sungguh saya sepakat dengan postingnya mas B. Atedi. Kemampuan untuk mengelola kecerdasan emosional memang harus segera diupayakan khususnya bagi kaum intelektual yang rata-rata dimasukkan dalam kategori golongan menengah keatas. Mengapa demikian ? yaaa...karena konflik yang selam ini terjadi dan mewarnai peta refromasi indonesia, memang pada hakikatnya disebabkan oleh rendahnya kecerdasan emosional dari diri kita masing-masing. Kita tidak meragukan bahwa dikalangan menengah (termasuk yang sering bermain-main di internet) mempunyai kecerdasan intelektual yang di atas rata-rata. Akan tetapi kecerdasan intelektual ini tentunya harus diimbangi dengan kecerdasan emosional. Dengan adanya imbangan tersebut di atas, maka setiap gagasan, ide, konsep yang dikemukakan dengan kadar intelektual yang tinggi akan dinilai bukan dari siapa pemberi atau si empunya gagasan, melainkan bagaimanakah gagasan itu secara jujur diterima dan atau ditolak tanpa harus mengkaitkan dengan aspek yang nuansananya personality. Ketika saya mengajukan nama samaran PABUSACILAT yang untuk sebagian besar golongan intelektual dianggap membikin polusi telinga, maka serta merta bukan gagasan dan ide saya yang dihujat habis-habisan, misalnya tidak konseptual, tidak realistis atau tidak yang lain, melainkan serta merta dilihat dari nama tersebut yang bermakna asu bajingan. Kondisi seperti ini khan merupakan salah satu bentuk pembusukan intelektual. Oleh sebab itu, kalaupun Mas B. Atedi menggaris bawahi bahwa kita perlu menjaga tingkat kecerdasan emosional kita masing-masing, maka gagasan tersebut merupakan salah satu solusi untuk meredam koflik-konflik yang selama ini terjadi. Masyarakat bawah (grassroots) yang sementara ini dianggap belum menyadari akan pentingnya kecerdasan emosional - dan oleh sebab itu gampang menuangkan berbagai kekesalan melalui cara-cara yang distruktif, sebenarnya khan melihat sepak terjang dari kelas yang ada di atasnya (golongan mengengah ataupun elit politik. Yang memberikan hipotesis (jawaban sementara) mengenai persoalan tersebut disebabkan, adanya tradisi dari masyarakat kita yang masih bersifat paternalistik yang salah satunya adalah mencontoh dan mencari panutan dalam melakukan aktifitas kegiatan seharihari. Tentunya termasuk di bidang IPOLEKSOSBUD. Hipotesis semacam ini pernah terbukti ketika saya melakukan penelitian tentang sikap pemilih dalam menentukan pilihannya dalam PEMILU. Ini hanya sekedar contoh dan tidak dapat digeneralisir dalam melihat fenomena kekerasan yang selalu terjadi di Indonesia, dan oleh sebab itu saya sampaikan sebagai hipotesis yang sifatnya terbuka untuk diperdebatkan ddan di cari kebenarannya lebih lanjut. Dalam penelitian tersebut terungkap bahwa pola memilih yang dilakukan oleh masyarakat bawah (khususnya pedesaan di jalur PANTURA) ternyata sangat dipangaruhi oleh pola memilih dan sikap dari tokoh-tokoh masyarakat setempat. Kondisi semacam inilah yang dalam penelitian tersebut menjadi indikasi dari kemenangan Golkar dalam setiap Pemilu rezim Orba. mengapa demikian, karena tokoh-tokoh masyarakat di tingkat pedesaan telah terkooptasi oleh kekuatan Golkar, sementara bagi dua partai yang lain tidak memungkinkan untuk itu karena politik masa mengambang. Inilah contoh bagaimana masyarakat bawah sangat dipengaruhi dan mencari panutan (bapakisme) kepada tokoh-tokoh yang dia anggap sebagai orang yang pautu ditiru. Dengan demikian, kalau ternyata para intelektual (gol.menengah) yang berpotensi dipakai sebagai panutan oleh masyarakat bawah tidak mampu mengelola kecerdasan emosionalnya, maka tidaklah mengherankan jikalau masyarakat bawah gampang terprovokasi. Dan provokatornya tentunya berasal dari golongan intelektual/gol. mengengah itu sendiri. Kesimpulan seperti ini jelas tidak dapat dipergunakan untuk mengurai pata kerusuhan yang sering terjadi di bumu pertiwi, tetapi minimal dapat dipergunakan sebagai salah satu indikatornya. Pabusacilat masih pakai e-mail gratisan dan masih tetap Pabusacilat. MENANG TANPO TANDING - KALAH ORA WIRANG SUGIH TANPO BONDO - NGLURUK TANPO BOLO BAGUS TANPA RUPO GAGAH TANPA ROGO -- Join 18 million Eudora users by signing up for a free Eudora Web-Mail account at http://www.eudoramail.com - Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com -- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/ Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
