Bung Andriecht,

Masih ingat ketika GD dan MW (sebelum menjadi Presiden dan Wapres)
dihujat dan dikritik habis oleh para analis dan politisi dalam hal
sikap mereka mengenai Dwi Fungsi ABRI dan posisi nya di MPR. Saya
sih juga heran menagapa hanya mereka berdua yang menjadi sasaran
padahal itu sudah disepakati di Ciganjur. Tetapi demikianlah
politik itu.

Kini, setelah GD dan MW menjadi presiden dan Widodo mengatakan
bahwa 2004 TNI cabut dari MPR maka tidak ada refleksi dari para
analis dan politisi mengenai hal itu, paling tidak yang dimuat
oleh media masa.

Dalam istilah teknis, situasi yang sedang berubah memerlukan
manajemen perubahan. Artinya, perubahan itu harus dihadapi secara
terencana dan bukan secara reaktif. Dalam hal ini, Pemerintahan GD
sedang menjalankan manajemen perubahan yang mungkin saja agak
sulit dimengerti dan dipahami.  Manajemen adalah proses dan orang
yang terlibat didalam proses sangat mungin tidak merasakan adanya
perubahan itu karena ia obyek dari perubahan itu, namun yang
mengelola proses itu tahu apakah proses perubahan tu telah
berjalan sebagaimana seharusnya atau tidak.

Sebenarnya, kalau kita mau jujur paling sedikit terhadap diri
sendiri, gelombang tuntutan perubahan yang dulu dimotori oleh mhs
itu kini sedang diwujudkan tahap demi tahap. Bahkan mungkin sekali
para mhs itu tidak membayangkan bahwa kebobrokan yang dialami oleh
bangsa ini ternyata tidak terbayangkan sebelumnya oleh mereka.
Data GAT itu hanya indikator awal sedang kasus-kasus besar yang
sedang dihadapi sekarang termasuk bromocorah di Kejagung adalah
realita maha kebobrokan itu.  Jadi, kalau mhs menyadari maka
dukungan untuk dibutuhkan untuk memberi peringatan kepada siapapun
yang berusaha untuk menghalangi usaha perwujudan tuntuan-tuntan
itu dan bukanmmalah menimbulkan masalah baru yang cenderung
counter productive.

Yang menjadi masalah adalah bahwa seakan-akan telah ada sebuah
pemahaman bahwa mendukung pemerintah berarti tidak menjaga jarak
dan tidak kritis. Lha, kalau pemerintah memberantas KKN apa tidak
boleh didukung? Bahkan ada sementara pendapat yang mengatakan
bahwa mhs sekarang tidak kritis. Lho..? Dalam hal ini, sikap
Presiden sudah sangat jelas, Demokrasi harus kita dukung demikian
pula dengan hak untuk mengeluarkan pendapat. Namun, itu bukan
berarti bebas melanggar hak-hak orang lain atau melangar
peraturan-peraturan yang telah disepakati.

salam juga.


----- Original Message -----
From: Andriecht <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: 28 February 2000 18:39
Subject: [Kuli Tinta] Akibat aksi Demo mahasisawa di Kejaksaan
Agung


Salam,

Saya heran terhadap akibat yang ditimbulkan oleh setiap aksi demo
mahasiswa, salah satu contohnya adalah aksi demo di kejaksaan
agung beberapa waktu yang lalu.

Setelah merusak pagar, menghina aparat, misu-misu,
berteriak-teriak, mendorong-dorong, bersikap brutal sedemikian
rupa hingga terjadi bentrok dengan aparat, lempar batu,
kejar-kejaran, dst.
Kemudian, segala kesalahan ditimpakan ke aparat.

Seakan "mahasiswa" kebal hukum dan dapat berbuat apa saja,
termasuk perbuatan yang merusak. Dan hebatnya lagi itu semua
dilakukan atas nama demokrasi dan rakyat,

Lucunya lagi, jaksa agung turut menyalahkan aparat keamanan yang
bertugas, sungguh susah menjadi aparat, melakukan pengamanan takut
dituduh melanggar HAM, jika tidak melakukan pengamanan dituduh
lamban dst.

Saya pikir penegakkan hukum harus dilakukan tanpa pandang bulu,
hal ini termasuk juga pada demonstran yang merusak tsb. Kenapa ya
mereka tidak di foto atau direkam, kemudian diusut dan dipanggil
ke pengadilan untuk diadili. Berani berbuat tentu harus berani
bertanggung jawab. Tujuan tidak menghalalkan segala cara.

Dan tentu saja saya yakin sang mahasiswa tersebut akan dibantu
oleh beratus-ratus rekannya yang akan berdemo pula diluar
pengadilan menuntut pembebasannya. Momen ini tentu saja akan
dimanfaatkan oleh oppurtunis politik untuk mempopulerkan dirinya,
termasuk pula puluhan pengacara "hebat" yang akan bersedia membela
secara gratis, belum lagi dukungan luar negeri yang dikaitkan
dengan segala macam urusan.

Yah, masalah politik, semakin lama semakin menjemukan, kenapa ya
semua itu berulang-ulang terus, bukankah keadaan yang damai dan
tenteram lebih melegakan dan menyenangkan,.

Demikianlah,.
Yang lagi jemu dengan segala intrik politik





- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta
www.indokado.com
-- Situs sulap pertama di Indonesia
http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!














- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke