MB Gerakan Aceh Merdeka Eropa P.O.Box: 2084, S-145 02 Norsborg, Sweden Fax: 46-8531 88460 REFERENDUM TETAP TUNTUTAN UTAMA RAKYAT ACEH Hikayat Perang Sabil bergema DPR nepotis warisan Orde Baru Suharto yang sebenarnya sudah habis masa fungsinya setelah Pemilu yang lalu, masih bermain curang dengan memburu waktu membahas RUU tentang Keistimewaan Aceh. Rakyat Aceh tak mau ditipu lagi, karena DOM dijalankan justru di kala Aceh bersetempel "Daerah Istimewa" dan bersemaan itu kekuasaan sipil dikebirikan, sehingga Aceh sepenuhnya dikendalikan oleh ABRI/TNI hingga sekarang. Ketidakyakinan terhadap Pemerintah Habibie-Wiranto yang tetap melekat di hati rakyat Aceh, diungkapkan dengan terus menuntut referendum sebagai cara yang demokratis dan damai bagi hak Aceh menentukan nasib sendiri. Sebagaimana telah kami siarkan kemarin, berdasarkan sumber dari Kompas 3 September, di Banda Aceh telah diadakan Rapat Akbar mahasiswa dari berbagai universitas, para santri dan massa rakyat luas Aceh. Juga bergabung dalam rapat itu para dosen. Rapat Akbar yang diprakarsai SMPT negeri maupun swasta serta forum mahasiswa se-Aceh itu, menurut Waspada 3 September, bertujuan untuk menyamakan visi dan persepsi serta menggalang persatuan dan kesatuan antara mahasiswa dengan rakyat Aceh. Sebagai penyemangat, rapat itu dibuka dengan melantunkan Hikayat Perang Sabil dari warisan masa rakyat Aceh melawan penjajahan Belanda. Militer biang masaalah Topik-topik orasi yang digemakan orator mahasiwa dalam rapat itu antara lain, "Militer Akar Permasalahan di Aceh", "Hak Asasi Manusia", "Rferendum Perjuangan Rakyat". Ini mewakili suara hati rakyat Aceh yang selama ini mendapat perlakuan tidak adil dan sewenang-wenang dari Pemerintah Jakarta dan TNI (terutama Angkatan Darat) - PPRM. Salah seorang pembicara, tokoh mahasiswa, Aguswandy, mengatakan, selama ini atas nama kezaliman, para jenderal Indonesia telah membantai dan memperlakukan rakyat Aceh dengan semena-mena. Karenanya, militer merupakan akar permasalahan di Aceh. Untuk jangka pendek rakyat Aceh kalah melawan kezaliman TNI. Tetapi untuk jangka panjang, berkat bantuan Allah SWT, rakyat Aceh akan menang. Seorang wakil dari Lhokseumawe, Teungku "Muda Aceh" Husein, mengelukan semangat massa dengan menyatakan, rakyat Aceh harus memiliki rasa persatuan dan kesatuan untuk melawan segala bentuk penindasan yang dilakukan aparat. Dengan persatuan dan kesatuan, dia menegaskan, "Insya Allah, kita akan mampu memberikan yang terbaik bagi masa depan Aceh", tulis Waspada. Penyelenggaraan Rapat Akbar ini dicoba rintangi oleh aparat keamanan dengan melepaskan tembakan-tembakan didepan pos PPRM di Geulumpang Minyeu�k, Pidi�, dengan menghalangi 32 truk dan bus yang mengangkut 4000 massa dari Aceh Utara, Aceh Timur dan Meureudu, Pidie menuju Banda Aceh. Ini pertanda kebebasan rakyat Aceh untuk menyampaikan aspirasinya secara demokratis masih terkekang. Terhadap kesewenangan aparat keamanan itu, membuat Koordinator Pelaksana Rapat Akbar, Alfian, mengungkapkan hadis maja Aceh: Ureu�ng Atj�h meunjo� hana teup�h, pad� bidj�h djipeuteubi�t u lua. Meunjo� ka teup�h, bu leub�h han djipeutaba (Bahasa Melayunya: Orang Aceh kalau tidak tersinggung padi dan bibitnya pun di berikan. Tetapi, kalau sudah tersinggung, nasi sisa pun tidak akan ditawarkan). Stockholm, 5 September 1999. Penerangan MB GAM Eropa
______________________________________________________________________ Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI dengan mengirim e-mail kosong ke alamat; Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
