X-URL:
http://www.suarapembaruan.com/News/2000/02/15/Editor/op02/op02.html



   SUARA PEMBARUAN DAILY 
    
_________________________________________________________________

    
Surat Terbuka untuk Presiden Gus Dur 


                          Antara Kharisma dan Realita 
                                        
   Christianto Wibisono 
    
ANALISIS 


   WashingTon DC 
    
   K arangan saya dari Washington DC mulai 9 Februari
kemarin akan 
   memakai pola Surat Terbuka untuk Presiden Gus Dur,
sebagai bagian dari 
   upaya menciptakan budaya politik transparan,
accountable, dan 
   menghindari bisik-bisik politik yang penuh
hipokrisi dan menyuburkan 
   Ken Arokisme. 
    
   Mudah-mudahan bisik-bisik yang saya teriakkan
secara terbuka ini 
   bermanfaat untuk bangsa dan negara Indonesia bila
didengar oleh 
   Presiden Gus Dur, yang sangat memerlukan masukan
objektif dan 
   komprehensif dari pelbagai pihak. 
    
   Antara Kharisma dan Realita 
    
   Presiden Gus Dur Yth, 
    
   Di Washington, New York, dan Bangkok, serta di
seluruh ibu kota dari 
   negara-negara yang mempunyai perhatian terhadap
nasib bangsa dan 
   negara Indonesia, terdapat minat yang cukup intens
untuk mengikuti 
   dwilomba politik antara Anda dengan Jenderal
Wiranto. Ini mirip 
   dwilomba catur para grandmaster yang diliput
seluruh media massa 
   internasional. 
    
   Hanya saja taruhannya bukan hadiah uang atau titel
grandmaster global, 
   melainkan nasib dari nation state Indonesia, apakah
akan mentas 
   menjadi negara demokrasi modern, atau tetap
tenggelam dalam negara 
   tradisional yang dikungkung oleh penguasa model
warok (junta militer) 
   yang tega mengeksploitasi sentimen primordial untuk
dominasi ideologi 
   fasisme dan fanatisme ekstrem. Selama dua minggu
jaringan media 
   elektronik dunia meliput langkah-langkah catur Anda
dan Wiranto dengan 
   berdebar-debar. 
    
   Saya sendiri karena sudah terbiasa dengan perubahan
iklim mendadak di 
   Washington DC dari panas gerah menjadi hujan salju
dingin, tidak 
   begitu asing dengan perubahan langkah Anda. Dari
hari pertama, kedua, 
   dan berikutnya, Anda memberi sinyal yang terkadang
berubah bagaikan 
   ramalan meteorologi yang tidak pernah tepat dan
selalu meleset. Atau 
   seperti tango, mundur selangkah untuk maju dua
langkah. 
    
   Hari Minggu 13 Maret dalam tempo 12 jam, Anda bisa
berubah dari 
   mengalah menjadi sangat desisif dalam menonaktifkan
Wiranto dan 
   menunjuk Surjadi Soedirdja sebagai Menko Polkam ad
interim, sehingga 
   banyak koran hari Senin telanjur memuat berita
keterangan pers Sekkab 
   Marsilam yang masih menyebut status quo. 
    
   Di satunet.com terpampang isu tentang kerusuhan
yang akan diledakkan 
   oleh golongan ekstrem yang memakai predikat agama
tertentu untuk 
   mendukung Wiranto. Juga diisukan, Edi Sudradjat dan
Try Sutrisno akan 
   solider sebagai sesama jenderal TNI. Semua ini
menambah kesibukan di 
   Washington DC karena mereka memang sangat
mengkhawatirkan kemungkinan 
   kombinasi duet atau perselingkuhan politik antara
kelompok militeris 
   model Saddam Hussein dan ekstrem fanatik religi. 
    
   Mereka waswas bila Indonesia sampai jatuh dalam
duet selingkuh model 
   tersebut yang menjatuhkan pemerintahan demokratis
Gus Dur - Megawati 
   yang ''divonis sekuler''. Padahal AS sudah
menempatkan Indonesia di 
   bawah pimpinan Anda sebagai satu model Raksasa
Demokrasi Baru berbasis 
   Islam yang compatible dengan Demokrasi Modern, dan
karena itu mereka 
   bersedia memberi bantuan 150 juta dolar AS. 
    
   Presiden Gus Dur yang Budiman, 
    
   Elite Washington dan seluruh negara G-8 sedang
mengikuti dengan penuh 
   harap terobosan Anda dengan International Scholars
Annual Trialogue 
   yang mengumpulkan pemuka agama Samawi di Jakarta.
Namun orang yang 
   belajar sejarah dan memantau secara empiris kritis
merasa perlu 
   mengingatkan Anda, bahwa Anda barangkali sedang
terjebak untuk 
   mengulangi kesalahan Bung Karno di masa lalu dengan
politik mercu 
   suaranya. 
    
   Secara intelektual Bung Karno memang hebat dan
mempunyai pemikiran 
   yang terkadang terlalu pagi untuk zamannya.
Misalnya the New Emerging 
   Forces melawan the Old Established Forces, adalah
suatu pemikiran yang 
   kemudian akan terkenal sebagai konflik Negara Kaya
Utara melawan 
   Negara Miskin Selatan. Tapi, ketika Bung Karno
meluncurkan konfrontasi 
   itu, ia tidak mampu mengkonsolidasikan profil
domestik dan rezim 
   nasionalnya. 
    
   Di dalam negeri Bung Karno memelihara dua macan
yang siap sa-ling 
   terkam dan saling melenyapkan satu sama lain, yaitu
TNI/AD dan PKI. Ia 
   berpidato di Sidang Umum PBB dengan judul
''Membangun Dunia yang 
   Baru''. Tapi di dalam negeri ia tidak mampu
menciptakan ekonomi 
   sosialis yang sukses, sehingga timbul kelaparan dan
kemerosotan 
   ekonomi yang buruk karena GDP yang malah menurun. 
    
   Anda memang sukses mengumpulkan para pemimpin agama
Samawi, tapi jika 
   para provokator dan anarkis serta mobpolitics, yang
telah mengacau 
   Indonesia sejak Situbondo ketika rezim Soeharto,
ingin memfitnah massa 
   NU sebagai pembakar dan perusak gereja tidak
ditahan dan dihukum 
   setimpal, maka kita sedang meluncur pada posisi
Bung Karno yang megah 
   di luar, keropos di dalam. 
    
   Sekarang ini pembantaian dan penjarahan telah
dilakukan atas nama dan 
   berlindung di balik agama, oleh oknum dan lawan
politik Anda secara 
   selingkuh, lihai dan Arokis. Seperti dulu Nero
membakar kota Roma dan 
   memfitnah orang Kristen, sekarang juga banyak orang
yang memakai agama 
   untuk membantai orang yang seiman, dengan memfitnah
orang lain. 
    
   Hitler juga membakar Reichstag dan membantai
komunis Jerman. Persis 
   seperti Soeharto yang memfitnah PKI, padahal yang
membunuh Jenderal 
   Yani cs adalah Letkol Untung, bekas anak buah
Soeharto. Karena itulah 
   Anda mengajak Ibaruri (putri DN Aidit) duduk di
samping Anda dan 
   khusus menyebut namanya di depan Presiden Jacques
Chirac, sebab 
   Prancis menghormati tradisi suaka politik yang
tuntas. Jika tidak ada 
   Prancis, dunia tidak akan mengenal Imam Khomeini
sebab Ayatollah itu 
   akan dibantai oleh rezim Shah Iran dengan Savak
yang kejam. 
    
   Presiden Gus Dur yang Polos, 
    
   Anda adalah keturunan ketiga dari KH Hasyim Ashari
dan KH Wahid 
   Hasyim. Jadi Anda termasuk dalam elite dinasti
politik Indonesia yang 
   tidak sekadar mengandalkan darah biru leluhur,
karena Anda sendiri 
   adalah cendekiawan dan negarawan dengan kualitas
dan kapabilitas 
   intelektual yang sekaligus mempunyai citra
kharismatik di mata 
   khalayak. Tapi itu juga merupakan liabilities
karena Anda bisa jadi 
   sangat dominan dan untouchables, sehingga tidak ada
yang berani 
   mengkritik seperti zaman Bung Karno dan Pak Harto.
Ketika semua orang 
   hanya menjilat waktu dibagi kekuasaan, dan mengomel
serta dicekal 
   secara politis jika melawan kedua diktator itu,
terutama sejak 1960. 
    
   Kharisma Anda barangkali membuat orang tidak berani
mengkritik, dan 
   itu memang akan berbahaya bagi bangsa ini. Tapi
kritik tanpa usulan 
   jalan keluar sudah lama menjadi alibi para elite
dan juga pembelaan 
   rezim Soeharto terhadap para oposan. Saya ingin
memberikan kritik yang 
   bersifat korektif konstruktif, sepanjang yang bisa
saya lakukan secara 
   spontan dan lugas. 
    
   Saya sangat terkejut membaca bahwa BPPN akan
mengadakan road show ke 
   Hong Kong dan Timur Tengah dengan menelan biaya Rp
1,8 triliun hanya 
   untuk mencapai target menjual aset sebesar Rp 22,8
triliun. Ini adalah 
   pengeluaran BPPN yang kedua oleh kepala yang
menggantikan kepala yang 
   lama, yang juga membayar jumlah yang setara kepada
konsultan asing. 
   Padahal PDBI dengan budget hanya jutaan rupiah,
sudah mampu 
   mengidentifikasi apa dan siapa obligor kelas
triliunan yang jumlahnya 
   hanya 30 orang. 
    
   Sebetulnya jika situasi politik tidak diganggu oleh
provokator SARA, 
   banyak investor yang bobotnya setara dengan Soros
yang akan datang 
   dengan jet pribadi. Tapi seperti biasa para
investor ini justru 
   dipingpong seperti perlakuan oknum BPPN kepada Rudy
Ramli yang memang 
   sengaja digarap untuk menguntungkan cessie paksa
Bank Bali ala EGP. 
    
   Saya menelepon Dr Amien Rais dalam rangka
menyelamatkan PAN dari 
   perpecahan, dan sempat menyatakan bahwa dengan
budget hanya 10% dari 
   yang sudah dikeluarkan BPPN, saya akan bisa
mengatur road show untuk 
   menjaring investor AS secara lebih efektif dan
produktif. Tapi dengan 
   pengeluaran budget yang belum apa-apa sudah hampir
Rp 4 trilliun oleh 
   BPPN sejak zaman Glenn Yusuf, maka memang telah
terjadi kemubaziran 
   yang luar biasa dalam mengelola aset negara secara
produktif. 
    
   Saya mengungkapkan ini sebagai masukan untuk
penghematan uang negara 
   yang tidak perlu lagi dibelanjakan untuk show yang
mewah dan megah. 
   Ibarat orang menjual rumah dan pabrik karena
bangkrut tapi dengan 
   mengundang artis dan berdansa-dansi. Tidak ada
sense of keprihatinan 
   di sini. Kantor BPPN malah lebih mewah daripada
kantor George Soros 
   yang pernah saya datangi bersama Amien Rais bulan
Maret 1999. 
    
   Mental mewah dan tidak produktif inilah yang harus
dikoreksi bersamaan 
   dengan terobosan langkah-langkah raksasa Anda
seperti Trialogue Agama 
   Samawi dan diplomasi global maraton. Anda harus
memperhatikan dan 
   mengendalikan pejabat teras Anda, agar Anda tidak
mengalami nasib yang 
   sama dengan Bung Karno. Punya gagasan besar tapi
disabot oleh bawahan 
   dan sekitar yang tidak mampu, tidak becus dan tidak
concern dengan 
   semangat juang yang Anda gariskan. 
    
   Minggu depan saya akan menulis lagi lebih panjang
soal utang dan 
   ekonomi yang memerlukan kenegarawanan Anda. Dan
yang lebih penting 
   adalah pelaksanaan di lapangan dari terobosan
kebijakan Anda yang 
   memang berbobot strategis, tapi pelaksana di
kabinet dan jajaran 
   birokrasi lamban atau barangkali memang perlu
direformasi, supaya Anda 
   sukses melaksanakan terobosan kaliber global. Tanpa
laporan objektif 
   dari lapangan saya khawatir Anda akan jadi seperti
Bung Karno dulu, 
   yang sampai di Kairo tahun 1965 masih bergaya
flamboyan dan nyaris 
   arogan. 
    
   Tapi orang mengerti bahwa ekonomi Indonesia waktu
itu sudah bangkrut. 
   Jangan sampai orang terpukau Anda mampu
mendatangkan tokoh tiga agama 
   dunia, tapi di depan hidung kita para provokator
dan anarkis yang 
   membakari tempat ibadah agama lain masih
berkeliaran bebas tanpa 
   hukuman. Jangan sampai Anda berpidato menghemat,
tapi birokrasi Anda 
   masih bermental mumpung dan business as usual
seperti bermewah model 
   zaman mark up rezim Soeharto. 
    
   Semua ini saya tulis hanya dengan pamrih, ikut
menyumbang pemikiran ke 
   arah pengentasan negara dan bangsa Indonesia dari
keterpurukan ekonomi 
   dan citra sebagai bangsa yang beradab dan modern. u




__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Talk to your friends online with Yahoo! Messenger.
http://im.yahoo.com

- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke