*******************************************************
Masyarakat Transparansi Indonesia
The Indonesian Society for Transparency
Jl. Ciasem I No. 1, Kebayoran Baru
Jakarta Selatan 12180
Telp: (021)724-8848 ; 724-8849
Fax : (021)724-8849
email:  [EMAIL PROTECTED]
http://www.transparansi.or.id
*******************************************************

SIARAN PERS MTI TANGGAL 21 MARET 2000
"Pengangkatan Pejabat Publik Harus Transparan dan Tidak Dipolitisasi" 

http://www.transparansi.or.id/pers/pers210300.html

Dalam Acara Seri Dialog Transparansi: 
Transparansi Pengangkatan Pejabat Publik:
Akomodasi Politik atau Profesionalisme Birokrasi
Financial Club, Graha Niaga Lt. 2 Multifunction Room, Jakarta
Jam 09.00 - 13.00 WIB

====================================================== 

SIARAN PERS MTI TANGGAL 21 MARET 2000

Rangkaian pergantian pejabat publik dewasa ini sangat menyita perhatian masyarakat. 
Elite politik baru tampil mengisi berbagai posisi strategis di Departemen atau 
Kementerian Negara. Posisi basah di Badan Usaha Milik Negara juga menjadi incaran 
kader-kader partai. "Kita harus menghindari politisasi birokrasi, terutama untuk 
jabatan karir dan profesional,karena hal itu kontraproduktif bagi masa depan 
pemerintahan," tegas Ketua MTI, Mar'ie Muhammad dalam acara tersebut, Selasa (21/3) di 
Graha Niaga, Jakarta.


Penegasan itu didukung penuh oleh Nurcholis Madjid (Yayasan Paramadina) yang tampil 
bersama Menteri Negara Pekerjaan Umum, Rozik B. Soetjipto pada sessi pertama. 


Salah satu fungsi pemerintahan yang diredefinisi adalah perubahan Departemen Pekerjaan 
Umum menjadi Kementerian Negara. Menneg PU Rozik B. Soetjipto menjelaskan telah 
menangkap misi yang diamanatkan Presiden, namun tak mudah mewujudkannya dalam realita. 
Perlu penyesuaian internal, disamping koordinasi dengan Departemen lain.


Cendekiawan Nurcholis Madjid berupaya membingkai perlunya netralitas dan 
profesionalitas birokrasi dengan tuntutan akomodasi politik yang mengemuka. "Tak adil, 
bila kita tak memberi kesempatan kepada pemain baru untuk memimpin dan mengelola 
negara," kata Nurcholis. Namun, peluang itu jangan sampai membuat pemerintah tak 
efektif dan kabinet koalisi mengalami intrik kepentingan.


Pada sessi kedua berbicara Yasril Ananta Baharuddin (Ketua Komisi I DPR), dan Pradjoto 
(pengamat ekonomi yang baru saja diangkat sebagai Anggota Komisi Ombudsman Nasional). 
Secara umum, para pembicara sepakat perlunya menghindari politisasi birokrasi, serta 
keharusan transparansi dalam proses pengangkatan dan pergantian pejabat publik. Setiap 
calon pejabat harus mengalami tes kelayakan dan diketahui masyarakat luas track 
record-nya.


Disamping menggelar Dialog Transparansi, MTI menyampaikan tanggapan umum terhadap 
keputusan pemerintah yang menetapkan Komisi Ombudsman untuk mengawasi perilaku para 
pejabat negara. MTI memandang, fungsi Ombudsman semata tak cukup. "Harus 
dikoordinasikan dengan Komisi Pemeriksa Kekayaan Pejabat Negara dan Komisi Independen 
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang diamanatkan undang-undang," ungkap Sekjen 
MTI, Erri Riyana Hardjapamekas dalam rilis resmi.


Jakarta, 21 Maret 2000

*******************************************************
Masyarakat Transparansi Indonesia
The Indonesian Society for Transparency
Jl. Ciasem I No. 1, Kebayoran Baru
Jakarta Selatan 12180
Telp: (021)724-8848 ; 724-8849
Fax : (021)724-8849
email:  [EMAIL PROTECTED]
http://www.transparansi.or.id
*******************************************************

Kirim email ke