Hari ini, mantan PM Jepang, Obuchi, meninggal dunia setelah tumbang
terkena stroke 1.5 bulan yl. Tidak ada kesedihan berarti pada rakyat
Jepang. Hanya berita TV saja yang berkali-kali ditayangkan berita
bahwa sekitar pukul 16:15 Obuchi meninggal karena sakit pada usia
62 tahun. NHK (tv pemerintah) memang menyajikan berita khusus
semacam summary perjalanan akhir Obuchi sejak sebelum tumbang
hingga tadi sore ketika dinyatakan meninggal oleh kepala RS Tokyo.

Mengikuti "sakitnya" Obuchi ini saya memperoleh pelajaran yang
sangat berarti. Diberitakan, sehari sebelum terserang stroke, Obuchi
mati-matian bekerja 6 jam nonstop, merencanakan program SUMMIT
di Okinawa (hari ini kebetulan acara itu dimulai, justru dengan berita
duka dari perencananya, yang disampaikan oleh PM penggantinya,
Mori Yoshihiro). Kemudian bagi harinya harus pula berfikir keras
menghadapi "protes" parlemen atas ucapannya yang dinilai kurang
pada tempatnya. Ucapan itu hanya sepele. Menyambut pertanyaan
kegagalan Polisi Jepang dalam menangani kasus kriminal, Obuchi
kelepasan omong "Un ga warui kamo shirenai to omoimasu kedo..."
((polisi) sedang SIAL,  mungkin...) ya hanya ucapan begitu, itu dengan
tatakrama yang sopan, telah memancing protes. (harap jangan samakan
dengan pernyataan-2 para pemimpin nasional indonesia ya!)

kerja keras berikutnya, adalah harus menghadapi protestant (kebanyakan
kaum ibu-ibu sepuh) tentang keputusan pemerintah untuk menurunkan
"usia pensiun". Dengan gayanya yang mantap dan lincah berbicara,
Obuchi berhasil mengatasi pekerjaan hari itu. Namun 5 jam menjelang
serangan stroke, Obuchi perlu 10 detik untuk menjawab pertanyaan
wartawan NHK tentang keputusan-2 dan rancana summit Okinawa.
Hal itu benar-benar tidak lazim dilakukan oleh Obuchi.

Sore (malam?) hari tanggal 1 April 2000, PM energik itu tumbang kena
stroke ketika memimpin rapat koordinasi untuk summit Okinawa.
Pagihari,
pejabat PM, Aoki, menyatakan bahwa PM Obuchi tidak dapat meneruskan
tugasnya sebagai PM karena 'cacat' stroke (itupun kalau sembuh) dengan
berkaca-kaca. Anggota kabinet yang lainnya tertunduk sebentar dan
beberapa sesenggukan, menyayangkan program Obuchi terancam kandas.
Yang menarik bagiku, menteri-2 itu serentak menyatakan "meletakkan"
jabatan agar lancar roda pemerintahan dengan pemilihan PM baru. Dan
itu pula yang membuat Jepang hanya 3 hari ditinggal sakit PM-nya,
segera mendapat PM baru (5 April 2000), MORI.

Selamat jalan Obuchi yang energik. Semoga guyonan sampeyan dengan
presiden ku (GD) beberapa waktu yang lalu menjadi bekal.... (apa bisa?
entahlah... wong faham spiritual orang jepang lain dengan kita kok).
Satu hal yangberkesan bagiku sebagai orang asing, "pada tanggal
31 Desember 1999, sampeyan memimpin semua menteri ikut
lek-lekan bukan dalam rangka senang-senang bertahun baruan,
melainkan untuk menunggu benar tidaknya ancaman millenium
bug (Y2K) untuk dunia komputer. dan tepat pukul 0:0, 1 Januari
2000, sampeyan menyampaikan pidato kenegaraan dengan isi
yang singkat: "ancaman millenium bug belum terdeteksi di jaringan
komputer kami, mudah-mudahan saudara sekalian mengalami
hal yang sama...."

wassalam,

soeloyo
-------




- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!











Kirim email ke