Hmmm, ya ya ya .....
Sentilan anda membuat saya ingin menulis agak lebih panjang. Terutama
soal selera pasar itu,
Ideologi "selera pasar" itulah yang terkadang memprihatinkan saya. Media
massa saat ini tidak lagi sedigdaya pada tahun 70-an ketika kita dengan
gagah berani menyatakan Go to hell with your advertise ! Sekarang tidak
bisa lagi. Sudah ada Sucofindo, ada SRI dan berbagai lembaga riset
lainnya yang dijadikan patokan biro iklan untuk merekomendasikan ke
media mana saja iklan harus dipasang ....
Dan media massa sekarang harus manut pada keadaan itu. Pers bukan lagi
sepenuhnya kegiatan idealis, tetapi juga kegiatan ekonomis, bahkan
cenderung industrialis. Dalam era tersebut, tingkat konsumerisme
masyarakat serta apa yang disebut selera pasar menentukan mati-hidupnya
sebuah media massa.
Kita kerap ribut kalau sebuah media massa dibreidel orang lain,
Apalagi karena alasan-alasan politis,
Tapi kita diam saja manakala beberapa media massa bertumbangan dihajar
pasar. Kita sudah tak bisa lagi menjumpai Realitas, Majalah Ummat,
Majalah Sinar, Harian Batavia, Harian Mandiri, puluhan tabloid besar dan
kecil serta lainnya,
Pasar memang kejam, namun pasar juga amat "demokratis" dalam melakukan
seleksi alam. Dan ketika era internet nanti berkembang dengan dahsyatnya
seiiring perbaikan ekonomi Republik, maka kita akan menyaksikan
bagaimana masyarakat kita beralih dari media cetak ke media elektronik
secara beramai-ramai.
Sekarang kita sudah kenal teknologi NeTV yaitu Internet melalui layar
televisi anda di rumah. Anda yang belum punya komputer di rumah, cukup
membeli sebuah terminal plus keyboard/mouse seharga Rp 2,5 Juta. Dan
anda bisa surfing di internet dengan leluasa.
Apalagi ketika teknologi Oracle-8 dari Oracle Incorporated nanti sudah
memasyarakatkan Network Computer (NC) untuk menggantikan Personal
Computer (PC), maka tak ada lagi batas-batas geografis yang secara
konvensional kita kenal.
Anda mungkin bisa saja punya rumah di puncak gunung, namun dengan
pengetahuan kosmopolitan.
Masa depan memang menakjubkan !
S a m
Martin Manurung wrote:
>
> >Nggak .... nggak kok, saya jauh dari prasangka begitu. Saya juga tidak
> >pakai yardstick merah waktu pasang fotonya Megawati bersama 11 tukang
> >becak di Glodok Standard halaman pertama.
> >
> >S a m
>
> Martin:
> He..he.he.., tapi saya tidak mempercayai isu "simpanan"-nya Pak Amien, bukan
> karena untuk memenuhi "selera pasar" lho..., itu bedanya dengan pemasangan
> foto anda di hal pertama glodok standard.
>
> Martin Manurung <http://www.cabi.net.id/users/martin>
> _________________________________________________
> E-mail: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
> Visit http://come.to/forma-kub
>
> ______________________________________________________________________
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
> dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!