Sayangnya, harapan rakyat sering berbeda dengan harapan poitisi.

Timor Timur sebagai contoh, berapa persen dari mereka yang sebenarnya
menjadi penyebab kekerasan dan kematian disana? Tentunya bukan mayoritas
akat Timtim bukan?

Ucapan salah satu pemimpin Timtim yang mencegah para poltisi keluar dari
Timtim agaknya pantas direnungkan: "jangan sampai ada politisi yang keluar
dari Timtim sebelum penghitungan Jajak Pendapat selesai, agar mereka bersama
rakyat juga ikut merasakan kesengsaraan'

Nah, perilaku poltisi untuk menggunakan kekuatan masyarakat bagi kepentingan
pribadi atau kepentingan politik tampaknya masih dominan. Dari bumi Loro Sae
rakyat mulai meminta pertanggungjawaban para poltisi secara langsung.

Mestinya di era reformasi ini, bukan hanya di bumi Loro Sae rakyat menuntut
pertanggungajawaban para politisi secara langsung, namun juga diseluruh
persada bumi Indonesia semangat itu harus digelorakan. Para politisi itu
dipilih oleh rakyat, oleh sebab itu mereka harus memiliki psychological
contract dengan para pemilihnya.

Mengenai kekhawatiran terhadap SU mendatang, saya rasa itu sangat beralasan.
Selagi elit tertentu yang merasa khawatir kehilangan existing benefit belum
sadar dan cenderung menggunakan masa untuk mendukung kepentingan individu
atau kelompoknya maka kekhawatiran itu memang pantas timbul. Konflik di bumi
Loro Sae pada dasarnya mewakili potret konflik elit politik di Indonesia
saat ini. Lagi, rakyat adalah obyek (dan bahkan mungkin obyek penderita) dan
bukan subyek.

Kita membutuhkan Pemimpin Transformasional yang akan membawa bangsa ini
meninggalkan praktek-praktek kehidupan berbangsa dan bernegara masa lalu
yang Koruptif, Kolutif, dan Nepotikal.

��


----- Original Message -----
From: <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: 01 September 1999 06:32
Subject: [Kuli Tinta] East Timor Referendum vs SU-MPR 1999


Bung, AssWW,
Kita agak iri dengan rakyat East Timor yang dapat kesempatan jajak-pendapat
yang relatif damai dan diselenggarakan fair(?). Ternyata, 90% peserta ikut
jajak-pendapat. Ini berkat, itikad Pemerintah Indonesia, peran Polri & TNI,
UNAMET dan juga peran rakyat East Timor sendiri. Semoga hasilnya bermanfaat
untuk kehendak yang benar dan sejati bagi rakyat East Timor. Mari kita lihat
hasil dan kelanjutan-nya.

Sedangkan pelaksanaan SU-MPR 1999, sampai hari ini nampaknya masih diliputi
'mendung'. Kita was-was terhadap pelaksanaan SU-MPR 1999, lancar?
terselenggara? berhasil? hasilnya diterima rakyat Indonesia? bersemangat
reformis? pertengkaran? dominasi status-quo? Reformis kalah? Nampaknya,
hasil SU-MPR (apapun hasilnya) akan sangat menentukan nasib bangsa ini,
bukan? Hasilnya SU-MPR, dpt membawa perpecahan diantara kita? Kita semuanya
hanya dapat menduga atau memperkirakan kecenderungan. Kita sangat berharap
para pemain politik untuk mengindahkan etika politik. Bukti sejarah, rakyat
tidak dapat disingkirkan, tapi penguasa lalim pasti dapat di-singkirkan oleh
rakyat. Wass.
Dei et Patria.















______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke