On Tue, 18 Jan 2000, Edi Purwono wrote:

> Sebaiknya, kita lokalisir masalah Maluku sebatas
> Maluku, sambil mencari penyelesaian yang adil dan
> benar. Sementara, di luar Maluku, jutsru harus kita
> teguhkan rasa persatuan, dan bukan dengan cara

WAM:
Setuju banget. Pada awalnya.
Tapi, sdetelah setahun berlalu dan keadaanya lebih memburuk, malah
presiden dan wapresnya lepas tangan, apa ya masih bagus tetap diam saja?
Kok ketika kejadian Doulos kemarin presidennya begitu heroik? Padahal
nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan kejadian Maluku.

> melebarkan palagan ancur-ancuran. Aksi sejuta umat,
> boleh saja, tetapi justru diadakan dengan bergandengan
> tantan dengan semua komponen bangsa, membuat
> tanggul-tanggul yang menghalangi terjadinya luberan
> Maluku. Gandengan tangan yang kian rapat, erat, dan
> mendesak maju dalam sebuah ingkaran agar mempersempit
> Maluku, untuk pada akhirnya menjadi sebuah persatuan.
> Ini justru lebih 'bagus-banget'.

WAM:
Alsi sejuta ummat memang bagusnya diadakan dengan kalangan Nasrani, untuk
membuktikan mereka juiga tidak menyukai kejadian di maluku. Tapi, apa yang
terjadi? Mereka (sepanjang yang saya tahu) diam saja. Romo Magnis bahkan
(ketika didesak dalam acara Anteve 17/01/00) secara terselubung mengatakan
tidak mau mengusahakan perdamaian di Maluku. (Romo, maukah anda terjun ke
Maluku, jika diminta, untuk mendamaikan mereka? Jawab Romo: Apa saya
bisa?). Tadinya, saya pikir, si Romo akan menjawab: mau. 



-===  FREE Handphone @ http://www.indoglobal.com/dedicated.php3  ===-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke