Tanggapan berita Tempo Interaktif, Rabu, 3/2-00:

Kenapa 'mereka2' itu tidak pernah mau belajar dari pengalaman? Kerusuhan2
seperti itu kan ujungnya yg dibuat sengsara adalah masyarakat sendiri.
Kasihan, penduduk asli di sana pun banyak yg kehilangan mata pencaharian
yang biasanya diperoleh dari dunia turisme yang berkembang cukup pesat di
sana.

Memulihkan kepercayaan turis asing yg selama ini menjadi andalan di sana,
sangat sulit dilakukan. Soal kepercayaan sangat sulit dipulihkan.

Atau, 'mereka2' itu mmg tdk pernah perduli dng nasib rakyat pada umumnya.
Yg penting tujuan dan ambisi politik pribadi/kelompoknya tercapai. Slogan
'demi kepentingan rakyat/umat' pada akhirnya hanya berupa slogan kosong
yang bohong. Kenyaataan sekarang menjawabnya.



Bisnis Hotel Di Lombok Mati Suri

                      TEMPO Interaktif, Mataram: Akibat kerusuhan di
Mataram pertengahan
                      Januari lalu, aktivitas bisnis hotel di Lombok
megap-megap. Sudah
                      ditinggalkan gelombang turis yang mengungsi, tamu
baru pun tak berani
                      datang. Akibatnya, tingkat hunian hotel bahkan
mencapai nol. Khawatir akan
                      situasi, para General Manager (GM) hotel berbintang
yang tergabung dalam
                      kelompok Casa Grande Lombok mendatangi Gubernur NTB
Drs.H Harun Al
                      Rasyid M.Si, Kamis (3/2) untuk mencari solusi. Mereka
didampingi oleh
                      Direktur PT Pengembangan Pariwisata Lombok Drs.H Lalu
Parka Mahardan,
                      Kakanwil Deparseni NTB Jodi S Soesilo, Ketua PHRI NTB
H Ahmad, dan
                      Ketua ASITA NTB Ir.Misbah Mulyadi.

                      Dalam dialog dengan gubernur, Ketua Lombok Promo
Freddy Rompas
                      menjelaskan bahwa seandainya keadaan kosong berlanjut
hingga tiga bulan,
                      ribuan pekerja hotel dipastikan tak bisa menerima
gaji. Ribuan warga Lombok
                      yang menggantungkan nafkahnya dari berjualan di
lokasi wisata pun sudah
                      kehilangan pendapatan. 

                      "Kami betul-betul dalam keadaan krisis, kegiatan
hotel hanya 10 persen.
                      Separuh karyawan sudah dirumahkan," ujar Freddy yang
harta benda
                      pribadinya, termasuk rumah dan mobil senilai Rp.
200-an juta, musnah
                      dibakar massa. Pernyataan lebih miris dilontarkan
Ketua PHRI NTB H Ahmad
                      yang juga pemilik Hotel Sahid Legi. "Tiga bulan lagi
kami collapse," katanya.

                      Sebelumnya, mereka sudah mengupayakan koordinasi
dengan pengusaha
                      transportasi kapal cepat yang biasa mengangkut
wisatawan mancanegara
                      (wisman) dari Benoa Bali ke Lombok. Tetapi hasilnya
tak sebaik yang
                      diharapkan. Kapal Mabua hanya mampu menjaring tiga
orang penumpang,
                      sedangkan Bounty Cruises hanya dinaiki seorang.
Pesawat Merpati hanya
                      diisi TKI.

                      Untuk memulihkan kepercayaan agen wisata
internasional, GM Novotel
                      Fabrice Garrigues mengusulkan agar diadakan acara
rujuk publik antara para
                      tuan guru (pemuka agama Islam) dengan para pemimpin
Nasrani. "Kalau
                      tidak, sulit mendatangkan mereka ke sini lagi. Ini
bukan masalah politis tetapi
                      agama. Sekitar 90 persen turis yang ke sini penganut
Kristen," jelasnya
                      kepada Harun.

                      Fabrice menambahkan bahwa citra pariwisata Lombok
yang awalnya sangat
                      baik berubah total setelah kerusuhan. "Image orang
Sasak di dunia menjadi
                      buruk. Dari hasil survei yang dilakukan para agen
wisata, bisa dijamin tidak
                      ada bisnis selama enam bulan. Pengusaha wisata besar
di Italia bahkan
                      menutup destinasi ke Lombok," ujarnya.

                      Ancaman kematian bisnis hotel di Lombok memang bukan
berita baik. Setiap
                      tahunnya, pemda NTB menerima pemasukan pajak yang
lumayan dari
                      mereka. Hotel Novotel, misalnya, setiap tahun
menyetorkan pajak Rp1,8
                      miliar. Hotel lain di kawasan utama Senggigi
menghasilkan pajak Rp 9 miliar.
                      Holiday Inn kehilangan penghasilan sejuta dolar AS
setiap tahun dari
                      perusahaan tambang PT Newmont Nusa Tenggara. Potensi
bertambahnya
                      pendapatan pun buyar karena rencana pengusaha membuka
lima hotel
                      berbintang baru di kawasan Kuta Mandalika terancam
dihentikan. "Itu
                      sebabnya, harus ada aksi nyata untuk memperbaiki
image kerukunan hidup di
                      Lombok," Fabrice menambahkan. (yan) 





- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke