Memang dari dulu kalau AS.Hikam mengomentari Amien rais selalu agak miring. > ---------- > From: Yulfi Arifmen[SMTP:[EMAIL PROTECTED]] > Reply To: [EMAIL PROTECTED] > Sent: Tuesday, October 05, 1999 9:25 PM > To: '[EMAIL PROTECTED]' > Cc: > [EMAIL PROTECTED] > t.edu; [EMAIL PROTECTED] > Subject: [Sabil] Re: AS HIKAM: PROVOKATOR PDIP? > > AS = ASBUN > > > ---------- > > From: [EMAIL PROTECTED][SMTP:[EMAIL PROTECTED]] > > Reply To: [EMAIL PROTECTED] > > Sent: 05 October 1999 20:30 > > To: [EMAIL PROTECTED] > > Cc: > > > [EMAIL PROTECTED] > > t.edu; [EMAIL PROTECTED] > > Subject: [Sabil] AS HIKAM: PROVOKATOR PDIP? > > > > Melihat AS Hikam dengan emosi membela PDIP sebagai reformis dan mati2an > > menuduh Golkar sebagai Pro Status Quo saya geli juga. Apalagi dia sampai > > menuduh kemenangan Amien Rais sebagai ketua MPR sebagai kekalahan > > reformasi, karena "bekerjasama" dengan Golkar. > > > > Sesungguhnya batasan Reformis dan Pro Status Quo menurut si Hikam yang > > munafik ini sederhana saja, asal dia PDIP, maka dia adalah reformis, > > meskipun dia adalah MANTAN KETUA GOLKAR serta Konseptor Golkar yang > > menyengsarakan ummat Islam macam JACOB TOBING yang baru bergabung ke > PDIP. > > Begitu pula dengan orang2 militer macam Theo Syafei serta Sembiring > > Meliala yang tangannya berlumur darah serta ajudan Soeharto dulu, begitu > > bergabung PDIP maka mereka langsung dijadikan sebagai Ketua Partai dan > > dinobatkan sebagai REFORMIS oleh si AS Hikam ini. > > > > Sebaliknya Golkar, meski Golkar ini MENDUKUNG AGENDA REFORMASI macam > > Amandemen UUD 45 untuk membatasi jabatan presiden serta merubah agar > > presiden bisa langsung dipilih oleh rakyat, sehingga tidak ada ancam > > mengancam seperti sekaran atau money politics, maka Golkar ini langsung > > dicap sebagai Pro Status Quo. Anehnya, PDIP yang mati2an menolak agenda > > reformasi macam amandemen UUD 45 malah tetap dikukuhkan sebagai reformis > > oleh AS Hikam. > > > > Benar2 lucu, he he he... Ini pengamat politik apa badut? > > > > AS Hikam juga dengan entengnya menggunakan kata rakyat. Jika tidak > memilih > > Megawati sebagai presiden, maka berarti menentang aspirasi rakyat. Lho > > bukankah rakyat yang memilih Megawati itu cuma 33%? Mengapa gampang > sekali > > menggeneralisasi aspirasi 33% rakyat itu sebagai aspirasi SELURUH > RAKYAT? > > > > EEP Syaefullah Fatah sendiri mengkoreksi, sebenarnya ada juga 20% rakyat > > yang memilih Golkar, 11% rakyat yang memilih PDIP, 7% rakyat yang > memilih > > PAN, 2% rakyat yang memilih PBB yang jika digabung akan JAUH LEBIH BESAR > > dari suara 33% rakyat yang memilih PDIP. > > > > AS Hikam sebagaimana pengurus PDIP lainnya setengah mengancam, jika MPR > > tidak memilih Megawati, maka "Rakyat" akan mengamuk! > > > > Silahkan saja 33% rakyat itu mengamuk, insya Allah 60% RAKYAT lainnya > akan > > berjihad mengamankan mereka. Sesungguhnya massa PDIP itu kebanyakan > orang > > yang bodoh, jika pengurus PDIP yang mayoritas Kristen radikal macam Theo > > Syafei, Sabam Sirait, Alex Litaay, Jacob Nuwawea, serta CSIS (think tank > > ORBA dan sekarang jadi think tank PDIP) dengan LB Murdani diciduk > > orang2nya, niscaya massa itu kehilangan penggerak maupun dana. Selain > itu > > kelompok Kristen lain seperti Mukhtar Pakpahan dengan SBSI-nya terbukti > > terlibat dengan menyumbangkan sejumlah buruh yang didandani seperti > > mahasiswa di antara kelompok Forkot cs (dari 7 korban, cuma 1 yang > benar2 > > mahasiswa) pada demo Semanggi II yang lalu, kemudian Yorrys Raweyai, > > pentolan mafia Pemuda Pancasila diduga kuat terlibat pembantaian lebih > > dari 100 ulama di Banyuwangi serta pembantaian ummat Islam di Ambon. > > > > Sebaiknya aparat maupun ummat Islam segera mencatat alamat orang2 > tersebut > > agar segera diciduk, jika perlu dihukum mati, sebab jika mereka sudah > > nekat mengobarkan peperangan dengan mengerahkan massa, maka wajib bagi > > ummat Islam untuk membela diri melawan musuhnya. > > > > Sesungguhnya jika orang yang suka mengancam2 bisa berkuasa jadi > presiden, > > maka sungguh sengsara nasib ummat Islam. Kita sudah tahu track record > Theo > > Syafei maupun Leonardus Benny Murdani dalam membantai ummat Islam, baik > di > > kasus Tanjung Priok, maupun di Ambon sekarang. > > > > Bersediakah kita takluk di bawah ancaman mereka, sehingga rela > mengangkat > > orang2 kafir itu sebagai pemimpin kita? Ini sama saja dengan korban yang > > mengangkat jagal2 mereka sebagai pelindung. Jika itu terjadi, maka kita > > lebih bodoh dari domba. Bahkan domba yang bodoh sekalipun, tidak akan > > mengangkat serigala jadi pemimpinnya. > > > > Haruskah kita mengalami lebih banyak lagi pembantaian Tanjung Priok, > > Ambon, Lampung, dll? Hendaknya ummat Islam bersiap dengan menghubungi > > laskar Islam, maupun kantor2 cabang partai2 Islam yang ada, sehingga > jika > > PDIP benar2 mengerahkan jutaan massanya untuk mengacau, maka ummat Islam > > bisa mengatasinya. > > > > Berikut tulisan Detik.com mengenai Habibie. Meski Habibie dicap sebagai > > pro status quo, namun Habibie justru menyetujui agenda reformasi seperti > > amandemen UUD 45 untuk membatasi jabatan presiden, pemilihan presiden > dan > > gubernur langsung oleh rakyat, padahal PDIP dan Megawati sama sekali > > menolak amandemen UUD 45 tsb agar bisa berkuasa tanpa batas seperti > > Soekarno dan Soeharto. > > > > Kebebasan pers yang kita nikmati sekarang, sehingga pers bebas memaki > > Habibie sebagai pro status quo, serta anggota MPR dari PDIP bebas > > ber"huuu", maupun dengan Sidang Umum MPR maupun sidang Bank Bali secara > > langsung oleh beberapa TV Swasta jelas menunjukkan bagaimana Habibie > (suka > > atau tak suka kita harus fair mengakui hal ini) benar2 menjamin > kebebasan > > pers. > > > > Sebaliknya Megawati yang "reformis" tsb terbukti mendiamkan satgasnya > > menculik dan menyiksa sejumlah ustadz yang menyebarkan selebaran untuk > > tidak memilih partai yang didominasi non Muslim, menteror wartawan > Sabili > > di Bandung, serta menghancurkan kantor majalah Radar di Bogor karena > > pemberitaannya dianggap menjelek2an PDIP. Ini jelaskan bertolak belakang > > dgn Habibie. Belum berkuasa saja sudah sadis begitu, bagaimana jika > > berkuasa? > > > > Pilih Presiden Seperti Pilih Ketua MPR > > Presiden Habibie:So, Why Not! > > Reporter: Nurul Hidayati > > > > detikcom, Jakarta- Presiden BJ Habibie memang dikenal gampang > > diwawancarai. > > Sungguh berbeda dengan Soeharto. Senin (4/10/1999) pukul 17.50 wib, saat > > akan pulang, wartawan menjegat Habibie di halaman Istana Merdeka, > Jakarta. > > > > Di halaman Istana itulah, Habibie menjawab sejumlah pertanyaan wartawan > > sebelum kemudian memasuki mobil. Berikut petikan tanya jawab wartawan > > dengan > > Presiden BJ Habibie: > > > > Terkejut tidak Amien Rais terpilih jadi Ketua MPR? > > > > Nggak. Saya tidak mungkin terkejut lagi. Karena sudah sering terkejut, > > jadi > > sudah kebal. Tetapi yang penting ialah, saya sangat bersyukur bahwa > > demokrasi berjalan. Juga waktu saya masuk itu, orang "huu....." Gitu ya. > > Itu > > demokrasi lho. It's Okay. > > > > Jadi bagi saya, rasa plong gitu. Siapa bisa membayangkan bahwa waktu > > tanggal > > 21 Mei 1998, ribut-ribut, di sini keadaan ekonomi kita begini, > > demokrasinya > > jalan, kebebasan pers jalan, dan kita memiliki MPR dan DPR yang sah > > berdasarkan Pemilu yang luber dan jurdil. > > > > Bagaimana dengan pertanggungjawaban yang akan dimajukan? > > > > Tidak jadi soal. Saya sudah siap kok. Tidak ada masalah. > > > > Apakah Anda merasa ini sebagai bekerhasilan besar? > > > > Bukan bekerhasilan saya, tetapi keberhasilan seluruh bangsa Indonesia. > > > > Dari segi pekerjaan, mana yang paling berkesan bagi Anda? > > > > Saya merasa ini semua bukan pekerjaan saya sendiri. Saya bukan orangnya > > seperti itu. > > > > Kalau pemilihan Presiden seperti pemilihan Ketua MPR akan baguskah? > > > > So why not!. Kalau ditanya sama saya, kita harus membuat menyempurnakan > > UUD > > 45, bahwa amandemen itu ada lima kekuatan yang harus dipilih langsung. > > Pertama, Presiden harus dipilih langsung. Jadi Presiden itu langsung > > dipilih > > oleh rakyat dan karena itu tidak dibutuhkan MPR lagi yang memilih. > > > > Yang dipilih langsung lagi adalah DPR. Kemudian Utusan Daerah. Utusan > > Daerah > > itu penting untuk mencegah distorsi dalam melaksanakan pembangunan di > bumi > > Indonesia dalam arti yang luas. Bukan hanya materi. > > > > Untuk menghindari distorsi informasi, maka sebaiknya perlu ada suatu > dewan > > yang memikirkan strategi compatibility dari semua itu. Sekarang itu yang > > namanya Dewan Utusan Daerah itu seperti Senat. > > > > Seperti Senat tapi Dewan Utusan Daerah. Kalau di AS itu ada senator dari > > Alaska dua orang, senator dari California. Di sini misalnya anggota > utusan > > daerah Irja 5 orang, Jabar 5. > > > > Itu harusnya demikian kalau menurut saya. Atau sebaiknya nanti terserah > > wakil-wakil rakyat menilainya. Utusan Golongan saya rasa tidak perlu > lagi > > dan sudah disadari bahwa juga mengenai TNI, akan ada penyelesaian secara > > tahap dei tahap. > > > > Jadi yang dipilih langsung itu Utusan Daerah. jadi sudah ada tiga > > kekuatan. > > terus yang juga harus dipilih langsung adalah Gubernur dari tiap > propinsi. > > Dan yang kelima adalah DPRD juga harus dipilih langsung. > > > > Nah, sekarang, produk hukumnya dari Presiden yang dipilih langsung > adalah > > instruksi Presiden, Keputusan Presiden dan Peraturan Pemerintah. dari > DPR > > adalah UU. Sedangkan dari Dewan Utusan Daerah produknya adalah keputusan > > dan > > instruksi. > > > > Dari Gubernur produk hukumnya adalah keputusan dan instruksi Gubernur > dan > > peraturan pemerintah daerah. Dan dari DPRD dalam hal ini adalah > Peraturan > > daerah. Polisi harus menegakkan semua produk hukum itu. jadi setiap > daerah > > nanti, baik Gubernur maupun DPRD-nya jelas dipilih daerah-daderah > > masing-masing dan mencerminkan kepentingan daerah. > > > > Dan nanti, DPRD itu hanya satu. Tidak ada Tingkat II dan II. itu mereka > > semuanya tunduk pada UUD 45, produk hukum dari Presiden, produk hukum > DPR, > > Dewan Utusan Daerah dan juga Gubernur dan DPRD-nya. Jadi yang tiga > > sebelumnya itu untuk mencegah disintegrasi dan justru akan memperkuat > > persatuan dan kesatuan bangsa dalam rangka globalisasi, sehingga kita > akan > > lebih mandiri. > > > > Karena kebijaksaan adalah pada manusia itu dan ini, yang setiap kali > saya > > bilang it's very simple. Kalau kita mempunyai kerajaan, yang kaya, itu > > rajanya dan semua yang disekitarnya. Kalau kita punya diktaktor, maka > yang > > kaya itu diktaktor, dan semua yang disekitarnya. > > > > Kalau kita punya kedaulatan rakyat, di mana rakyat berdaulat dan > memikili > > kekuasaan, maka yang harus kaya adalah rakyatnya. Prinsip-prinsip inilah > > yang kita harus letakan dan sebenarnya dasarnya sudah ada. UUD 45 > jiwanya > > adalah demikian. Hanya kita belum mampu mengadakan koreksi. > > > > Kita sebenarnya juga harus bersyukur bahwa sekarang ini justru yang > hanya > > dua tahun, sebelum kita memasuki milenium III dan abad pertamanya, kita > > diberi kesempatan untuk menyempurnakan itu semua. Tetapi jiwa dari > > Mukadimah > > harus tetap dan UUD 45 harus dipelihara dan itu tidak perlu diubah. Itu > > saja > > deh. Cukup ya. > > > > http://www.detik.com/berita/199910/19991004-1905.htm > > > > Ketua Fraksi Reformasi DPR: > > PPJ Habibie Takkan Rasional > > Reporter: Irna Gustia W > > > > detikcom, Jakarta- BJ Habibie boleh saja mencalonkan diri sebagai > > presiden. > > Tapi dia harus menghadapi soal besar berkaitan dengan Pidato Pertanggung > > Jawaban (PJP) yang kemungkinan besar ditolak. Di mata fraksi Reformasi, > > PPJ > > Habibie tidak akan rasional. > > > > Hal itu diungkapkan oleh Ketua Fraksi Reformasi di DPR Hatta Rajasa pada > > pers, Senin (4/10/1999). Ia tampaknya masih dalam suasana gembira dengan > > tampilnya Amien Rais sebagai ketua MPR. Walau menjadi ketua MPR, Pak > > Amien > > akan tetap mempertanyakan soal KKN Soeharto. Dan itu soal yang paling > > berat, kata Hatta. > > > > Menurut dia, bisa saja dalam PPJ nanti Habibie memberikan alasan yang > > cukup > > bagus. Tapi menurut Hatta, dirinya tak yakin. Saya pikir tidak akan > bisa > > rasional [PPJ itu]. Sebab kalau rasional itu kan harus diikuti dengan > > fakta. > > Faktanya pemerintahan Habibie tak pernah membawa kasus KKN Soeharto > sampai > > ke pengadilan, tegas Hatta. > > > > Lelaki energik yang berambut perak itu menjelaskan, bahwa dalam TAP MPR > No > > XI/1998 sudah jelas diamanatkan bahwa soal KKN Soeharto harus > > diselesaikan. > > Nyatanya, sampai dengan masa pemerintahannya hampir habis, Habibie tak > > pernah menyentuh Soeharto. Meski pejabat kejaksaan agung sudah banyak > yang > > dikorbankan. Jadi memang agak berat laporan pertanggungjawaban Habibie > > untuk diterima di SU MPR, tegasnya. > > > > Apakah soal KKN saja yang mengganjal? Menurut Hatta tak cuma itu. > Masalah > > lain yang mengganjal adalah soal Aceh, Bank Bali, serta Timtim. Tapi > yang > > paling krusial bagi PAN adalah KKN Soeharto, katanya. > > > > Selain itu menurut Hatta, PAN juga akan memberikan empat butir masalah > > dalam > > amandemen UUD 45. Terutama menyangkut pembatasan kekuasaan presiden dua > > kali, serta soal pemberdayaan lembaga tinggi negara seperti MA, BPK, dan > > DPA. > > > > http://www.detik.com/berita/199910/19991004-1735.htm > > > > > > > > > > > > > > > > --------------------------------------------------- > > Get free personalized email at http://www.iname.com > > > > ------------------------------------------------------------------------ > > Muslim di Ambon dan Aceh menderita. Anda bisa memberitahukan kepada > > dunia derita saudara kita dalam bahasa Inggris dgn bergabung ke milis > > tasnim (e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]) > > Anda bisa mengirim terjemahan, baik penuh maupun summary (3-4 kalimat) > > ke: [EMAIL PROTECTED] agar bisa didistribusikan ke media massa Islam. > > > > > > ------------------------------------------------------------------------ > Muslim di Ambon dan Aceh menderita. Anda bisa memberitahukan kepada > dunia derita saudara kita dalam bahasa Inggris dgn bergabung ke milis > tasnim (e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]) > Anda bisa mengirim terjemahan, baik penuh maupun summary (3-4 kalimat) > ke: [EMAIL PROTECTED] agar bisa didistribusikan ke media massa Islam. > > ______________________________________________________________________ Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI dengan mengirim e-mail kosong ke alamat; Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
