Saya setuju dengan pendapat Ibu Daniel ini, yaitu menggunakan klasikfikasi berandalan yang kebetulan beragama "A" atau bandit-bandit yang kebetulan beragama "B". Orang-orang ini biasanya mampu menggerakkan orang-orang yang rendah kadar intelektualitas-nya jarang pakai logika, hanya slogan-slogan, atau dogma-dogma saja. Mereka ini orang-orang yang akan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Biasanya mereka (geng A dan geng B) ini bisa memobilisasi orang-orang yang ingin mencari jalan pintas ke Syurga (jadi martir atau syahid) yang memang hampir semua agama memang punya konsep ini. Orang-orang ini pingin potong jalan ke Syurga dengan membela Tuhan (siapa mereka mau bela Tuhan???, Tuhan seperti apa yang mau di bela???). Kelompok pikiran cupet seperti ini bukan menjadikan agama sebagai sarana untuk mampu hidup bersama dan saling memberi manfaat. Seharusnya konsep ini (Jihad & Martyr), yang menjanjikan syurga memang sangat bagus, yaitu menjadikan orang-orang yang berani memutus rantai kejahatan dengan mengahadapi resiko apapun, tetapi tentunya juga harus diiring akal sehat. Orang-orang (para syuhada & martyr) ini semacam antibiotik dalam masyarakat yang mampu menggilas para bandit (bisa juga penguasa) yang merugikan rakyat banyak. Kelompok ini sangat diperlukan buat cuci darah agar kolesterol masyarakat sejenis Pak Ogah bisa diturunkan kadarnya. Kita memang perlu manusia-manusia jenis ini (bahkan seharusnya kita semua bersedia menjadi salah seorang dari mereka, tergantung panggilan). Mereka inilah perekat masyarakat dan pelindung kita dari manusia-manusia serakah yang akan memperbudak kita. Kalau mau jihad, atau jadi martyr, maka yang lebih baik bukan ke Ambon, tetapi ke rumah-rumah para provokatornya yang kita semua tahu siapa mereka. Lha, kalau sama-sama matinya kan lebih baik di Jakarta saja. Provokator ini kan gerombolan para bandit koruptor yang sampai hari ini (sudah 2 tahun reformasi) belum ada satupun yang diadili. Mereka, para bandit ini, satu sama lain saling melindungi. Dan mereka ingin terus menciptakan keonaran baru agar kita semua ketakutan dan lupa menuntut mereka. Lebih baik lagi bila mereka bisa mendapat kesempatan untuk berkuasa. Salam. Mustafa HB. Dlm hampir setiap berita ttg konflik yg merenggut ribuan korban jiwa di Maluku dan Halmahera, sering sekali ditulis dengan kelompok agama ini menyerang kelompok agama itu, atau sebaliknya. Misalnya yg ditulis juga oleh George J. Aditjondro, yg penggalannya saya kutip di bawah ini. Yg membuat saya bertanya-tanya adalah apakah org2 yg begitu sadis dalam aksinya layak disanding namanya dng beragama Islam atau Kristen? Apakah layak misalnya ditulis kelompok brandalan Nasrani, atau kelompok geng Islam, dan seterusnya itu? Kalau mereka benar2 beragama, tentu mereka tdk akan menjadi berandalan, atau bergabung dlm geng2 pembuat rusuh. Mungkin ke gereja/masjid saja tidak pernah. Mudah2-an ini hanya sbg sebutan u/ memudahkan pembedaan. Lbh baik kalau ada istilah lain yg sbg pengganti sebuatn kelompok agama bagi orang2 seperti ini. -=== FREE Handphone @ http://www.indoglobal.com/dedicated.php3 ===- Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
