Jacob dan Akbar. Paling asyik mengamati kedua elite politik ini. Keduanya
Batak. Tapi sikap "cool"-nya membuat mereka lebih Jawa dari yang priyayi
Yogya. Jauh dari sikap meledak-ledak horas-bah sumatera utara. Tenang ,
pelan, sabar, penuh perhitungan kalau harus melangkah.  Kalau harus
berkelit, Huh!. Bak jago Aikido atau Judo....

Saya kira PDIP telah merasakan Langkah kombinasi Master Akbar dengan cukup
telak. Sulit menutupi dengan alasan yang bisa dibuat-buat. Kenyataan yang
mloho atawa gamblang mempertontonkan, bahwa PDIP ( yang menang 30 %) plus
opini media dan publik yang dahsyatpun loyo tidak mampu mengangkat calonnya.
Guritno cuma nyaris 40 meter dibawah permukaan. Strategi ? hmmm...(smile).

Sekarang marilah kita lihat bagaimana halusnya gaya Jacob memainkan jurus
"Main Ancam". Didepan wartawan dia menegaskan : "Jika Mega tak terpilih,
gelombang massa pendukung Mega yang jumlahnya mencapai jutaan orang itu akan
marah dan menuntut terjadinya revolusi". Jika gelombang massa itu benar2
terjadi, lanjut Jacob, PDI-P akan berupaya untuk menenangkannya. " Tapi,
perlu anda pahami bahwa tidak semuanya bakal membawa hasil. Sebab, upaya
menenangkan masa tersebut akan sia-sia , karena sangat bertentangan dan
tidak mencerminkan keadilan dan kepatutan yang diinginkan oleh rakyat. Saya
tegaskan lagi. PDIP tidak menghendaki revolusi. Namun logika yang terjadi
ditengah masyarakat tentunya sangat berbeda ".

Anda bisa lihat indahnya gaya Jacob mengancam orang banyak. Bagaimana dia
mengancam masyarakat beradab. Cermati betapa manisnya dia mengganti-ganti
kata rakyat dan massa PDIP.  Semuanya itu dikemas dengan kelembutan nada
kalimat pendeta tanpa dosa.

Perhatikan bedanya bila jurus yang sama yang dimainkan koleganya Theo
Syafei. Bekas tentara Orba yang terkenal mulutnya berkelepotan kebencian
(pada Islam ) ini, mengucapkan sehari sebelumnya : " Bagi warga PDIP siap
menjadi korban. Korban berdarah-darah sudah biasa. Seribu atau duaribu warga
PDIP menjadi korban tidak masalah. Yang penting revolusi berjalan!"

Ya. Kasar dan amat vulgar. Nekad, dan preman. Apa arti nyawa rakyat bagi
orang macam ini. Apalagi bila panik melihat kegagalan yang tidak berhenti
menimpa. Dan panik kuatir kegagalan yang penghabisan, The Last Armagedon :
Njungkel-nya Mega. Mestinya kan hara-kiri ? Kok narik-narik rakyat kecil
yang tak berdosa ?

Wassalam.
Abdullah Hasan.








______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke