Yup, aku juga ngutuk tuh bangsa(t) Australia. Bangsa sialan itu seenaknya
saja menyetir opini dunia, menjelek-jelekkan negeri kita sehingga dimata
dunia seakan-akan kita dianggap sebagai bangsa penjajah, merampas hak orang
lain. Justru merekalah yang sialan, yang merampas kemerdekaan bangsa lain
(liat aja bangsa polinesia/aborigin yang nota bene pemilik sah benua itu
masih dikrukupi sama mereka, malah ada gejala mereka hendak memusnahkan ras
ini). 

Sekarang mereka bikin setori dengan kita, menjelek-jelekan kita, padahal
justru merekalah pengacau di Tim-Tim sana, siapa yang berani bantah bahwa
kegiatan Fretilin di support oleh mereka, dari mana para pengacau ini
memperoleh senjata kalau bukan dari mereka, kemana pengacau Fretilin minggat
kalau bukan ke mereka ....?      

Aku muak sekali waktu PM-nya bilang akan mengirim tentaranya ke Tim-Tim
(sesuai tayangan Reuter TV sama DW TV), pongah sekali mereka ini....!
Makanya getun sekali liat bangsa ini, sudah mengacau ehhhh malah nambah
merendahkan martabat bangsa kita ini. Apa dianggapnya bendera kita itu
gethuk apa pake dibakar-bakar .....?      buangsat pollll.........!


Tapi semua ini nggak akan terjadi kalau si kerdil Habibie nggak nyeleneh
ngasih opsi gila ini, buego pollll profesor satu ini .....!   sudah lupa dia
kalau bangsa kita ini sudah menghabiskan banyak sekali keringat, darah,
nyawa dan materi untuk membantu membangun tanah ini, supaya bisa sejajar
dengan tanah saudara-saudaranya yang lain, si profesor bego ini mengira
kalau melepaskan tanah sialan ini terus kita bakal jadi lebih bermartabat
....!  bego....bego dimana nalar orang pandai satu ini....!

Apa ndak shyok awak liat bendera kita dibakar (padahal si Habibie gokil ini
ngira kalau kita ngasih opsi itu kita bakal lebih dihormati, lha ini kok
......?)   akibatnya bukannya kita dimata dunia dianggap gentlement malah
dianggap monyet bego, penjajah goblok, dan jadi bulan-bulanan bangsa asu
yang suka mendiskreditkan kita di dunia luar.

Wesss sial tenan.

(tapi aku nggak bisa tereak-tereak keras anti ustrali disini, lha aku kerja
diperusahaan ustrali je, bisa dipecat nanti.....!                      yah
dasar apes ......!)

Paijo (temannya Sarimin yang lagi benci pol sama bangsa ustrali)

> ----------
> From:         banteng suropati
> Subject:      [arek-suroboyo] Pembakaran Sang Merah Putih di Australia
> 
> Hari Kamis kemarin saya MARAH BESAR. Dan karena itu, saya tidak merasa
> perlu untuk bermanis-manis kata. Pada tanggal 2 September 1999 itu, tak
> kurang dari 15 orang Australia (bukan keturunan Timtim, melainkan bule
> Australia) menyerobot masuk ke halaman kompleks Konsulat Jenderal Republik
> Indonesia (KJRI) Melbourne sekitar pukul 16.30 waktu setempat. Mereka
> MENURUNKAN SANG MERAH PUTIH dan MEMBAKARNYA.
> 
> Buat saya, tindakan tersebut nyata-nyata merupakan suatu PENGHINAAN BESAR
> yang menginjak-injak HARGA DIRI dan MARTABAT saya sebagai anak bangsa
> Indonesia. Dan saya haqqul yaqin, itu juga berarti penghinaan terhadap
> seluruh 210 juta rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke. PENGHINAAN
> BANGSA ASING TERHADAP KITA BANGSA INDONESIA INI SUDAH MELEWATI BATAS. DAN 
> INI TAK BISA DIBIARKAN.
> 
> SAYA MENGUTUK SENISTA-NISTANYA TINDAKAN ORANG-ORANG AUSTRALIA TERSEBUT !!!
> 
> Karena mereka telah berani membakar Sang Merah Putih yang sangat kita
> hormati, maka itu berarti PERNYATAAN PERANG secara terbuka terhadap
> seluruh
> bangsa Indonesia. Oleh karena itu saya tidak akan ragu-ragu untuk
> mengutuk,
> bukan cuma kelimabelas orang Australia yang tak tahu adat itu, tetapi
> kepada SELURUH BANGSA AUSTRALIA.
> 
> Dalam pandangan saya saat ini, bangsa Australia tak lebih dari
> segerombolan
> manusia yang tidak mengerti adat istiadat pergaulan internasional.
> Ternyata
> mereka belum lagi beranjak jauh dari kebejatan dan kebobrokan kakek-kakek
> buyut mereka yang notabene adalah para bandit, bajingan dan sampah
> masyarakat yang dibuang oleh pemerintah Inggris ke sebuah benua nun jauh
> dibawah sana, agar tidak mengotori tanah Inggris.
> 
> Semua bangsa-bangsa yang beradab .. all civilised nations (kata-kata ini
> merupakan rumusan wajib dalam setiap dokumen pada awal perkembangan hukum
> internasional) .. selayaknya tahu bahwa ada hukum internasional yang
> dihormati dan dijunjung tinggi oleh semua bangsa-bangsa yang beradab,
> bahwa
> halaman dalam sebuah perwakilan diplomatik suatu negara asing merupakan
> teritorial yang sah dan diakui dunia sebagai teritorial bangsa asing yang
> bersangkutan dan dilindungi oleh kekebalan hukum (imunitas) dari ketentuan
> hukum negara tuan rumah. Baik warganegara maupun aparat pemerintahan dari
> negara tuan rumah harus menghormati ketentuan ini.
> 
> Itu baru halaman gedung perwakilan diplomatik. Apalagi jika itu menyangkut
> eksistensi BENDERA NASIONAL yang merupakan simbol kebanggaan dari suatu
> bangsa. Yang kalau perlu dibela dengan nyawa.
> 
> Ratusan ribu nyawa para pejuang kita telah moksa, hanya demi membela Sang
> Merah Putih tersebut. Banjir darah puluhan ribu pemuda membasahi bumi
> Surabaya hanya karena mereka ingin membela dan mengibarkan Sang Merah
> Putih. Begitu pula di palagan Ambarawa, Yogya, Aceh, Lebak, Karawang,
> Bekasi, Bali, Minahasa, Maluku hingga Irian Jaya.
> 
> Dan itu bukan cuma monopoli bangsa Indonesia. Puluhan ribu serdadu marinir
> Amerika gugur di medan pertempuran Guadalcanal dan berpuncak pada sebuah
> momen yang paling dramatis dalam sejarah Amerika dan dunia, yaitu
> sekelompok serdadu marinir dengan taruhan nyawa menancapkan tiang dan
> mengibarkan "Stars and Stripes" di bukit Iwo Jima.
> 
> Sebuah bangsa yang berani mati melancarkan puputan bukan "hanya" sekadar
> membela secarik kain warna-warni. Tetapi lebih dari itu. Sebuah harga
> diri,
> martabat dan kebanggaan sebagai bangsa.
> 
> Saya bukan lagi menyesalkan. Atau menyayangkan. Tetapi sudah MENGUTUK
> tindakan Australia itu. Apakah mereka telah DEMIKIAN TOLOLNYA sehingga
> tidak mengerti apa arti The Vienna Convention on Diplomatic Relations 1961
> dan The Vienna Convention on Consular Relations 1963 ???
> 
> Puluhan pasal berserakan di kedua Konvensi tersebut yang menegaskan
> pengakuan "kedaulatan dan kekebalan" perwakilan diplomatik. Antara lain
> pasal 22, 25, 26, 27, 31 dan 45. Belum lagi ratusan ketentuan yang
> tertuang
> pada puluhan Konvensi, Traktat dan Protocol yang mengatur soal ini.
> 
> Pasal 31 Konvensi Wina, misalnya, menyebutkan bahwa halaman kompleks
> gedung
> Kedutaan Besar atau Konsulat negara asing merupakan wilayah kedaulatan
> negara yang bersangkutan dan demikian dinyatakan kebal hukum terhadap
> segala ketentuan hukum dan perundang-undangan dari negara tuan rumah.
> Bahkan aparat yang berwajib dari negara tuan rumah WAJIB meminta ijin
> terlebih dahulu dari perwakilan diplomatik yang bersangkutan jika ingin
> memasuki halaman gedung tersebut. Selain itu aparat keamanan dari negara
> tuan rumah diharuskan memberikan perlindungan dan penjagaan "wilayah"
> tersebut dari kemungkinan penyusupan (intrusion) atau tindakan-tindakan
> lain yang dianggap merugikan dan menghina martabat perwakilan asing
> tersebut (impairment of dignity).
> 
> Contoh paling ekstrim dari "pelanggaran berat" atas ketentuan tersebut
> diatas oleh negara tuan rumah adalah pada kasus pendudukan Kedutaan Besar
> AS di Teheran 1979 oleh segerombolan Pasdaran dan berlanjut pada drama
> penyanderaan staff Kedutaan Besar AS tersebut. Mahkamah Internasional
> (International Court of Justice) pada 1980 memutuskan pemerintah Iran
> bersalah karena tidak dapat memenuhi kewajibannya dan diharuskan membayar
> kompensasi dan beberapa sanksi berat lainnya (The Iran Case - ICJ Report
> 1980 dan International Law Review 1980, hal. 556).
> 
> Ditambahkan pula bahwa negara tuan rumah tetap diharuskan melindungi
> gedung
> kedutaan asing berikut seluruh penghuni dan properti di dalamnya, walaupun
> telah terjadi PERANG (ARMED CONFLICT) atau PEMUTUSAN HUBUNGAN DIPLOMATIK 
> antara negara asing tersebut dengan negara tuan rumah.
> 
> Sebaliknya, contoh ekstrim dari "kepatuhan" negara tuan rumah adalah pada
> saat terjadi demonstrasi di depan Kedutaan Besar Libya di London, 17 April
> 1984. Polisi Inggris berjaga-jaga secara ketat di depan gedung Kedutaan
> Besar Libya untuk mencegah demonstran yang memaksa memasuki halaman
> kedutaan tersebut. Ironisnya seorang polwan Inggris justru tewas dihantam
> peluru yang ditembakkan dari dalam gedung kedutaan oleh seorang diplomat
> Libya. Kepatuhan itu semata-mata karena pemerintah Inggris berusaha
> menghormati Konvensi Wina.
> 
> Memang pada akhirnya, setelah terdapat desakan yang sangat kuat dari dalam
> negeri, House of Lords mengeluarkan keputusan bahwa aparat keamanan
> Inggris
> dibenarkan memasuki halaman dan gedung kedutaan Libya "tanpa" ijin
> terlebih
> dahulu dari Libya, dengan catatan, tindakan tersebut HANYA untuk mencari
> "barang bukti" dan BUKAN untuk menangkap si penembak. Masuknya aparat
> keamanan Inggris itupun masih harus didampingi oleh diplomat dari Saudi
> Arabia sebagai "saksi" yang dianggap netral oleh kedua pihak yang
> bertikai.
> 
> Sebagai ilustrasi tambahan. Baru-baru ini, di tengah ancaman pembunuhan
> dan
> pembomam terhadap staff diplomatik dan gedung kedutaan atau konsulat AS di
> Pakistan oleh para pendukung fanatik Jamaat-e-Islami (JI) dan
> Jamaat-e-Ulema-I-Pakistan (JUI), juru bicara kedutaan besar AS di
> Islamabad
> menyatakan bahwa " _ we reserve the right to shoot anybody who enters
> American diplomatic premises without prior consent of the Embassy or
> Consulates .." Dan ini dia nyatakan dengan alasan kuat bahwa halaman
> gedung
> perwakilan AS merupakan wilayah kedaulatan AS yang akan selalu dijaga
> dengan taruhan nyawa oleh USMC.
> 
> Untuk mencegah meledaknya konflik antara barisan jihad JI dan JUI - yang
> mendukung sepak-terjang Osama ben Laden - dengan pemerintah AS, maka
> pemerintah Pakistan sebagai negara tuan rumah sedikitnya menyiagakan
> lusinan tank dan kendaraan lapis baja di sekitar kedutaan AS di Islamabad
> dan Karachi.
> 
> Maafkan saya yang berpanjang-panjang menuliskan praktek-praktek
> perlindungan terhadap kedutaan asing tersebut. Maksudnya tak lain adalah
> untuk menggambarkan bahwa APARAT KEAMANAN AUSTRALIA DI MELBOURNE TERBUKTI 
> GAGAL TOTAL MEMBERIKAN PERLINDUNGAN DAN PENJAGAAN TERHADAP GEDUNG KJRI 
> MELBOURNE.
> 
> DI SISI LAIN, MASYARAKAT AUSTRALIA TERNYATA TELAH MEMPERAGAKAN SIKAP
> ANARKIS 
> DAN TOLOL, YANG JAUH LEBIH BURUK DARI SEKADAR IGNORANCE. MEREKA SAMA
> SEKALI 
> TIDAK LEBIH BAIK ATAU JUSTRU LEBIH BEJAT DARIPADA SEGEROMBOLAN PASDARAN
> !!!
> 
> Pemerintah Australia tidak perlu menjadi seorang jenius untuk dapat
> memperkirakan bahwa situasi diseputar jajak pendapat sudah mendekati titik
> didih, bukan hanya di Timor Timur, tetapi juga di luar negeri. Apalagi di
> Australia, dimana komunitas Timtim yang pro-kemerdekaan terbilang sangat
> besar. Aparat keamanan Pakistan masih jauh lebih baik dan siaga ketimbang
> Australia, karena pemerintah Pakistan jauh-jauh hari sudah dapat "mencium"
> gelagat kurang baik antara masyarakat Pakistan dan pemerintah AS.
> 
> Di pihak lain, pemerintah Indonesia, juga harus membuang jauh-jauh praktek
> diplomasi "anak manis" yang diperagakan selama ini. Gaya diplomasi "low
> profile" macam itu sudah bukan jamannya lagi. Terbukti bahwa gaya
> merunduk-runduk telah menjadi sangat kontra-produktif karena bangsa kita
> justru dianggap sebagai "pariah" yang sama sekali tidak dipandang sebelah
> mata.
> 
> Terlepas dari perhitungan "keuntungan" ekonomis yang mungkin diharapkan
> oleh pemerintah Orba dengan menerapkan gaya diplomasi "inlander" itu, saya
> semakin mantap untuk mengatakan bahwa gaya diplomasi "biar miskin asal
> sombong" yang diperagakan Bung Karno, Bung Hatta, Sutan Syahrir, Agus
> Salim, Cak Rus, Mohammad Roem dan deretan pendekar diplomasi Indonesia
> lainnya pada masa-masa awal kemerdekaan kita, masih jauh LEBIH TERHORMAT.
> Sejarah membuktikan bahwa pada masa itu bangsa kita tidak pernah merasa
> minder berhadapan dengan bangsa manapun. Dan justru sebaliknya, malah
> dihormati bangsa lain.
> 
> Agus Salim, Menteri Luar Negeri kita, yang berperawakan kecil dan
> kelihatan
> kurang "meyakinkan" justru dengan gemilang berhasil "membantai habis"
> Mijnheer Lund (Menteri Luar Negeri Belanda) di forum internasional. Hal
> ini
> hanya mungkin dilakukan kalau kita tidak pernah merasa minder berhadapan
> dengan bangsa lain. Apalagi terhadap penjajah biadab yang telah ratusan
> tahun menghisap habis darah rakyat Indonesia.
> 
> Atas dasar inilah, saya MENUNTUT agar pemerintah Indonesia HARUS bersikap
> keras, tegas dan lugas terhadap pemerintah Australia untuk
> mempertanggungjawabkan kekurangajaran bangsa Australia yang menurunkan dan
> membakar Sang Merah Putih, termasuk juga aparat keamanan Australia yang
> dengan sangat tolol menjalankan tugas dan kewajibannya.
> 
> Kita tidak boleh berhenti hanya karena nanti ada pernyataan maaf dari
> pemerintah Australia. Tidak !! Kita harus memperkarakan pemerintah
> Australia di hadapan Mahkamah Internasional, karena secara hukum
> (internasional) yang berlaku umum, pemerintah Australia telah sangat lalai
> menjalankan kewajiban sebagai negara tuan rumah.
> 
> Masih terngiang dengan jelas lagu yang selalu saya dan teman-teman lainnya
> nyanyikan dengan bersemangat ketika kecil dulu di Surabaya ...
> 
> BERKIBARLAH BENDERAKU .. MERAH PUTIH GAGAH PERWIRA ..
> SIAPA BERANI MENURUNKAN ENGKAU .. SERENTAK RAKYATMU MEMBELA .. !!!
> 
> Merdeka !!
> 
> Banteng Suropati
> 
> 

______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!









Kirim email ke