Di Bernas pagi ini, Muji Sutrisno menulis Logika Hitam Putih. Ia membahas masalah bangsa saat ini yang kalau tidak berhati-hati menggunakan logka akan mengulang kesalahan yang pernah dibuat dulu. Pesan yang hendak disampaikan sebenarnya pernah didiskusikan antara Bung Martin dengan Bung Phantom Stranger, yaitu mengenai sekat-sekat logika kami dan mereka yang telah dikembangkan oleh Pemerintahan Orba dimana mereka yang menentang kebijaksanaan pemerintah dianggap sebagai penentang pembangunan dan oleh karena itu harus dilibas meskipun mahluk itu manusia. Logika Orba yang dikotomis dikembangkan dari logika militer yaitu melindungi bangsa, negara, dan tumpah darah Indonesia dari musuh ternyata justru menimbulkan kekerasan dan pembunuhan terhadap mereka yang mestinya dilindungi. Ini terjadi karena pemerintah, dalam hal ini Soeharto, telah menciptakan sekat-sekat itu, yaitu siapa lawan dan siapa kawan melalui penanaman logika dikotomis hitam putih. Kini, dalam SU kali ini, aroma semacam itu terasa. Kita semua telah tidak menyadari bahwa SU itu untuk kepentingan bangsa dan negara dan bukan untuk kepentingan kelompok atau golongan. Siapapun nanti yang akan menjadi pemimpin akan dan harus tercabut dari kelompoknya untuk menjadi pemimpin kelompok yang lebih besar yaitu Bangsa dan Negara Indonesia. Heterogenitas bangsa ini sangat luar biasa, dan itu terjadi secara alami sesuai dengan perkembangan peradaban bangsa dan negara ini. Oleh karena itu, logika pluralisme menurut Muji menjadi landasan bagi perwujudan negara demokrasi di Indonesia Penerapan atau Pelanggengan logika dikotomis itu hanya akan membuat bangsa ini terperosok kedalam lobang yang sama. �� (diversity within unity) ______________________________________________________________________ Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI dengan mengirim e-mail kosong ke alamat; Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
