Selama ini Kompas sering dianggap sebagian org sbg koran yang terlalu
santun. Bahkan ada yg mengatakan koran banci. Pola pemberitaan kompas masih
menggunakan pola orde baru, khususnya berita2 yg menyangkut SARA. Dlm
berita2 Maluku, Halmahera, dan terakhir Mataram, Kompas selalu menyamarkan
spefisikasi kasus dlm berita dng selalu menggunakan kalimat "kelompok
tertentu", "rumah ibadah tertentu" dll. Penyamaran seperti ini malah akan
bisa memperkeruh suasana dng dimafaatkan o/ kelompok yg tak bertanggung
jawab u/ memanipulasinya. Lebih baik disebutkan apa adanya, asalkan
beritanya obyektif, dan seimbang. Ambil berita dari beberapa pihak yg
berbeda. Jangan hanya satu sumber. Terutama jika hanya bisa mengutip berita
dari satu sumber saja, sebaiknya berhati-hati. Sebab riskan dng
subyektifitas. Lbh baik kalau wartawan2-nya bisa liput langsung dari kedua
pihak yg berbeda.
Aksi Perusakan Rumah Warga di Mataram Kian Meluas
Aksi perusakan dan pembakaran rumah milik warga tertentu hingga Selasa pagi
kian meluas bukan saja di wilayah Kodya Mataram, namun kini telah merembet
ke Kecamatan Gunungsari dan Tanjung, Lombok Barat.
Wartawan ANTARA di Mataram, Selasa melaporkan hingga kini masih terjadi
perusakan rumah dan isinya dikeluarkan kemudian dibakar, seperti di
Kecamatan Tanjung sedikitnya tiga rumah dirusak.
Hingga berita ini diturunkan toko-toko di pusat perbelanjaan baik di
Mataram, Ampenan maupun Cakranegara masih tampak lengang, karena sebagian
besar tutup, banyak siswa sekolah SD, SLTP maupun SMU dipulangkan lebih
cepat sekitar pukul 08.30 Wita.
Beberapa perkantoran juga tampak sepi baik instansi pemerintah mau pun
swasta, karena karyawannya pulang lebih awal.
Kota Mataram dan sekitarnya masih terasa mencekam, karena di beberapa
tempat sekelompok masa tidak dikenal secara tiba-tiba merusak bangunan
milik warga tertentu -- isi rumahnya dikeluarkan kemudian dihancurkan
bahkan dibakar.
Hingga Selasa pukul 10:00 Wita jumlah pengungsi mencapai 1.144 orang --
para warga yang mencari perlindungan ini ditampung di Yonif 742 Gebang
sebanyak 742 orang, Lanal Mataram (351), Lanud Rembiga (219), Makorem
162/Wira Bakti (141) dan 141 orang di tempat lainnya yang cukup aman.
Kerusuham massa yang berlangsung sejak Senin tersebut telah mengakibatkan
sedikitnya 11 tempat ibadah dirusak dan dibakar serta belasan rumah di rusak.
Isi rumah berupa sepeda motor, sepeda, barang elektronik, seperti pesawat
televisi, kulkas dikeluarkan dari rumah yang ditinggalkan pemiliknya
kemudian dibakar.
Bebaskan 15
Aksi pembakaran yang dilakukan massa kembali terjadi sekitar pukul 12:00
Wita di Jalan Wisma Seruni Mataram (NTB), Selasa.
Pembakaran tersebut terjadi setelah massa yang jumlahnya hampir seribu
orang itu berhasil membebaskan 15 orang temannya yang diamankan petugas
saat melakukan pembakaran rumah ibadah Senin (17/1).
Wartawan ANTARA melaporkan, sebanyak 15 orang yang ditahan pihak berwajib
tersebut dibebaskan setelah ada negosiasi antara Walikota Mataram, HM
Ruslan didampingi salah seorang Anggota DPRD Kodya Mataram, Abdul Hanan
dengan pihak Polda NTB.
Abdul Hanan menjelaskan kepada massa yang berasal dari tiga lingkungan,
yakni Sekarbela, Pagesangan dan Kekalik bahwa teman-teman mereka telah
dibebaskan dan sudah diserahkan melalui lurah masing-masing.
Setelah itu massa yang sebagian besar membawa sejata tajam tersebut kembali
ke arah selatan. Di Jalan Wisma Seruni terdapat pemukiman baru dan
diketahui salah satunya adalah rumah pemeluk salah satu agama.
Massa menyerbu masuk ke rumah tersebut kemudian mengeluarkan isi rumah
tersebut dan membakarnya di tengah jalan. Dalam aksi ini tidak ada korban
jiwa karena rumah tersebut telah dikosongkan pemiliknya.
Ketika akan berpindah ke rumah yang lain puluhan aparat dari Brimob dan
Marinir mengejar massa sambil melepaskan tembakan.
Mendengar tembakan tersebut massa lari pontang panting dan sementara aparat
terus mendesak hingga massa bubar.
Kepulan asap yang berasal dari sejumlah toko yang dibakar di Ampenan masih
terlihat hingga Selasa siang dan massa masih tampak bergerombol di
jalan-jalan.
Pusat-pusat perbelanjaan baik pasar tradisional, swalayan dan pertokoan
masih tutup dan nampak sejumlah aparat berjaga-jaga pada setiap sudut pusat
perdagangan tersebut.
Sedangkan anak-anak sekolah mulai dari SD, SLTP hingga SMU dipulangkan
lebih awal bahkan ada yang tidak masuk sekolah.
Gubernur NTB bantu
Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Drs H Harun Al Rasjid Msi menyatakan
akan membantu para pengungsi ke Bali.
"Pemerintah Daerah akan membantu," katanya ketika meninjau para pengungsi
didampingi Kapolda NTB Kolonel Pol Drs Sukandri di Mapolda NTB, Selasa.
Para pengungsi, kata Harun, akan disiapkan makanan, sehingga tidak perlu
khawatir.
Jumlah pengungsi akibat kerusuhan yang melanda Mataram sejak Senin tercatat
sekitar 1.144 orang yang terpencar di Mapolda NTB, Lanal Mataram dan Lanud
serta tempat-tempat lain.
Gubernur Harun pada kesempatan itu mengimbau sekaligus mengajak tokoh-tokoh
agama atau Tuan Guru serta tokoh masyarakat untuk ikut menenangkan massa.
Laporan yang diterima ANTARA dari lapangan menyebutkan sudah cukup banyak
warga yang mengungsi ke Bali baik melalui jalur darat kemudian menyeberang
dari Pelabuhan Lembar ke Padangbai (Bali) maupun lewat jalur udara.
Suasana di kota Mataram hingga Selasa siang masih lengang, dan secara
keseluruhan sudah bisa dikendalikan oleh pihak keamanan setempat.
-=== FREE Handphone @ http://www.indoglobal.com/dedicated.php3 ===-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!