Terima kasih bin matur nuwun saya haturkan kepada Mbah Soel yang telah memberikan tanggapan yang begitu simpatik. Saya sangat diuntungkan dengan nama PABUSACILAT ini. Kalau saya tidak mempergunakan nama ini, mungkin saja saya tidak tercerahkan oleg gagasan dari Mbah Soel. Inilah yang menjadi tujuan postif dari mida kuli tinta tersebut. Setiap peserta dan siapapun juga yang ingin ikut dapat ngangsu kawruh kabejikan duniawi. -- + iya juga. aku mendukung pendapat kangmas pabu ngayogyakarta ini >yang sacilat bener.. hehee. wong ono sing nggak mbendho, ngapain >mesthi ngrogoh kanthong yang semakin tipis dan kering... kaya kesukaan >keluarga ku akan martabak manis... haha "bikinin yang TIPKER bang!!" Pabu S : Benr Mbah, gratisan sing marahi pintewr iku enak kock. Tetapi gratisan yang bikin rusak moral ya..harus dihindari khan begitu to Mbah ! + eh, mas pabu. dengan menyatakan diri sebagai pengagum berat GD, >nanti disebut penegak KULTUS INDIVIDU lho mas. padahal sekarang kan >jamannya democrazy. jadi dah nggak jamannya mengkultusi individu >tertentu. termasuk tak rela bila tokoh idamannya dinilai jelek itu.... Pabu S : Wah bener itu mbah... saya lupa kalau terlalu mengidolakan tokoh jadinya ya KULTUS INDIVIDU. Tetapi yang saya maksud disini yang mengagumi GD karena ide dan gagasannya itu lho. Nah karena budaya kita itu mengkait-kaitkan antara gagasan dan siapa yang mengajukan gagasan, maka ya itu tadi secara tidak sadar saya terkena sindroem kultus individu yang sudah tidak zamannya lagi. >+makanya sebaiknya mas eh.. salah, pak amien itu tetap di akademisi >saja. biar kalau ada yang nggak dukung atau sebaliknya ada yang meng- >kultuskan nggak nemen-nemen akibate.... lha guru kok mrentah. ya ancur >minah. lha tokoh wayang super waskitha, sri bathara kresna saja tidak >ngurus langsung negaranya. cukup diserahkan kepada raden padmanegara >atau setyaki kok ya. dia malah sibuk medhar hidup dan ngajar >kesejahteraan hidup buat adhik-2 misannya, para pandhawa. atau sang >kumbayana, ya milih jengkar dari atas angin madeg guru ing ngastina >rak gitu..... kaya aku juga... hahaaa... Pabu S : Saya setuju itu, kalau Pak Amin tetap di akademis. Jadi resi atau jadi brahmana yang fungsinya menempa kaum abangan itu. >+wah, kalau ada kata ABANGAN ini mak dhieg gitu perasaan-ku. sekali >lagi ini gara-gara lingkungan budaya kakek moyangku yang SUPER FEODAL, >yang beda jauh dengan persepsi budaya anak-cucu-cicit-nya. >dulu kata embah, eh, kakek... ABANGAN itu istilah untuk besi-baja >bakalan >yang sedang di-tempa oleh tukang pande, empu keris pekerja besalen >tukang bikin gamelan dsb. > >disebut abangan, karena memang warnanya jadi abang (merah). tapi dari >yang berwarna merah itu menyimpan segala potensi bentuk benda-benda >tempaan, mulai perkakas pertanian (bajak, cangkul, sabit) sampai tosan >aji (keris, pedang dan mata tombak). > >lha sekarang aku sering mengambil nasihat kakek (yang juga abangan), >dalam menyikapi penyebutan abangan untuk umat beragama oleh pihak >yang merasa telah jadi... (buka abangan lagi). maksudnya demikian. >seseorang abangan perlu atau kadang membutuhkan tempaan. ditempa >dan dibentuk oleh para empu atau seniornya yang telah merasa bukan >abangan lagi. nha hasil tempaan tergantung yang menempa kan? >adakalanya (dan kebanyakan sekarang) tempaannya itu menjadi perisai >untuk kepentingan politik. misalnya lewat aksi sejuta umat dsb. ups.. >bukan provokasi juga lho, cuman interpretasi dan interprestasi.... >haha. >semisal penempanya adalah para empu linuwih dan waskitha, niscaya >akan menjadi senjata-senjata tajam yang nggegirisi untuk membedah >kehidupan bumi seisinya ini, menjadi rahmat segala alam.... (ini >pemahamanku sebagai abangan yang mencari penempa...) Pabu S : Betul Mbah... sebagai abangan memang harus ditempa dan ditempa terus. Oleh sebab itu berbahagialah yang abangan itu, karena dengan abangannya itu ia masih dapat dibentuk menjadi perkakas yang nggegirisi. Semua tokoh politik kalau abangan tentunya ya musti mau ditempat oleh keadaan dan tuntutan masyarakat. Khan gitu ya Mbah. >jadi semakin mayoritas muslim dan semakin banyak abangannya, adalah >tantangan yang semakin berat dan kaya berkah bagi para empu dan >janggan (empu muda) untuk menempanya menjadi perkakas atau senjata >yang bermanfaat demi....(?) hahaa.... terserah kepada para penempa >sekalian, mau diisi demi bangsa, demi negara, demi amplop atau demi >douweijk ya monggo... Pabu S : Kalu toh islam menjadi mayoritas sekaligus yang abangan itu banyak, maka saya rasa ini merupakan potensi untuk mengembangkan diri. Karena yang mayoritas (abangan) itu masih lentur dan tidak mudah untuk aksi sejuta umat dan aksi solidaritas jihad untuk ambon dss, dsb, dll. Sekali lagi untuk Mbah Soel yang bijak.... Ucapan terima kasih tak terhirga saya haturkan keharibaan mbah. Semoga Mbah dan keluarga dilindungi dan diberi rahmat yang melimpah oleh Hyang Widi Wasa. nuwun, Join 18 million Eudora users by signing up for a free Eudora Web-Mail account at http://www.eudoramail.com - Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com -- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/ Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
