Agar seimbang informasinya maka saya meng copy sebuah posting di
milis BPPT:
Saya forwardkan ke forum, saran yang baik dari Pak (?) Dwi
Septya, agar semua anggota dapat mengikuti dan mungkin menambah
masukkan dalam rangka revitalisasi BPPT kita ini. Terima kasih.
Assalamu'alaikum wr. wb.
Saya rasa seharusnya bagian personalia bekerjasama dengan bagian
ortala BPPT yang mengurusi masalah ini. Lagipula sudah ada bagian
administrasi yang baru direvitalisasi dan didudukkan di bawah
Waka BPPT langsung, jadi kalo ini berfungsi tentunya revitalisasi
di BPPT akan berjalan dengan baik. Saran-saran: 1. Step awal
adalah menginventarisir: -semua SDM yang ada, -dana-dana yang
tersedia dan fasilitas yang ada, -semua kegiatan yang sedang dan
akan berjalan, -organisasi yang ada atau sistem yang berlaku. 2.
Setelah itu penataan kembali
melalui: -analisa, -evaluasi, -klasifikasi yang baik dan yang
tidak atau kurang baik, -penataan kembali. 3. Akhirnya
dilakukan: -perumusan hasil dan kesimpulan, -familiarisasi dari
revitalisasi yang akan dicanangkan, -analisa program
revitalisasi, -evaluasi program revitalisasi, -Kesimpulan atau
penilaian berhasil atau tidaknya revitalisasi, 4. Kalau 'ya'
berhasil diteruskan, kalau 'tidak' dilakukan lagi penelitian
mulai dari klasifikasi, analisa, evaluasi sampai dengan
kesimpulan. Tapi terlepas dari itu semua sebenarnya yang paling
berperan disini dalam apapun namanya baik revitalisasi ataupun
reformasi adalah diri kita sendiri, mental dari tiap-tiap pribadi
yang menjadi bahan untuk membangun. Bangunan akan baik dan kuat
kalau bahannya baik apalagi ditambah dengan cara membangunnya
yang baik. Sekian dari saya, mudah-mudahan ini dapat membantu,
insyaallah. Wassalam. wr. wb
----- Original Message -----
From: julia.jean-paul <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: 30 October 1999 05:38
Subject: [Kuli Tinta] Membedah Demokrasi Ala Wisnu
Adalah seorang karyawan badan riset teknologi berskala nasional
yang menggunakan jam2 kerjanya utk menelusuri berbagai milis dan
memberikan komentar2 yg kalau diperhatikan thema utamanya:
GANYANG PDIP! Setiap tindakan PDIP dikecam dalam usahanya - yg
menurut dia- utk bersifat konsisten. Kalau ditelusuri lebih
seksama, semuanya bermuara kepada dendam kesumatnya terhadap
beberapa caleg PDIP yg non Islam. Kepada mereka emosinya
disalurkan secara meluap-luap. Tapi bukan itu saja Megawati
dan keluarganya juga dikritik habis2an. Tindakan PDIP dikecam
tak demokratis.
Sewaktu membaca Gatra edisi terakhir tentang Kerugian yg dialami
Bali, Solo dan Jakarta akibat kerusuhan sewaktu pemilihan
presiden, dia buru2 berkomentar spt ini :> Pagi ini, saya baca
berita bahwa Mega menghendaki kerugian itu ditanggung
oleh negara. Sedih hati saya. Kok enak banget ya. Massa PDI-P
yang berbuat kerusakan, kita semua yang disuruh menanggung
akibatnya. Apa lain kali kita hancurkan saja semuanya supaya
kita bangkrut bareng2? ( Mari Kita Bikin Bangkrut Negara
Ini; dimuat di Apakabar, Kuli Tinta dan UGM-Club, 26 Okt'99).
Saya tanya lagi dia, apakah dia sadar nggak kalo dia sebenarnya
SUDAH DAN SEDANG bikin bangkrut negara, dimana waktu kerjanya
tidak digunakan secara maksimal, sedangkan negara membayar dia
untuk itu. (posting di 3 milis yg sama)
Saya tunggu komentarnya, tdk muncul. Postingan dia yg lain
juga mereda. Saya mulai senang karena menyangka dia sudah
sadar, sudah bekerja maksimal, sudah tidak menggunakan fasilitas
kantor untuk memberikan kecaman2 provokatif lagi.
Harapan saya ternyata tak menjadi kenyataan. Dia ternyata
beraksi lagi. Komentar dia ketika disentil sepak terjangnya
menggunakan fasilitas kantor pada jam kerja sbb.
WAM:
Cara hipokrit untuk mengritik orang adalah dengan menggunakan
hotmail, yahoo dan free account lain. Dengan demikian, mereka
tidak
diketahui dengan jelas asal muasalnya. Saya, setidaknya telah
berusaha jujur dengan menggunakan account yang bisa dilacak
keberadaanya. Nama asli saya terpampang. Tempat kerja saya jelas.
Sedangkan anda? Siapa yang tahu kalau anda juga memakai
fasilitas kantor anda?
Ada lagi komentarnya mengenai demokrasi.
WAM :
Berdemokrasi lah dengan benar. Maka, saya nggak punya alasan lagi
untuk
menulis seperti apa yang saya tulis selama ini. Kalau Jacob
Tobing,
Aberson dan Pius Lustrilanang (yang jelas mereka bukan orang
Islam)
mengancam2 seperti kemarin, apa saya mesti diam saja?
Dan juga yg ini
WAM:
Yang jelas, makin kebangeten feodalnya PDI-P, makin banyak orang
yang akan
membongkarnya. Jadi, angkat saja semua keluarga Sukarno
(keponakan, cucu,
mantu dsb) supaya lain kali bisa kita maki2.
(Ketiga cuplikan komentar itu dimuat di milis Kuli Tinta tgl 28
& 29 Okt'99.)
Dan apa komentarnya terhadap pertanyaan saya mengenai
kegiatannya bikin bangkrut negara ? Nothing, not even one word
! Dia hanya meralat bahwa bukan pendapat Mega agar kerugian
kerusuhan ditanggung negara, tetapi adalah pendapat Kaban dari
Partai Bulan Bintang. Dia juga sampaikan bahwa kesalahan
mencantumkan nama Mega karena dia buru- buru waktu baca berita
tsb.
Melihat sikapnya yg suka berkelit dan masih saja dengan lagu
lama, saya tergerak untuk membedah komentar2nya. Ternyata dia
suka membiarkan orang lain atau katakanlah 'lawannya' untuk
melakukan sesuatu yg melenceng agar dia punya alasan utk memaki.
Ternyata Dia lebih suka menghabiskan jam2 produktifnya di
kantor untuk meluapkan emosinya kepada orang2 yang belum tentu
membaca kritikan dia. Ternyata dia tidak suka untuk menegur
langsung ybs agar kalau memang mereka keliru, mereka bisa
memperbaiki diri. Ternyata dendam kesumatnya kepada beberapa
orang lebih disebabkan karena mereka bukan Islam. Ternyata dia
sangat terburu buru memberikan komentar, apa yg terbaca
mengenai lawan langsung dikritik tanpa cek dan rechek
kebenarannya, ataupun mungkin kesalahan berita hanya karena
salah baca. Ternyata orang lain diminta berdemokrasi dengan
benar, tapi apakah dia sendiri sudah bersikap demokratis ?
Mari kita telaah bersama. Saat orang lain sibuk bekerja, dia
sibuk ber-email ria, padahal dia dibayar full setiap bulan, sama
haknya dengan yg bekerja serius.
Katakanlah dia gunakan 1 jam perhari (pada kenyataannya pasti
lebih) maka selama sebulan (=24 hari kerja) dia menghabiskan 24
jam = 3 hari kerja (kalau 1 hari = 8 jam kerja). Tiga hari
dalam sebulan berarti 26 hari / tahun. Bayangkan, dia bisa
menerima gaji 1 bulan tanpa bekerja !
Kalau dia berkilah orang lain juga menggunakan fasilitas kantor
utk kegiatan yg sama sehingga adalah sah2 saja bagi dia untuk
meneruskan aksinya, maka itu adalah argumentasi yg keliru !
Bukankah suatu langkah perbaikan utk membangun negara ini harus
dimulai dari diri sendiri? Bukankah kesalahan besar sering
terjadi karena diabaikannya hal2 kecil ? Bayangkan kalau 100
orang saja karyawan / pegawai -dari sekian juta yg ada-
berpikiran yg sama maka akan menyebabkan beberapa tahun kita
tertinggal dari negara lain di tengah persaingan yg semakin
kompetitif ini. Dan jangan lupa, waktu yg berlalu takan
mungkin teraih kembali. Itu dari segi penggunaan waktu, belum
lagi dari konsumsi listrik untuk komputer; pulsa telepon, dll.
Kerugian utk diri sendiri ?
Ada juga! Kebencian yg terakumulasi, emosi yg terpendam
mengakibatkan tdk dapat berproduksi maksimal (karier bisa
tersendat), selain jadi darah tinggi, jantungan, susah tidur dan
serangkaian penyakit psikis lain yg bisa menggerogoti keuangan
keluarga. Betul khan ???
Saya menulis ini bukan utk mencari musuh tapi untuk membangun
dan menyadarkan baik yg disentil maupun rekan2 yg lain yg juga
melakukan tindakan yg sama. Di tengah keadaan negara yg sedang
terpuruk, mulaillah tindakan positip dari diri sendiri dalam hal2
yg terkecil sekalipun; berilah kritik yg membangun yg
disalurkan secara terarah agar kena sasaran. Adalah mudah
mengkritik orang tanpa menyadari bahwa kitapun melakukan
kesalahan ataupun kita sendiri tdk menyumbangkan sesuatu sesuai
potensi diri.
Buat mas WAM, sambut uluran persahabatan saya, saya tidak pakai
free account,
nama dan alamat saya bisa dilacak. Bila suatu waktu
berkesempatan berkunjung ke kota saya, saya akan dengan senang
hati menyediakan tempat di rumah saya untuk mas WAM dan
keluarga, termasuk transportasi utk sightseeing. Sungguh,
saya sampaikan ini dengan ketulusan hati.
Salam hangat,
JJP
P.S : Senin depan (1 Nov'99) adalah libur nasional yg disebut
"Toussaint". saya akan ber-long weekend ke luar kota. Kalau
ada sanggahan akan saya tanggapi
setelah tgl 3 Nov.
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!