MPR nanti. Kalau Habibie dijatuhkan sekarang nanti
pemerintahan dikendalikan oleh mendagri-lu-hankam. Bisa dibayangkan
bagaimana reaksi pasar, stabilitas jadi amburadul, dan terdapat
ketidakpastian yang luar biasa. Jadi mendingan diselesaikan saja semua
urusan di SU MPR. Mega kalau nggak kepilih, pendukungnya nggak usah
ngamuk. Kuwalat nanti.
Sayangnya permintaan untuk menyelesaikan semua di SU MPR hanya bisa
diajukan pada orang yang bisa mikir. Mereka yang biasa pakai otot, ya
cuma bisa menyelesaikan lewat otot. Atau cap jempol darah.
Mana itu orang yang katanya nasionalis tulen dan mewarisi sikap Bung
Karno yang bilang go to hell with your aid. Sehingga kita harus bertanya
bolak-balik pada mereka para pendukung PDIP itu : Anda itu katanya
mewarisi sikap BK ? Sikap apanya yang diwarisi? Paling cuma
foto/gambarnya saja yang ditenteng ngalor ngidul. Mana ada yang peduli
apa omongan/ajaran BK tempo hari.
Paling enak memang ngapusi orang bodoh di Indonesia ini.
Hayo Ngamuk ....!
S a m
Abdullah Hasan wrote:
>
> Memang benar. Kelihatannya cuma ada satu 'yardstick' yang patut digunakan
> oleh orang yang pintar dan waras : PDIP atau Mega. Siapa-siapa yang kurang
> pas pada Mega patut dipertanyakan : Akal dan kecerdasannya , Moral
> etikanya, Nasionalismenya, dan Ijazahnya.
> Siapa-siapa yang tidak memilih atau bukan simpatisan PDIP, patut
> dipertanyakan : Apa betul bagian dari rakyat negeri ini ? Jumlahnya mereka
> itu berapa sih ?
>
> Apa kurang jelas kalau PDIP menang tigapuluh ( ulangi tiga kali :
> tigapuluh ) persen ? Itukan luar biasa !
>
> Wassalam.
> Abdullah Hasan.
>
> From: �� <[EMAIL PROTECTED]>
>
> Ah... Anda bercanda politik ya.... . Hanya heran saja mengenai kelurusan
> berpikir mas Profesor Doktror itu.
>
> Di satu sisi beliau mengkritik PDIP yang menggunakan isu Bank Bali untuk
> menghantam lawan politknya, namun di sisi yang lain beliau menggunakan
> takaran yang dikritiknya yaitu mengatakan bahwa PDIP (dikatakan sebagai
> partai besar yang selalu mengkritik Golkar) terlibat dalam kasus Lippo
> (dikatakan sebagai kasus yang mirip Bank Bali).
>
> Seandainya pernyataanya mengenai PDIP yang terlibat kasus Lippo itu tidak
> didahului oleh kritknya terhadap PDIP yang mengkritik Golkar dengan kasus
> Bank Bali maka tanggapan publik tentunya akan lebih positif.
>
> Saya sedang menduga apakah Profesor di bidang politik juga suka bercanda
> politik.
>
> ----- Original Message -----
> From: bRidWaN <[EMAIL PROTECTED]>
>
> Hhhehehe...Watta a nice comment from AR...:)
> Masih ada Etis/Etika juga rupa-nya dinegara kita.
>
> Jadi pingin tahu mana dan apa sih yang disebut
> Etis pada saat ini ?
>
> Apakah anda mencoba memberitahukan kita
> bahwa AR adalah seorang Oportunis ?
>
> Salam,
> bRidWaN
>
> At 07:15 PM 8/24/99 +0700, c= wrote:
> > Sudah..., sudah Bung. AR sudah berkomentar mengenai BanK Bali.
> > Komentarnya adalah bahwa PDIP tidak etis menggunakan kasus Bank
> > Bali untuk menghantam lawan politiknya.
> >
> > Yang saya amati adalah, melalui Poros Tengah itu AR mulai
> > menanjak lagi seperti ketika awal reformasi itu.
> >
> > Anda kritis Bung, memang biasanya AR selalu langsung bereaksi.
>
> >----- Original Message -----
> >From: Cosmas Damianus Tufan <[EMAIL PROTECTED]>
> >Sent: 24 August 1999 13:01
> >
> >
> >Diam-diam Partai Amanat Nasional (PAN) terancam perpecahan. Kubu Faisal
> >Basri berhadapan
> >dengan Kubu AM Fatwa. Hebatnya, tabloid AMANAT sendiri, corong resmi PAN,
> >yang membuka
> >kemelut ini. Demikian berita dari Tabloid DETAK terbaru.
> >
> >Melalui Dedi Ekabrata, Kepala Dept. Agraria PAN, kubu Faisal Basri sudah
> >terang-terangan
> >"menggali kapak peperangan" melawan kubu AM Fatwa. AM dituding sebagai
> >sumber dr segala
> >sumber kekisruhan di tubuh PAN. AM seenaknya masuk ke semua wilayah
> kendati
> >sudah ada pembagian tugas. KAdangkala mengatas namakan Amien Rais. Dia
> >punya kontribusi terhadap
> >kecilnya peroleh suara PAN krn pengurus2 yg dipilihnya tidak bermutu.
> >Sampai2 kantor DPW
> >PAN di Medan dibakar dan para pengurusnya sudah saling mengancam untuk
> >membunuh.
> >AM mengatakan bahwa Faisal Basri tidak beretika, juga pernah mengatakan
> >bahwa tidak
> >tertutup kemungkinan PAN berkoalisi dg Golkar sehingga konstituen PAN
> >curiga.
> >
> >Bagaimana suara minro mengenai Faisal Basri ? FB dituding tidak mendukung
> >Poros Tengah,
> >menuding pola untuk mengagas Poros Tengah tidak institusional melainkan
> >personal.
> >AM mengatakan gaya politik FB sudah tidak memakai etika. FB dicurigai
> sudah
> >ada
> >ko0mitemen dengan kelompok Mega. Yangjelas AMANAT benar-benar "menguliti"
> >sang sekjen, Faisal Basri. Muncul surat kaleng yg isinya, AM adalah ular
> >berkepala dua,
> >membela-bela AR tetapi kompromi dengan Habibie. Berani sama Soeharto,
> tetap
> >i takut
> >sama Habibie dan Wiranto.
> >
> >Bagaimana kelanjutannya ? Kita tunggu, apakah "partai masa depan" ini
> >benar2 akan pecah?
> >Yang cukup menarik adalah salam "skandal Bank Bali" yang sedang ramai ini,
> >sang Ketua
> >Umum, Amien Rais kurang terdengar komentarnya. Tidak biasanya. Kok
> tumben,
> >ya ?
> >Apa beliau sedang sibuk mengurusi kursi presiden
>
> ______________________________________________________________________
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI dengan
> mengirim e-mail kosong ke alamat;
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
> ______________________________________________________________________
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI dengan mengirim
>e-mail kosong ke alamat;
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!