Pluto wrote :
>Saya kira Gus Dur tidak akan sebodoh itu. Bagaimana pun antara kelompok
>NU dan Muhammadiyah (yang dipersonifikasi dengan Amien Rais) >sebenarnya
tetap berseberangan.
Bung bisa di perjelas dengan persepsi anda di atas , buat saya sikap anda
kok lebih banyak provokasinya ?
Dan apa benar milis Siar punyanya Islam garis keras ?
Jangan - jangan .................
Dan calon presidan anda sendiri siapa sich ?
Terimakasih
> ----------
> From: pluto[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Reply To: [EMAIL PROTECTED]
> Sent: 05 September 1999 15:56
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: [Kuli Tinta] FWD: LION -- Amien Rais dan Poros Tengah yang
> Mencurigakan
>
> Ini saya ambilkan dari milis lain yang ditulis Lion.
> Ada komentar ?
>
> LION -- Amien Rais dan Poros Tengah yang Mencurigakan (3)
>
>
> Fri, 27 Aug 1999
>
>
> Setelah mungkin kucing tertawa karena melihat ada capres dari sebuah
> parpol yang bernama PAN, yang hanya mampu memperoleh 7,5 persen suara,
> tetapi naga-naganya capresnya tetap berambisi menjadi presiden,
> sebagaimana saya singgung dalam bagian pertama posting ini. Sekarang,
> mungkin ada lagi orang yang mengigau. Apa pula ini? Dalam sebuah
> wawancaranya, ketika Amien disinggung bahwa ada kecurigaan Poros Tengah
> diadakan untuk mendukung Habibie, Amien menjawab: "Kalau ada anggapan
> poros tengah dibuat untuk mendukung Habibie, itu mengigau. Sulit
> mencari kesalahan yang lebih fatal dari pendapat seperti itu!" (Oposisi
> No. 55, 22 Agustus 1999). Perkembangannya sekarang?
>
>
> Amien Rais menemui Habibie di kediamannya di Patra Kuningan. Itu berita
> yang kita peroleh beberapa waktu lalu. Terus kenapa? "Tidak ada
> apa-apa," jawab Amien Rais. "Hanya silahturahmi biasa," kata Ketua PAN
> dan pemrakarsa Poros Tengah itu. Dan yang disebut "tidak ada apa-apa,
> dan hanya silahturahmi biasa" itu ternyata membutuhkan waktu selama
> sekitar tiga jam lebih, dan berupa pembicaraan empat mata antara kedua
> tokoh tersebut. Jadi, percayakah Anda bahwa pertemuan itu merupakan
> pertemuan biasa? Tidak ada tendensi politiknya?
>
>
>
> Wajarlah orang pun sangat curiga, bahwa maksud kedatangan Amien itu
> jelas-jelas mempunyai maksud politik tertentu. Apakah itu dalam rangka
> mendukung Habibie? Bisa saja "ya." Tetapi bukankah, dalam banyak kali
> wawancara, terutama di media-media cetak, dalam rangka diadakan Poros
> Tengah, Amien Rais dengan tegas-tegas mengatakan bahwa dia menolak
> Habibie dan Megawati sebagai calon presiden? "Habibie No, Mega No!" dan
> judul-judul sejenis dari wawancara dengan Amien berkenan dengan Poros
> Tengah, yang diberitakan di beberapa media cetak, yang belum lama ini
> bisa kita baca. Jadi, bukankah tidak mungkin Amien sekarang malah mau
> mendukung Habibie?
>
>
>
> Bukan Amien namanya kalau omongannya tidak bisa dipegang. Pada awal
> pembentukan Poros Tengah saja, Amien mengatakan bahwa diadakan Poros
> Tengah adalah untuk mencairkan pertentangan politik antara kubu Habibie
> dengan Megawati. Katanya, Poros Tengah akan mengajak Habibie dan
> Megawati untuk duduk berunding, guna memecah kebekuan pertentangan di
> antara mereka, sehingga akan dicapai solusi yang terbaik bagi bangsa
> dan negara.
>
>
> Namun dalam hitungan hari, dia sudah berubah bicaranya. Katanya, Poros
> Tengah menolak Habibie dan Megawati sebagai calon pimpinan bangsa ini.
> Lepas dari tulus tidaknya maksudnya, bagaimana bisa mereka akan
> mengajak kedua tokoh itu berunding, dengan Poros Tengah sebagai
> "mediatornya," kalau belum-belum sudah mengambil sikap bertolak
> belakang dengan mereka?
>
>
>
> Di dalam buku "Membangun Politik Adiluhung" (Zaman, 1998) yang berisi
> kumpulan tulisan-tulisan Amien Rais, terdapat beberapa bagian yang
> berisi pendapat Amien tentang Habibie. Misalnya di bawah bagian yang
> berjudul: "Cendekiawan Salon Memang Masih Ada dalam Masyarakat" halaman
> 117, terdapat beberapa paragraf yang berbicara soal hubungannya dengan
> Habibie dan memuji-mujinya. Saya kutip untuk Anda:
>
>
>
> <Kutipan dimulai>
> ** "Dengan Pak Habibie saya cukup dekat. Tiga kali saya diajak ke Timur
> Tengah: Iran, Uni Emirat Arab dan Arab Saudi. Pak Habibie pernah
> mengatakan: 'Pak Amien itu kan ahli Timur Tengah. Siapa tahu saya perlu
> wawasan-wawasan Anda.'
>
>
>
> Ketika saya ikut ke Iran, sedikit-banyak saya membantu Pak Habibie.
> ...Tentang persepsi rakyat Iran yang sangat bangga terhadap revolusinya.
> Saya katakan pada Habibie, apapun pandangan mengenai revolusi itu
> (revolusi Islam, -- Lion) ada baiknya kita ikut bangga dengan revolusi
> Iran.
>
>
>
> ... Habibie itu orang yang saleh. Puasa Senin-Kamisnya tidak pernah
> lepas, kecuali ketika sangat lelah atau tidak makan sahur. Shalatnya
> tepat waktu. Bahkan setiap di pesawat terbang, tidak pernah membaca
> majalah, tapi al-Quran. Saya kira itu merupakan kesalehan yang built in
> dalam diri Habibie.
>
>
>
> Buat saya ini menarik. Sebagai pakar teknologi yang puncak, dia tidak
> meninggalkan sikap kesalehan itu. Komitmennya terhadap rakyat banyak
> juga tidak dibuat-buat . ..."**
>
>
>
> <Kutipan diakhiri>
>
>
>
> Jadi, pantaslah kita sangat curiga dengan manuver Amien Rais yang
> bertemu dengan Habibie dan melakukan pembicaraan "rahasia" empat-mata
> selama lebih dari tiga jam itu. Ditambah lagi dengan mencuatnya skandal
> Bank Bali. Pernahkah kita dengar Amien mengecam Habibie? Satu katapun
> tidak! Lepas dari bersalah-tidaknya Habibie. Turut terlibat, atau
> tidaknya Habibie dalam skandal Bank Bali. Sebagai presiden Habibie
> harus bertanggung jawab, tidak "lepas tangan" seperti sekarang ini.
> Sebaliknya, Amien malah balik mengecam PDI Perjuangan, yang menurutnya
> tidak etis, karena katanya, mempolitikkan skandal Bank Bali. Kemudian
> mencoba mengalihperhatian umum dengan mengatakan bahwa PDI Perjuangan
> ternyata telah terlibat money politics, karena menerima bantuan
> ratusan miliaran rupiah dari berbagai kalangan pengusaha konglomerat
> (terutama dari grup Lippo). -- tanpa bukti yang memadai
>
>
>
> Apa yang dikomentari Amien ini, mempunyai warna sikap yang mirip sekali
> dengan watak Orde Baru yang juga diwarisi pemerintahan Habibie. Yakni,
> bukannya memasalahkan substansinya, tetapi malah menyalahkan pihak yang
> "membongkar" suatu skandal/kejahatan. Seperti kasus Ghalib, bukannya
> Ghalib yang diusut (secara benar dan tuntas), malah ICW yang
> membongkarnya yang dijadikan sasaran tembak. Demikian juga dengan
> skandal Bank Bali dengan PDI Perjuangan yang memprakarsai
> pengungkapannya secara tuntas, bukannya skandal itu dengan orang-orang
> penting (termasuk Habibie) yang diduga keras terlibat itu yang dituntut
> agar diusut, Amien malah menyalahkan PDI Perjuangan.
>
>
>
> Sepertinya, dengan semakin tersudutnya kubu dia bersama dengan kubu
> Habibie (yang mungkin saja merupakan satu kesatuan), perlahan-lahan
> kedok reformasinya mulai terlepas. Perlahan-lahan Amien kembali ke
> habitatnya.
>
>
>
> Tempo hari Amien jugalah yang paling rajin menghujat Golkar. Bahkan
> beberapakali pernah mengusulkan agar Golkar dibubarkan saja dan
> dilarang ikut Pemilu. Sebagai kompensasi dari dosa-dosa politiknya,
> kata Amien ketika itu. Tetapi apa yang terjadi setelah hasil pemilu
> diumumkan?
>
>
>
> Masih segar dalam ingatan kita, tokoh-tokoh PAN, termasuk Amien Rais
> sendiri pulalah yang memberi semacam tawaran kepada Golkar untuk
> berkoalisi dengan PAN, dengan satu syarat utama: Golkar harus mencabut
> pencalonan Habibie sebagai presdien! Ketika itu pulalah orang menaruh
> curiga, bahwa di balik itu secara tidak langsung kubu PAN hendak
> mengatakan Golkar bisa diterima PAN asalkan Amien Rais mengganti posisi
> Habibie sebagai capres dari hasil koalisi tersbut. Sebab, kalau
> syaratnya agar Golkar melepas Habibie. Siapa lagi penggantinya kalau
> bukan capres dari PAN?
>
>
>
> Ironisnya Golkar pun menolak tawaran tersebut. Bahkan PAN dianggap
> tidak tahu diri, karena sudah posisi tawarnya lemah (kalah jauh dari
> Golkar), tetapi bisa-bisanya mereka yang memberi syarat. Hal yang sama
> juga pernah ditawarkan PAN kepada PDI Perjuangan. Kata mereka agar PDI
> Perjuangan bisa pro aktif untuk mendekati PAN, karena bagaimanapun,
> posisi Amien Rais masih signifikan dalam menentukan capres dari parpol
> tertentu. Rupanya setelah kalah sikap mereka yang terlalu percaya diri
> masih belum hilang. Setelah menerima penolakan-penolakan ajakan itu,
> dan melihat kenyataan perkembangan yang ada, barulah mereka menutup
> mulut mereka.
>
>
>
> Tetapi rupanya tidak lama. Sebab sekarang mereka mulai bersuara lagi,
> setidaknya tokoh yang bernama Amien Rais itu. Setelah menggandeng
> parpol-parpol berasas Islam, Amien mulai bersuara lantang lagi dengan
> Poros Tengahnya itu. Seolah-olah posisi Poros Tengah sudah solid dan
> paling kuat, dia mulai pasang harga lagi. Katanya, Poros Tengahlah
> yang paling kuat posisinya (dilihat dari jumlah perolehan kursi --
> padahal itu belum tentu, karena PKB sudah hampir pasti tidak mau
> bergabung) ketimbang Golkar, maupun PDI Perjuangan. Oleh karena itu
> kedua parpol itu harus melakukan pendekatan dengan Poros Tengah untuk
> memuluskan jalan mereka di Sidang Umum MPR nanti. Sesuatu pernyataan
> yang sebenarnya kontradiksi dengan pernyataannya kemudian, yakni bahwa
> dia menolak Habibie, maupun Megawati. Bahkan PPP yang merupakan bagian
> tak terpisahkan dari Poros Tengah sudah dengan tegas mengemukakan
> kriteria utama capres mereka, termasuk kriteria: putra (baca:
> laki-laki) terbaik dan beragama Islam. Suatu penyampaian kriteria yang
> langsung menggeser Megawati. Bagaimana bisa, sekarang malah katanya
> Poros Tengah hendak memberi tawaran seperti itu?
>
>
>
> Saya menduga bahwa dibentuknya Poros Tengah tidak lepas dari maksud
> terselubung mereka untuk memperkuat posisi Habibie sebagai capres, dan
> Amien Rais sebagai alternatifnya. Yakni apabila posisi Habibie
> benar-benar tidak bisa lagi dipertahankan akibat dari berbagai skandal
> dan tregedi yang terjadi (seperti skandal Bank Bali). Amien Raislah
> yang akan dimajukan. Habibie adalah calon utama. Itu skenario A. Kalau
> gagal, sudah disiapkan skenario B, yakni Amien Raislah sebagai
> presidennya. Yang penting mereka sebuah berasal dari satu grup dan satu
> aliran.
>
>
>
> Indikatornya ada. Antara lain adalah sudah terang dan jelas setidaknya
> tokoh-tokoh penting di Poros Tengah, seperti Hamzah Haz dan Yusril Ihza
> Mahendra adalah pendukung utama Habibie. Bahkan salah satu Ketua DPP
> PAN sendiri, Dawam Rahardjo adalah pendukung setia Habibie. Kita akan
> bertambah yakin, kalau melihat sebagian besar tokoh-tokoh di Poros
> Tengah, tak terkecuali Amien Rais, itu adalah orang-orang ICMI yang
> selama sekian tahun mempunyai Ketua Umum yang bernama B.J. Habibie.
>
>
>
> Bersambung
>
>
>
>
> LION -- Amien Rais dan Poros Tengah yang Mencurigakan (4 -- habis)
>
>
> Sun, 29 Aug 1999
>
>
>
> Dalam sebuah wawancaranya dengan tabloid Oposisi edisi Nomor 55, 1999,
> Dawam Rahardjo salah satu Ketua DPP PAN dan juga tokoh ICMI, dengan
> tegas dan lugas menolak Megawati dan mendukung mati-matian Habibie,
> dengan alasan untuk menyelamatkan bangsa ini, agar tidak dipimpin oleh
> orang yang tidak mampu. Ketika didesak bahwa penolakan terhadap Habibie
> sangat deras, Dawam meng-counter-nya dengan mengatakan, walaupun banyak
> rakyat yang menolak, semuanya tergantung dengan Sidang Umum MPR. Suatu
> pendirian yang mirip pemikiran rezim Soeharto: "Masa bodoh dengan suara
> sesungguhnya dari publik, yang penting apa maunya penguasa. Semuanya
> mudah dibelok-balik dalam sidang umum yang akan 'disandiwarakan. ' "
> yang akan dibayar dengan miliaran rupaih per kepala, seperti banyak isu
> yang santer beredar itu.
>
>
> Di tabloid Siar yang dikenal sebagai media Islam garis keras, Dawam
> pernahmemberi komentar terhadap kelompok yang antiHabibie (yang disebut
> dengan istilah "benci" Habibie) yang dikait-kaitannya dengan faktor
> agama lagi. Dawam berkata, orang-orang yang tidak suka Habibie adalah
> orang-orang Kristen, atau kelompok nasional-sekuler yang ditunggangi
> Kristen, yang ingin mengmarjinalkan Islam. "Jadi, orang yang benci
> Habibie itu karena benci pemerintahannya tetapi karena keIslamannya."
>
>
>
> Itu hanya sebagian kecil dari sikap orang-orang yang dari Poros Tengah,
> yang kadangkala, barangkali, kelepasan ngomong, sehingga membuka kedok
> mereka sendiri. Bahwa sebenarnya mereka adalah para pendukung Habibie
> dengan alternatif Amien Rais, seperti yang saya sebutkan di atas.
> Pokoknya orang-orang ICMI yang harus berkuasa di negeri ini! Itu yang
> barangkali menjadi prinsip mereka.
>
>
>
> Dengan terus membawa sentimen agama, ada dugaan pula kehendak kuat
> mereka mengubah UUD 1945 adalah dengan menjadikannya sebagai suatu
> konstitusi yang membawa negara ini ke suatu "negara agama." Partai
> Bulan Bintang, misalnya, yang paling antusias mengembalikan Piagam
> Jakarta (Jakarta Charter) yang menekankan unsur agama Islam, sebagai
> pengganti UUD 1945 sekarang. Demikian juga Amien Rais dalam sebuah
> tulisannya mengatakan, "Kita harus ikut bangga dengan (menangnya)
> revolusi Islam di Iran." (Lihat tulisan ini bagian ketiga). Jadi,
> semangat mengubah konstitusi yang mereka cetuskan cenderung ke
> konstitusi yang mengarah ke unsur "negara Islam." Sekarang posisi
> mereka belum terlalu kuat. Jika kelak kekuatan mereka menjadi kuat dan
> sudah menentukan (solid), sikap-sikap sebenarnya yang selama ini
> terbenam (tetapi sekali-sekali kelihatan, karena ada yang tidak tahan
> menahan omongan) akan bermunculan satu per satu. Dan mereka inilah yang
> tergabung dalam Poros Tengah!
>
>
> Untuk memperkuat posisi Poros Tengah tersebut, Amien Rais mencoba
> merayu PKB dengan mencalonkan Gus Dur sebagai presiden, sebagaimana
> dikumandangkan Amien Rais. Karena kalau PKB berhasil diajak bekerja
> sama dengan "imbalan" mencalonkan Gus Dus sebagai presiden, barulah
> perolehan kursi dari "tim" Poros Tengah itu signifikan. Tanpa PKB
> jumlah kursi yang mereka miliki masih belum bisa berbicara banyak. Di
> samping harapan pada Utusan Golongan/Daerah.
>
>
>
> Tetapi rupanya strategi, atau rayuan Amien Rais ini tidak laku di mata
> para tokoh PKB. Di sela-sela rapim yang dilangsungkan di Hotel
> Penisula, Jakarta, Minggu, 15 Agustus lalu, Ketua DPP PKB Khofifah
> Indar Parawansa, berkomentar "Selama rapim berlangsung, persoalan poros
> tengah memang tidak dibahas. Kami memandang bahwa poros tengah bukan
> merupakan kekuataan riil. Karena itu tidak perlu diresponsi. Cuekin
> saja." PKB menganggap pencalonan Gus Dur oleh Amien Rais dengan
> mengatasnamakan Poros Tengah hanya merupakan manuver politiknya (dengan
> Poros Tengah) karena situasi politik yang cenderung menguntungkan PDI
> Perjuangan, dan membahayakan posisi Habibie, atau klik mereka. Nanti
> setelah situasi berubah, kelompok poros tengah itu akan berubah lagi
> sikap. PKB tetap menghormati hasil pemilu yang memenangkan PDI
> Perjuangan. Sangat tidak realistis kalau PKB ngotot mencalonkan Gus Dur
> sebagai capres. Padahal perolehan suara PKB di bawah 20 persen. Begitu
> secara garis besar yang diutarakan pihak PKB tentang suara-suara dari
> Poros Tengah itu.
>
>
>
> Agak aneh terjadi, tempo hari ketika Amien Rais (dan Poros Tengahnya)
> mencalonkan Gus Dur sebagai capres. Gus Dur berkata bahwa dia terima
> saja pencalonan itu, tetapi dia sendiri tetap memegang Megawati sebagai
> capres mendatang. Alasannya karena PDI Perjuangan yang menang dalam
> pemilu. Tetapi, Amien cs rupanya tetap ngotot. Seperti mata gelap,
> setiap kali Gus Dur berkata seperti itu (tetap mencalonkan Megawati),
> Amien selalu dengan cepat muncul, dengan mengulangi komentarnya bahwa
> pencalonan Gus Dur tetap berlaku. Padahal mungkin saja, komentar Gus
> Dur yang mengatakan dia menerima, tetapi tetap mencalonkan Megawati
> sebagai pemenang pemilu, merupakan sindiran buat Amien cs. Tetapi
> mereka tidak mau tahu, menutup mata dan telinga, dengan tetap terus
> mendorong Gus Dur yang mereka maksudkan dijadikan pion politik klik
> mereka. Bila saatnya tiba, situasi politik berubah, Gus Dur akan
> ditendang.
>
>
>
> Komentar Gus Dur yang terus-menerus mengatakan menerima pencalonan
> capres tetapi tetap memegang Megawati karena dia berasal dari capres
> yang memenangkan pemilu, rupanya sempat menggusarkan sebagian orang di
> Poros Tengah. Terutama orang-orang PAN. Karena respon Gus Dur seperti
> ini bisa membuyarkan skenario dan strategi kelompok Poros Tengah. Salah
> satunya adalah Dawam Rahardjo dari PAN, yang dengan geram berkata
> kepada wartawan, bahwa yang mengacaukan upaya politik Poros Tengah
> adalah Gus Dur. Karena, menurut dia, Gus Dur terus-menerus mengatakan
> bahwa dia tetap memegang Megawati.
>
>
>
> Tetapi, rupanya kegelisahan dan kegerahan kelompok Poros Tengah
> terhadap sikap Gus Dur tidak bertahan lama. Belum lama ini Gus Dur,
> seperti biasanya, memberi komentar yang terkesan mencla-mencle. Dia
> berkata, bahwa dia siap dicalonkan sebagai presiden, dan tidak lagi
> mendukung Megawati.
>
>
>
> Manuver politik Gus Dur ini, seperti biasa, terkesan sekali plin-plan
> dan membinggungkan banyak orang. Benarkah kini Gus Dur sudah melepaskan
> Megawati dan tergiur dengan rayuan kelompok Poros Tengah dengan "calon
> presiden" itu?
>
>
>
> Saya kira Gus Dur tidak akan sebodoh itu. Bagaimana pun antara kelompok
> NU dan Muhammadiyah (yang dipersonifikasi dengan Amien Rais) sebenarnya
> tetap berseberangan. Apakah Gus Dur mau begitu saja menyebrang ke Poros
> Tengah yang nota bene dinahkodai oleh tokoh Amien Rais (yang banyak
> tidak disukai di NU) itu? Padahal kelompok ini sebenarnya masih rapuh,
> selama belum ada dukungan dari kelompok lain, seperti dan terutama dari
> PKB. Walaupun bergabung, parpol-parpol Islam ditambah PAN (yang
> mengaku) sebagai parpol nasionalis, tetap tidak cukup kuat dalam SU MPR
> nanti, kalau tidak mendapat dukungan dari Utusan Golongan/Daerah, TNI,
> PKB, dan sebagainya.
>
>
>
> Jadi, komentar Gus Dur yang terakhir ini pun bisa jadi sebenarnya
> menyelubungi maksud-maksud tersembunyi Gus Dur, yang merupakan adu
> strategi dalam melayani strategi dan manuver kelompok para oportunis
> yang bernama Poros Tengah itu, yang hendak memperalatkannya.
>
>
>
> Menyikapi sikap PKB yang tetap tidak mau mencalonkan Gus Dur sebagai
> presiden, dan tetap pada pendirian mendukung Megawati sebagai capres
> pemenang pemilu, Gus Dur berkata yang namanya politik itu bisa
> berubah-ubah. Demikian pula kemudian dari PKB (Matori Abdul Djalil)
> berkata seperti itu. Khofifah Indar Parawansa berkata, ya memang bisa
> berubah, bisa saja nanti PKB malah mendukung Gus Dur. Bingung? Ya,
> memang membingungkan. Tetapi, cermati makna lain yang terkandung di
> dalam pernyataan-pernyataan itu.
>
>
>
> Mereka mengatakan yang namanya politik bisa berubah-ubah. Itu adalah
> kenyataan. Jadi, mereka tidak usah bicara begitu kita juga tahu, bahwa
> sikap para politisi itu memang bisa berubah-ubah. Apalagi dengan para
> oportunis politik di negara ini. Tetapi yang disebut berubah-ubah itu,
> bisa saja merupakan sindiran tidak langsung dari Amien Rais yang suka
> berubah-ubah dalam mengeluarkan pernyataan-pernyataannya. Atau lebih
> intinya adalah, kalau memang sikap politik bisa berubah-ubah. Maka,
> mungkin juga Gus Dur itu akan kembali ke sikapnya semula (yang
> sebenarnya) bahwa dia akan mencalonkan Megawati lagi.
>
>
>
> Pernyataan-pernyataan Gus Dur, seperti menerima pencalonan Poros Tengah
> supaya dirinya menjadi presiden, dan sebagainya, diduga juga semakin
> upaya untuk mendinginkan suhu politik. Permainan Poros Tengah itu
> dilayani Gus Dur, sehingga suhu politik dalam hal bursa calon presiden
> itu sekarang memang agak mendingin. Kemungkinan lain adalah agar pihak
> PDI Perjuangan, jangan terlalu percaya diri, sehingga lupa daratan
> dengan kekuatan mereka sendiri. Dengan begitu, mereka diharapkan bisa
> instrospeksi dan melakukan konsolidasi lebih lanjut.
>
>
>
>
> Dalam beberapa kesempatan Amien Rais dengan tegas membantah
> kecurigaan-kecurigaan bahwa manuver politiknya Poros Tengah hanya akan
> berujung pada pencalonan Habibie sebagai presiden, dan alternatif
> dirinya sendiri sebagai presiden. Apakah penegasan Amien ini merupakan
> jaminan?
>
>
>
> Seperti yang saya katakan, semakin lama omongan Amien ini susah
> dipegang. Beberapa waktu lalu, sewaktu masih terjadi perhitungan suara
> sementara pemilu, tetapi sudah mutlak-pasti PAN tidak akan mampu meraih
> sampai 10 persen suara. Amien Rais sendiri berkata bahwa dia menerima
> kekalahannya, dan akan menjadi kelompok oposisi. Mengenai pencalonannya
> sebagai presiden oleh PAN, dengan kalahnya PAN, maka peluang itu
> menjadi sangat kecil. Tetapi, kata Amien, semua bisa berubah kalau
> suara rakyat menghendaki. Kata-kata bersayap seperti ini yang akan bisa
> jadi kita dengar lagi nanti, sebagai "perubahan" dari penegasannya yang
> menyangkal bahwa kelompok Poros Tengah itu sebenarnya mempunyai tujuan
> untuk mengegolkan Habibie sebagai presiden mendatang, atau malah
> dirinya sendiri sebagai alternatif.
>
>
>
> Bila situasi politik berubah, dengan menguntungkan kelompok Poros
> Tengah, dan kemudian Habibie, atau dia sendiri dengan terang-terangan
> (dicalonkan) sebagai presiden, Amien akan berdalih bahwa itu merupakan
> perwujudan dari suara rakyat juga. Penegasannya yang menyangkal
> kecurigaan di atas, tetap diragukan ketulusan dan kebenarannya: "Sekali
> menipu seumur hidup orang tidak akan percaya."
>
>
>
> Demikianlah kita sekarang membaca, seolah-olah terjadi ketidakserasian
> di antara kelompok Poros Tengah dalam hal pencalonan Gus Dur sebagai
> capres mereka. Seperti yang dikatakan oleh Zarkasih Noor dari PPP, atau
> Yusril Ihza Mahendra dari PBB, bahwa sebenarnya belum ada kesepakatan
> bulat Poros Tengah mencalonkan Gus Dur. Seolah-olah itu kehendak semata
> dari Amien Rais dan beberapa kawannya di Poros Tengah. Sedangkan yang
> lain masih belum menentukakan sikap. Yang janggal adalah apabila memang
> belum ada kesepakatan tentang hal itu, kok bisa-bisanya Amien cs di
> Poros Tengah itu lancar-lancar saja melakukan manuver mereka
> mencalonkan Gus Dur dengan mengatasnamakan Poros Tengah? Kenapa mereka,
> yang mengatakan belum ada kesepakatan itu hanya diam saja melihat Amien
> cs mengatasnamakan Poros Tengah seperti itu?
>
>
>
> Jawabannya adalah mungkin seperti yang saya sebutkan di atas. Bahwa ini
> pun merupakan strategi kelompok Poros Tengah, yakni apabila situasi
> politik berubah, Poros Tengah akan dengan mudah membanting kemudinya
> sesuai dengan situasi pada waktu itu. Misalnya dengan membuang Gus Dur,
> dan mencalonkan Amien Rais. Bukankah pencalonan Gus Dur itu bukan
> merupakan kesepakatan bulat Poros Tengah, seperti yang diutarakan oleh
> Zarkasih dan Yusril itu? Sehingga Poros Tengah mengindari diri dari
> kecaman sebagai kaum munafik, mencla-mencle, oportunis, dan sebagainya.
>
>
>
> Pesan saya: berhati-hatilah dengan Poros Tengah dengan komandonya yang
> bernama Amien Rais itu! Sangat mencurigakan! Ingat bagaimana "stuktur"
> dan terdiri dari orang-orang macam apa saja yang ada di sana (baca
> bagian pertama tulisan ini)! Ingat, pernyataan dan sikap-sikap mereka
> yang beberapa kali dilontarkan, yang malah bertentangan dengan apa yang
> mereka sebutkan sebagai perjuangan mereka menuju era reformasi dan
> demokrasi!
>
>
>
> Tempo hari Amien Rais dengan tegas-tegas mendukung dwi fungsi ABRI,
> pendukung kebijakan pemerintah dengan "mobil nasional" Timor, mendukung
> aksi kekerasan militer di Timor Timur, dan sebagainya. Yang setelah
> situasi politik berubah, sikapnya juga berubah 180 derajat,: menentang
> semuanya. Anda tidak percaya kalau Amien dulu pendukung dwi fungsi
> ABRI, mobil Timor, dan sebagainya itu? Saya akan membeberkan
> bukti-bukti yang berupa tulisan-tulisannya tentang itu, di posting saya
> yang lain. ***
>
>
>
> Salam
> Lion
>
> ------------------------------------------------------------
> This e-mail has been sent to you courtesy of OperaMail, a
> free web-based service from Opera Software, makers of
> the award-winning Web Browser - http://www.operasoftware.com
> ------------------------------------------------------------
>
>
> ______________________________________________________________________
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
> dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!