--- "Yap C. Young" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Duh..duh..duh, bung Yap kelihatannya makin panik ya.....

> >Apakah pak Amien ahli dalam bidang itu?
> >
> 
> Disini dipertanyakan keahlian, dan seluruh jawaban
> saya menjelaskan 
> pandangan saya bahwa beliau ahli.
> 
> Ternyata lalu menulis:
> >
> >Bisakah beliau netral dengan posisi tawar yang
> seperti ini?
> >
> Dan  Anda juga menulis:
> >
> >Jelas heran, karena pak Amien tidak akan bisa
> netral.
> >
> 
> Lho, kok jadi kenetralan. Kalau ini masalahnya,
> mengapa nggak dari awal? Apa 
> sesungguhnya yang ada dalam pikiran Anda saat itu?
> Keahliannya atau 
> kenetralannya? Saya hanya menjawab keraguan Anda
> tentang keahliannya, bukan 
> kenetralannya.
> 
> Tentang keahliannya, saya berpendapat bahwa Amien
> Rais yang paling pantas, 
> karena sebagai  Ketua Dewan Penasehat CBC, yang
> sekarang sedang meneliti  
> perkeliruan diperbankan. Dan dipercayai banyak
> pihak, dia yang pertama 
> melontarkan �kasus� ini, seingat saya setelah sowan
> ke Patra Kuningan (rumah 
> Habibie). Bahwa dia membantah, OK-lah. Tetapi
> sekurang kurangnya dia punya 
> cukup data, keahlian, dan lebih siap dalam
> menghadapi kasus ini. Singkatnya 
> saya mengharapkan hasil maksimal dari
> pengungkapannya.
> 
> Bahwa karena kedudukannya sebagai Ketum PAN
> menjadikan ada pihak yang 
> menganggap dia tidak netral, OK-lah. Saya juga
> mendukung ide Anda untuk 
> mencari pakar yang netral .  Sungguh saya mendukung.
> Seandainya Anda bicara kenetralan ini dari awal,
> kita tidak perlu beda 
> pendapat.

Begini bung Yap, silahkan anda cari seorang pakar bahasa apa sebenarnya
pengertian kata ahli itu. Ahli itu kalau tidak salah bisa berarti juga
yang berhak, betapa sempit pengertian anda tentang seorang yang ahli,
pernah dengan kata ahli waris? 

Maaf, saya bukan mau berkilah atau mencari-cari alasan, tapi begitulah
adanya.  Dan saya luruskan pula bahwa pokok masalah kita kan : layakkah
seorang Amien Rais diangakat jadi ketua koordinator tim audit terhadap
PDIP. Jadi wajar dong kalau unsur keahlian dan kenetralan jadi syarat
prioritas bagi sang auditor, Saya rasa anda pasti setuju.
 
> Pola pikir bahwa keahlian seseorang ditentukan latar
> belakang pendidikannya. 
> Misalnya menilai Amien Rais nggak ahli menjadi
> auditor karena sekolahnya 
> �cuma�  politik.

Semua orang berhak mendapatkan jabatan politis, dengan latar belakang
pendidikan apa saja, asal diterima rakyat. Insinyur, Doktor, Tukang
Becak, boleh saja jadi presiden,gubernur, dsb asal mampu.

> Pola pikir itu sangat berpengaruh luas dimasyarakat.
>  Walaupun Anda bilang 
> jabatan politis tidak ada sekolahnya, toch banyak
> orang meragukan kemampuan 
> Megawati karena sekolahnya. Padahal kalau mau
> sekedar debat kusir dengan 
> Amien Rais misalnya, Mega bisa menjawab, kalau untuk
> mendapat 7% suara saya 
> nggak perlu sampai S3, karena dengan SMA saja sudah
> dapat 30% lebih. Canda 
> nih....

Hmm... jadi melompat membela Megawati....Kok jadi pembelaan terhadap
Megawati?
 
> Kalau jabatan politis Anda bilang nggak ada
> sekolahnya, yang sekolah politik 
> dan STPDN, IIP dsb suruh jadi apa dong? Tapi kalau
> sekolah untuk direktur 
> Bank dan artis ada kaan? Dan saya pikir nggak
> pantaslah menganggap orang 
> nggak ahli sesuatu hanya karena latar belakang
> pendidikannya. Contohnya 
> sangat banyak didunia ini. Bidang politis, strategis
> maupun teknis.

STPDN? yang mendirikan itu siapa? Jadi anda mendukung sistem pencetakan
kader yang begitu???

> Serampangan bicara itu  misalnya meragukan keahlian
> seseorang hanya karena 
> latar belakang sekolahnya. Apalagi kalau mula mula
> meragukan keahliannya, 
> lalu setelah dijawab, ganti memasalahkan
> kenetralannya. Itu serampangan 
> namanya. Karena kalau yang ini saya jawab, mungkin
> ganti lagi dalihnya. 
> Begitu, roger?

Hahaha...Nggak perlu dijawab lagi siapa sebenarnya yang serampangan
bicara, Yang perlu bagi saya adalah berusaha memperbaiki diri, Semoga
anda begitu juga.

Karena sudah saya sebutkan bahwa kenetralan dan kemampuanlah yang
menjadi indikator kasus audit PDIP-Lippogate.

> Saya arogan dan merasa lebih hebat dari yang lain?
> Sama sekali tidak. Saya 
> fokus pada jalannya diskusi.
> Bahkan saya juga tidak mengatakan Anda arogan  dan
> merasa lebih hebat untuk 
> kalimat-kalimat dibawah ini:

You told Me Serampangan, jadi anda merasa bahwa rangkaian kata-kata
anda paling berbobot dan bermutu.
 
(**** deleted*****)

> Tidak ada satu kalimat sayapun yang mendukung
> pernyataan Anda ini. Sementara 

Anda tentu tidak akan mengatakan itu secara tersurat, tapi dari kalimat
seseorang kan kita tahu apa yang tersirat dibalik kalimat-kalimatnya.

>   saya nggak merasa direndahkan dengan kalimat
> kalimat Anda diatas, termasuk 
> yang ini:
> 
> >Sadarlah bung! mana profesionalisme anda dalam hal
> ini

Apa yang salah dari kalimat itu? Itukan ajakan, wah ternyata anda
tersinggung kalau diingatkan sama orang lain?

Saya pribadi merasa tersanjung kalau di ingatkan oleh kawan atau
sahabat, bukannya malah merasa dilecehkan.

> Artinya Anda mengatakan lebih profesional dari saya.
> Atau menganggap saya 
> tidak profesional.

Sama sekali tidak. Hanya untuk mengingatkan. Hehehe...boleh kan? 
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Bid and sell for free at http://auctions.yahoo.com


______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke